
...----------------...
"Hari ini Mister Danta happybesdey yah?" Febby berjalan ke arah Jesicca dan Gralind yang duduk di sofa ruang tamu bersama mereka dikarenakan Rea dan Astrid sedang ada urusan di kampus.
"Happy Birthday, Febby," ralat Jesicca mengambil ponselnya. "Lah iya, ini tanggal dua delapan, Mister lagi ultah."
"Kita gamau ngasih kejutan, terutama kamu Lind, kan kamu cencemannya, Bapak Kost," ujar Febby menaik turunkan alisnya di hadapan Gralind. "Btw kamu kemana tadi malam, nemuin Mister Danta yah?"
"Apaansih kamu Feb!" Gralind mendorong wajah Febby menjauh darinya. "Aku mana tahu kalau Pak Troy ulang tahun, aku kan masih baru."
"Iya juga sih, apa gimana kalau kita bikin tumpeng kecil-kecilan aja, nanti kita patungan deh."
Febby menatap Jesicca atas saran itu yang membuat Gralind merasa bahwa ini bukan ide yang buruk, Gralind meraih bantal sofa kemudian memeluknya. "Kalian emang punya uang, ini kan belum pay day?"
Jesicca dan Febby menelan ludah, bener juga kata Gralind, Gralind yang paham akan hal itu segera memberi ide. "Gapapa pake uang aku aja dulu, aku masih ada kok."
"Wah! Beneran, kamu anak orang kaya yah Lind?" Febby dengan mata berbinar menatap Gralind.
Gralind terkekeh pelan. "Gak kok, kebetulan aja aku hemat."
Jesicca hanya memutar bola mata sepaham dengan Gralind, jelas Jesicca tahu apa alasan Gralind memiliki dana yang cukup untuk ukuran anak kost! Dia seorang Dosen dan Pengusaha Muda.
"Yaudah, siapa yang mau belanja, aku ada kerjaan soalnya," ujar Gralind kepada keduanya. "Jadi gabisa ikut."
"Biar aku aja sama Febby," usul Jesicca membuat Febby setuju.
__ADS_1
Gralind mengangkat jempol, ia kemudian berdiri dan berjalan menuju kamarnya untuk mengambil uang, ia tampak mengambil beberapa lembar uang seratus ribu, setelah mengambil uang ia berjalan kembali menuju ruang tamu dan menyerahkan uang itu kepada Jesicca.
"Oke! Kalau gitu kita berangkat sekarang, yah takut kesiangan nanti mau jam berapa lagi," Jesicca berdiri disusul oleh Febby.
Gralind mengangguk melepaskan kepergian keduanya, kini dia hanya tinggal sendiri di kost-an, sepi tanpa siapapun, dia menghela napas, dia tidak ada agenda mengajar hari ini, sehingga Gralind bisa bersantai.
Gralind mengambil laptop di kamar kemudian berjalan menuju kolam renang, sepi, dan sejuk, dia menurunkan kakinya ke air kemudian mulai mengutak-atik laptopnya.
"Sudah lama disini?"
Gralind membuka headsetnya kemudian menatap ke arah sumber suara itu. "Om Aksa."
Aksa duduk di samping Gralind kemudian menatap Gadis itu. "Apa kabar, Nak?"
"Baik, Pa." jawab Gralind menatap laptopnya. "Papa ngapain disini?"
"Gak kok Pa, kami punya dendam yang sama kepada Tania itu, dan Papa tahu kan apa maksudku, termasuk Papa."
"Dendam kamu kepada Papa tidak pernah habis yah, jadi kamu mau menghancurkan Papa gimana lagi, Gralind," Aksa tersenyum pelan.
"Sampai Papa dan Tania hancur, sehancur-hancurnya," jelas Gralind melepaskan tangan Aksa dari kepalanya. "Papa hati-hati aja dan tunggu tanggal mainnya."
"Sampai kapan kita begini Gralind, menjalin hubungan baik, tapi kamu masih menyimpan dendam."
"Hubungan Ayah Kandung dan Anak itu sudah pasti ada, tapi dendam tetaplah dendam Papa, Dendam karena Papa penyebab hancurnya kehidupan Mama dan Ayah Abraham, dendam kepada Tania karena sudah merenggut kebahagiaan Mama, dendam kepada semuanya, andaikan Papa tidak menawarkan ide gila ke Ayah Abraham, pasti aku tidak akan lahir ke dunia dan ini tidak akan terjadi."
__ADS_1
Aksa tertunduk. "Papa memang jahat, Gralind."
"Banget, didalam cerita ini tidak ada yang benar-benar baik, bahkan Bapak Troy sekalipun atau diriku sendiri, kita semua adalah wujud dari dendam di masa lalu,' Gralind menutup laptopnya. "Papa itu badjingan, dalang dari kehancuran Bapak Troy dan dalang dari kehancuran ku, jika aku bisa memilih, aku tidak mau dilahirkan dari benih Papa!"
"Oke kalau itu mau kamu, kita akan tetap seperti ini jika kamu mau, dan Papa gak akan membiarkan harta Papa jatuh ke tangan kamu, walaupun kamu anak kandung Papa, jadi kita lihat apakah dendam kamu bisa menghancurkan papa kandung kamu sendiri?" Aksa menantang.
Gralind menaruh telunjuknya di bibir Aksa menyuruhnya diam. "Papaku tersayang tidak perlu ragu tentang aku, aku bisa selangkah lebih maju, buktinya aku bisa menghancurkan rumah tangga Tania tanpa mengotori tanganku kan, Papa pikir Papa bisa bertahan?"
Memang lucu, Aksa dan Gralind sebenarnya sudah jauh mengenal sebelum Gralind datang ke kota ini, mereka menjalin hubungan Ayah dan Anak walaupun ada dendam di hati keduanya, mereka hanya membalut perang dingin mereka dengan hubungan baik.
Gralind sudah mengatakan, jangan mempercayai apapun yang ada dalam cerita ini, karena semua bisa saja plot twist, apa yang kamu lihat tidak akan menjelaskan segalanya.
"Papa akan tunggu tanggal mainnya, Gralind."
...----------------...
Plot Twist kan?
Jadi siapa yang jahat dalam cerita ini.
Benang merahnya udah ada loh, ada yang bisa jelasin gak nih?
Intinya Gralind cuma menaruh dendam kepada dua orang, Tania dan Aksa, penyebab dari semua kehancuran hidupnya, sedangkan Troy, sejauh ini dia menaruh dendam kepada Tania dan Aksa juga.
Tapi kita gatau apa yang akan terjadi kedepannya kan? Troy juga beium jelas latar belakangnya, akan banyak plot twist, jadi saran author, jangan terlalu polos dalam membaca novel ini, karena gaada yang benar-benar baik.
__ADS_1
Jangan lupa like!