
...----------------...
Tania kini berjalan mondar mandir di ruang tamu rumah pribadinya, dia tampak memikirkan apa yang baru saja terjadi dengannya dan Gralind, membuatnya terkejut.
Gadis yang dia usir enam tahun lalu kini hadir kembali di dalam hidupnya dengan versi berbeda.
"Tania!"
Tania mengangkat kepala, Troy yang baru saja datang menghampiri Tania tampak marah dengan raut wajah yang tidak bisa dijelaskan.
"Kamu bikin ulah apalagi sih, anak-anak kost pada ngadu kalau kamu mau ngusir Gralind secara sepihak! Kamu gak bisa gitu! Kamu gak ada hak! Kost-kostan ini punya saya, gak ada secuil pun usaha dari kamu," ujar Troy menatap tajam ke arah Tania.
Tania terpojokkan, entah siapa yang melaporkan ini kepada Troy, yang jelas Tania merasa kesal sendiri saja, karena ulahnya di ketahui oleh Troy.
"Aku cuma gamau kamu terlalu dekat sama dia, Mas! Aku cemburu tahu gak!" jawab Tania dengan wajah yang gentar. "Aku tuh udah berubah demi kamu, aku udah berhenti jalan bareng teman aku, kenapa sih kamu gak bisa hargain usaha aku."
Troy mengusap wajahnya, dia menatap Tania sejenak kemudian membuang napas panjang. "Saya gak butuh Tan, yang saya butuh itu sebenarnya bercerai dari kamu, tapi beruntung banget karena saya masih menghargai Papa kamu, saya masih bisa menjadi suami kamu, kenapa saya bilang gini, soalnya saya tahu, semua usaha kamu itu palsu!"
Tania geram, dia meraih tangan Troy. "Aku serius mau berubah, bisa gak sih kita mulai dari awal, aku tuh mau belajar cinta sama kamu, Mas."
"Gak!"
"Udah dua tahun aku ngasih kamu kesempatan, aku udah bosen Tan, aku udah ada di fase jalanin rumah tangga kita yaudah jalanin aja, selesai!" lanjut Troy enggan menatap wajah Tania.
"Apa semua gara-gara Gralind!"
Troy kali ini menatap wajah Tania, Tania mendesir kasar, dia sudah muak. "Kamu di iming-imingi apa sama Gralind, dia itu cuma perempuan ja*Lang! Penggoda! Dan mau ngerebut kamu dari aku!"
PLAK! Sebuah tamparan tajam mendarat di pipi Tania hari ini, sekali lagi, untuk pertama kalinya Troy menampar Tania, karena ucapan Tania yang sudah tidak bisa di kondisikan.
"Jangan bawa-bawa orang lain dalam masalah kita, seharusnya kamu itu ngaca, apa kesalahan kamu sehingga kamu di perlakukan begini sekarang!" teriak Troy membentak Tania.
__ADS_1
Troy berjalan ke arah kamar, Tania menyusulnya, sesampainya di dalam kamar, Troy tampak mengemasi beberapa bajunya ke dalam Tas.
"Mas, kamu mau kemana?"
"Dua hari ini, saya mau tidur di hotel aja, saya capek Tan, masalah udah banyak banget ke tambahan kamu, bikin pusing, aku butuh istirahat," jawab Troy.
"Mas! Jangan! Nanti kalau Papa datang kesini kamu gak ada, gimana?" ujar Tania memohon. "Kamu jangan kekanak-kanakan begini dong, asal minggat aja."
"Nah itu!" Troy berhenti sejenak dan menunjuk Tania. "Udah lama saya nunggu kamu bilang begitu, kamu cuma takut kalau kita bercerai dan harta Papa kamu jatuh ke tangan anak Abraham kan?"
Glek.
Tania menelan ludah, dia terdiam atas tudingan dari Troy kepadanya.
"Kamu tuh emang gak cinta sama saya! Kamu cintanya sama Abraham, entah kenapa Papa kamu malah menikahkan kita dengan jaminan wasiat! Jujur aja yah Tan, saya tidak tertarik sama sekali dengan harta kamu, walaupun di wasiat itu tertulis kalau kita bercerai, harta keluarga kalian akan jatuh ke tangan anak Abraham semua, saya gak peduli, kalau kamu mungkin peduli, soalnya kamu GILA HARTA!"
"Tega kamu, Mas, ngomong gitu sama aku?"
"Kenapa gak tega?" jawab Troy selesai mengemasi baju-bajunya. "Kamu kan cuma perempuan licik yang menghalalkan segala cara untuk harta kan?"
Huek.
Tania menutup mulutnya, dia berjalan ke kamar mandi yang ada di dalam kamar, sesampainya disana, dia langsung mual-mual hebat, setelah mual, dia memilih duduk sejenak di tepi bathup sembari memegang testpack yang sudah dia periksa tadi pagi.
"Gimana ini, kalau Mas Troy tahu aku hamil dari laki-laki lain, bisa-bisa dia ceraikan aku," Tania gusar dan bimbang.
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di kamar kostnya, Gralind tampak sibuk membereskan beberapa barangnya dia acak-acak oleh Tania.
"Emang parah sih, jadi lo nampar dia? Gokil!" Suara Vinoy dibalik sambungan video call terdengar disaat Gralind tengah memasukkan bajunya ke dalam lemari.
"Yah reflek aja sih, lagipula aku udah bilang mau kibarin bendera peperangan kan, jadi itu yang aku lakukan, adil kan?" jawab Gralind duduk di tepi ranjangnya sembari menatap ke arah laptop yang menyambungkan video call mereka berdua.
__ADS_1
"Berarti dia udah tahu dong, kalau lo anaknya Om Abraham, terus dia udah tahu kalau lo juga dosen?"
"Gak! Gak ada yang tahu kalau aku dosen kecuali Jesicca, anak BEM yang aku ceritakan tempo hari, lagian itu identitas rahasiaku, lagipula aku masa mengajarnya disini sisa dua bulan lagi, jadi harus lebih cepat balas dendamnya."
"Iya juga yah, nanti lo jadwalnya bakal ke Semarang disana agak lama setahunan yah, tapi emang lo sanggup ninggalin, Bapak Kost lo itu?"
Deg! Gralind terdiam atas pertanyaan itu, apakah dia sanggup meninggalkan Troy ketika misi balas dendamnya selesai.
"Elah, aku datang kesini itu bukan untuk main-main, tapi buat balas dendam, lagipula aku dan Pak Troy cuma Friend With Benefit, just partner not Love!"
Vinoy tertawa. "Masa sih? Cuma Pak Troy loh yang lo gabisa lupain secara permanen kalau lagi amnesia, itu artinya ada ikatan kuat diantara kalian!"
"Ngawur!"
"Tapi kata Dokter Han, dia mau datang ke Makassar sini kalau lo mau jadiin Troy bahan buat nyembuhin lo dari trauma ini, gimana?"
"Maksudnya manfaatin Bapak Troy ke arah yang lain? Gak mau! Kasian tahu, Bapak Troy udah tulus bantuin aku, gak mungkin aku manfaatin dia ke arah yang lain."
"Berarti fix! Lo ga bakal bisa ninggalin Bapak Kost lo itu saat lo waktunya bakal pergi nanti."
Gralind terdiam, Vinoy hanya menghela napas. "Taruhan deh."
"Udah ah Noy!" Tut! Gralind menutup sambungan video call tersebut membuat Gralind hanya menghela napas panjang. "Gak mungkin kan aku cinta sama Pak Troy!"
"Gak mungkin!"
"Gak mungkin apa?" Gralind membalikkan badan dan dibelakangnya sudah ada Troy yang menatapnya. "Kok diam?"
Deg.
...----------------...
__ADS_1
Jangan lupa like!
Hihiwuw!