
...----------------...
Gralind berjalan melewati trotoar jalan, setelah menemui Aksa tadi, dia seharusnya ada kelas mengajar hari ini, tapi dia sengaja melewatkan itu untuk mendatangi sebuah tempat yang pernah menjadi saksi kelamnya.
Gralind menatap sebuah bangunan yang sudah tua, ia berdiri rapuh di hadapannya, tertulis sebuah papan nama "Panti Asuhan AdyaKasih"
"Sudah lama, kamu ngapain manggil saya kesini?" Gralind membalikkan badannya saat ia mendengar suara Troy. "Saya kayak gak asing sama tempat ini."
"Gimana Bu Tania, sudah selesai makan siangnya?" tanya Gralind kepada Troy, Troy mengangguk dan berjalan mengsejajarkan dirinya dengan Gralind. "Bapak gak ingat tempat ini?"
Troy mengangkat alisnya. "Hm, saya gak asing tapi saya belum terlalu ingat."
Gralind tidak menjawab, dia menatap Troy dengan wajah tegas, ia kemudian mengangkat jari kelingkingnya kepada Troy. "Janji manis?"
Troy terhenyak. "J-Janji manis?"
-
__ADS_1
"Kamu kenapa sedih, gak biasanya kamu sedih, ada apa?" Troy tersenyum kepada sosok Gadis berusia delapan belas tahun yang dia temui di Panti Asuhan Adyakasih. "Oh iya kamu bakal lulus SMA yah jadi kamu gak bakal tinggal di Panti Asuhan ini lagi."
Gadis itu menggeleng, dia menatap wajah Troy dan tersenyum. "Alin sedih, nanti kalau Alin keluar dari sini, Alin gabisa ketemu sama Bapak Troy lagi gimana?"
Troy tersenyum, dia duduk di samping gadis itu kemudian mengusap pelan kepala gadis itu. "Anak lain manggil Kakak, kamu sendiri yang manggil Bapak, nanti kalau kamu keluar dari sini, itu adalah awal baru dunia kamu, kamu harus bisa Nerima semuanya, kamu harus terbiasa mandiri."
Alin menunduk ia menyulam senyum manis tapi sedih. "Kalau suatu saat Alin sudah sukses, semoga Alin bisa ketemu lagi sama Bapak Troy."
Troy yang berusia lebih tua sepuluh tahun lebih tua dari Gadis itu hanya mengangguk, dia kemudian mengangkat kelingking. "Janji Manis?"
-
"Alin?" Troy menatap datar Gralind, dia mencoba mengingat semuanya, ternyata delapan tahun lalu, Troy pernah menjadi donatur di panti asuhan ini, karena dia merasa kasian kepada sosok Gadis bernama Alin.
Alin dititipkan di panti asuhan karena ibunya meninggal, tapi Troy tidak menyadari dahulu bahwa Alin itu adalah Gralind, sosok yang ibunya di tabrak oleh Aksa, dan Troy mengetahui semua kejadian itu.
Hanya Troy yang mampu membuat Gralind kala itu tersenyum, membuatnya bahagia, tapi sayangnya Gralind harus keluar dari panti asuhan untuk mandiri, itu adalah pertemuan terakhir Gralind dan Troy waktu itu, dan setelah itu Troy berhenti menjadi donatur disana, karena Panti Asuhan itu ditutup karena masalah perizinan.
__ADS_1
Delapan tahun berlalu, Gralind hadir di hidup Troy, dengan versi berbeda, sampai-sampai Troy tidak menyadari bahwa Gralind adalah Gadis yang dahulu dia selalu hibur.
"Jadi ini alasan kenapa hanya saya yang kamu ingat saat hujan, karena saya adalah sosok dari masa lalu kamu?"
Gralind menunduk, dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah surat pemindahan, karena batas waktu Gralind di kota ini akan berakhir. "Dua Minggu lagi aku harus pindah ke Semarang."
Gralind mendekatkan diri kepada Troy, Troy menjatuhkan air mata di wajahnya, Gralind mengusap air mata itu. "Aku sudah mengenal Bapak sejak malam kecelakaan itu, tapi Bapak baru menyadari bahwa aku adalah Gadis yang ibunya ditabrak itu sekarang, Ku kira Bapak juga bakal ingat kalau aku adalah Alin yang dulu di panti asuhan, tapi tampaknya Bapak tidak bisa mengenaliku, tapi aku bisa mengenali bapak, karena wajah bapak Troy terukir jelas dalam ingatanku."
"Saya baru mengetahui kalau gadis di malam penabrakan itu kamu setelah Abraham menceritakan semuanya kepada saya Gralind, tapi tentang Alin, saya sama sekali tidak mengetahui jika itu kamu, maafkan saya," Troy menunduk, Gralind memeluk tubuh Troy. "Jadi kamu bakal ninggalin saya?"
"Kita hanya bekerjasama untuk balas dendam Bapak, terkadang ada orang yang disatukan bukan untuk bersama," bisik Gralind. "Tapi aku janji, aku akan mengakhiri semua ini dengan balas dendam yang terindah."
...----------------...
Like yah~
Jangan lupa like~
__ADS_1