
Jam sudah menunjukkan pukul satu malam, Abraham masih berada di sofa sembari meminum kopinya, perdebatannya dengan Tania membawa Abraham setres sendiri karena Tania tidak ingin mendengarkan dirinya.
"Aku harus menemui Lidya sekarang, aku yakin dia ada kaitan dengan Bom waktu itu!" Abraham terdiam mengingat sesuatu dari masa lalunya tentang Lidya.
"Kamu gila Abraham! Kamu dan Aksa sama gilanya kalian menjual istri kalian masing-masing untuk partner Swing! Sekarang aku dan istri kamu hamil, dan aku hamil anak kamu! Bagaimana kalau Mas Aksa dan Tania tahu?" tanya Lidya yang usia menang lebih tua dari Abraham saat mereka bertemu di sebuah kafe.
Partner Swing adalah kegiatan saling menukar pasangan untuk berhubungan ranjang, Aksa dan Abraham melakukan itu karena Aksa rela membayar Abraham untuk hal ini, sehingga itu terjadi Istri Abraham mengandung anak dari Aksa yaitu Gralind.
Sedangkan Lidya mengandung anak dari Abraham. "Aku tidak peduli, kamu gugurkan saja kandungan itu!" ujar Abraham berdiri dan meninggalkan Lidya.
Semenjak saat itu Lidya tidak pernah lagi terdengar kabarnya, Abraham seolah memutus semua kronologi ceritanya dengan Lidya dan masa lalu mereka, sampai pada enam belas tahun setelah anak yang dikandung istri Abraham lahir.
Abraham kembali masuk di kehidupan Aksa melalui pernikahannya dengan Tania, tapi saat Abraham masuk, Lidya sudah lama bercerai dengan Aksa setelah dia mengugurkan kandungannya berbeda dengan istri Abraham yang mempertahankan kandungannya sehingga lahirlah Gralind.
Mengingat semua kejadian ini membuat Abraham semakin yakin, Lidya datang bukan untuk membantu saja, tapi ada niat lain. "Aku harus berbicara dengan Lidya, jika dia adalah Bom waktunya maka dia harus disingkirkan, tapi bagaimana jika kehadiran Lidya hanya pengalihannya isu dan Bom waktunya ternyata belum keluar?"
"Ah! Gralind benar-benar anak yang seharusnya lenyap sewaktu bayi saja!" Abraham berdecak kesal kemudian berjalan ke dapur untuk mengambil air minum.
-
__ADS_1
"Ah! Gara-gara Delay harusnya kita sampai disini jam sepuluh tadi, ini malah udah tengah malam baru pesawatnya landing!" protes Albar mengutak-atik ponselnya sendiri sembari membawa tasnya sedangkan Troy berjalan di sampingnya.
"Udah! Kamu jangan banyak protes, katanya kamu udah pesan hotel, yaudah sana pesan taksi," jawab Troy menepuk pundak Albar. "Emang ada Taksi jam segini?"
"Ada!" Albar berbohong, sebenarnya mereka akan dijemput oleh orang suruhan Gralind. "Kita gak jadi nginep di hotel, aku nyewa apartemen aja, lebih hemat apalagi kita bakalan lama."
"Bagus, pakai uang siapa?"
"Bang Troy," jawab Albar tanpa dosa padahal sebenarnya mereka akan datang ke apartemen tempat Gralind tinggal.
"Pinter banget, yasudah pesan taksinya, udah ngantuk nih," Albar mengangguk atas perintah itu, tak lama setelah mereka berdua menunggu, tampak sebuah mobil datang di hadapan mereka, sang supir keluar dan bertanya. "Mas Albar dan Mas Troy?"
Troy masih belum sadar akan rencana Albar dan Vinoy terhadapnya, yang dia tahu Albar tahu dan dia yang mengaturnya, setengah jam di jalan, mereka berdua tiba di sebuah apartemen yang cukup mewah dan terkenal di kota itu.
Troy yang mengantuk segera keluar dari mobil, sedangkan Albar berpura-pura menyelesaikan pembayaran taksi dan menemui petugas apartemen untuk meminta card door unit apartemen yang akan mereka tinggali.
Setelah semuanya selesai, Albar dan Troy berjalan menuju unit tersebut yang berada di lantai dua, untung saja berada di koridor pertama sehingga setelah membuka lift mereka bisa langsung sampai di depan pintu kamar.
"Ini dia, ada tiga kamar tidur sih disini, nah kamar Bang Troy disana!" ujar Albar setelah mereka berdua masuk ke dalam unit apartemen tersebut. Apartemen milik Gralind ini memiliki tiga kamar tidur, living room dan dapur yang lumayan luas.
__ADS_1
Troy yang tidak berpikir panjang, memilih berjalan ke kamar tersebut, saat Troy membuka kamar itu, kondisinya gelap, Troy meraba dinding mencari saklar lampu.
CEKLEK!
Mata Troy terbuka lebar kali ini, dia yang tadinya mengantuk terpaku pada sosok wanita yang ada di balkon kamar, wanita itu hanya memakai baju berbahan tipis dan sedikit transparan.
"Gralind?" Troy berjalan ke arah Gralind, dia berusaha menyadarkan bahwa ini ilusi tapi benar wanita dihadapannya adalah Gralind.
"Bapak Troy, selamat datang."
"Katanya kamu-" ucapan Troy terpotong saat Gralind menaruh telunjuk di bibir Troy. Gralind beralih mengalungkan tangannya di leher Troy dan mencium bibir Troy.
Sebuah ciuman yang, ciuman yang belum selesai karena Gralind kini berbisik. "Sudah kupastikan kita akan bersama, pertemuan kedua kita tidak boleh berakhir perpisahsn, janji manis?"
...----------------...
Kalian nunggu adegan apa
Astaga!!!!
__ADS_1