
"Lo udah berangkat ke Semarang?" Vinoy tampak berbicara dengan Albar melalui telepon secara diam-diam agar tidak ketahuan oleh Gralind.
"Bentar lagi pesawatnya Take-Off mungkin beberapa jam lagi aku kabarin, Vin," jawab Albar membuat Vinoy menghela napas lega.
"Gue tunggu yah kabar baiknya, maafin juga kalau semisal nanti gue gak bisa jemput, yang penting lo tahu alamatnya kan."
"Temennya Tempe."
"Hah, apa?"
"Tahu, kok, aku tahu alamatnya," jawab Albar bergurau membuat Vinoy yang sedang berdiri di balkon apartemen Gralind tampak memutar bola mata malas. "Kebiasaan, bercanda terus." jawab Vinoy.
"Gapapa bercanda mah, kalau nikahan kan beda cerita," Kalimat Albar kali ini membuat Vinoy memalu sendiri. "Bercanda, mau nikahan sama siapa coba."
"Sama gue aja, eh bercanda juga," Vinoy berusaha mencairkan suasana diantara mereka walaupun hanya melalui sambungan telepon.
"Boleh," jawab Albar tepat membuat Vinoy menelan ludah sendiri, sedikit cerita Vinoy dan Albar serta Han sebenarnya sudah lama dekat sejak Albar bergabung di koalisi Gralind saat pertama kali balas dendam.
__ADS_1
Kedekatan mereka selama dua bulan itulah yang membuat Vinoy dan Albar bisa se-akrab sekarang. "Udah ah! Kebanyakan ngomong teguhin tekad buat kesini, cepat!"
"Jangan tekad, akad aja aku siap," gurau Albar tampak terkekeh pelan walaupun tidak bisa dilihat Vinoy.
"Kecebong, udah-" Belum sempat Vinoy menghabiskan kalimatnya, tiba-tiba ponselnya ditarik oleh seseorang yang membuat Vinoy menatap ke arah orang tersebut. "Gralind?"
Gralind tidak menjawab ucapan Vinoy, dia hanya menatap layar ponsel Vinoy kemudian mematikan sambungan telepon tersebut. "Maafin gue Lind, gue gak ada maksud sumpah, gue cuma takut aja kalau-" Gralind mengangkat jarinya meminta agar Vinoy diam.
Vinoy jelas terdiam tanpa suara sekarang, dia hanya bisa menelan ludah karena Gralind sudah tahu bahwa Troy dan Albar sedang menuju ke Semarang.
"Kerja bagus, Noy."
"Yah kerja bagus, kamu bisa membawa Bapak Troy kemarin tanpa aku harus terkesan membutuhkan Bapak Troy."
"Hah? Gimana! Coba jelasin!" Vinoy tampak tertekan sekarang, dia seperti dipermainkan oleh Gralind itu sendiri. Gralind tertawa pelan kemudian berjalan masuk ke dalam kamar, dia duduk di tepi ranjang dan meriah laptopnya.
"Aku masih membutuhkan Bapak Troy, Vinoy, cerita ini masih panjang sekali," jawab Gralind pelan.
__ADS_1
"Tunggu, bukannya lo bilang kalau lo gak butuh Bapak Kost lo itu lagi?"
"Aku butuh Bapak Troy, tapi aku tidak ingin Bapak Troy tahu kalau aku bergantung padanya, aku hanya berpura-pura lemah dan kau serta Han langsung bertindak, kalian memang teman yang baik!"
"Ah! Dasar badjingan!" Vinoy menjatuhkan dirinya ke ranjang. "Lo manfaatin rasa peduli gue! Balikin kepedulian gue yang udah mati-matian cari cara supaya Bapak Kost lo itu tahu kalau lo tuh hamil, padahal gue harapin adegan itu."
"Adegan apa?" tanya Gralind menatap Vinoy yang sedang dalam keadaan telungkup.
"Adegan pertemuan kalian, terus lo kayak nolak gitu, Bapak kost lo itu usaha dan ah nikah deh, eh lo malah sengaja nunggu Bapak kost lo itu, kan ngerusak imajinasi gue dan 'pembaca' aja."
Gralind tertawa puas, dia memang hamil sekarang dan dia sudah memikirkan memanfaatkan kehamilannya untuk membawa Troy dalam rencana barunya, karena jika dia meminta sendiri kepada Troy itu tidaklah menyenangkan untuk seorang Gralind, biar Troy sendiri yang datang menyerahkan dirinya.
"Aku hanya memakainya sebentar saja, setelah itu aku lepaskan."
"Kalau Bapak Kost gak mau lepas?"
"Itu bukan salahku," jawab Gralind menatap sebuah pesan masuk di laptopnya.
__ADS_1
...----------------...
Berikan saya Like yang banyak agar saya rajin, agar novel ini bisa cepat 1M biar episodenya makin2 panjang dan kebucinan terjadi diantara kita semua. CYATTT