
...----------------...
Beberapa waktu sebelumnya.
"Ternyata, Bapak Kost lo itu adalah saksi kunci dari penabrakan nyokap lo, woah banget berita ini!" jelas Vinoy saat ia dan Gralind tersambung dalam sambungan telepon. "Tapi gue belum dapat info siapa pengendaranya."
Gralind berjalan menuju ranjangnya dengan memegang gelas berisi susu, ia meminum susu itu kemudian menaruhnya di nakas. "Aku udah tahu."
"Hah?"
"Kamu pikir kenapa aku mau hancurin Aksa juga?"
"Karena dia Ayah kandung lo dan penyebab lo lahir?" tebak Vinoy.
Gralind tertawa, sangat pelan namun dalam, Vinoy yang mendengar tawa itu menjadi takut sendiri, aura phsycopath dalam diri Gralind sangatlah nyata.
"Lo gausah ketawa kayak gitu Oneng, ngeri!" Vinoy menatap malas Gralind.
Gralind menghentikan tawanya kemudian mengikat rambutnya yang tergerai. "Kalau cuma itu alasannya kenapa aku harus capek-capek, aku sudah tahu dari awal kalau Aksa dalang dari penabrakan itu!"
"Hah! Why, kok lo tahu?"
Gralind tersenyum. "Karena aku punya orang dalam." Gralind meraih gelas susunya dan meminum kembali susu itu.
"Wait!" Vinoy menatap tajam wajah Gralind. "Om Abraham?"
"GOTCHA!" Gralind berdiri kemudian menatap dirinya di cermin. "Kamu pikir siapa yang membebaskan Ayah Abraham?"
"Oke, gue inget, Om Abraham disekap sama Om Aksa, itu info terakhir yang kita diskusikan, tapi kok lo gak info kalau udah berjalan sejauh ini?" Vinoy benar-benar tidak habis pikir.
__ADS_1
"Hanya memanimalisir Vinoy, ini semua aku lakukan untuk menjalankan semuanya dengan baik, aku tidak hanya menyembunyikan identitas tapi juga jati diriku," jawab Gralind memoles bibirnya dengan lipstik dan bedak. "Gausah disimpan pertanyaannya, ada pertanyaan lain?"
"Gue masih pusing, terus kenapa lo pernah cerita kalau Bapak Kost lo itu pernah bicara sama Om Abraham, dan Om Abraham minta kalian berhenti balas dendam."
"Itu taktik Vinoy, hanya test, mengetest apakah benar Bapak Troy berada di pihakku," Gralind merapihkan riasannya. "Kamu juga tahu kan kalau Bapak Troy punya hutang budi ke Aksa, jadi aku meminta Ayah Abraham untuk mengetest Bapak Troy, dengan menceritakan masa lalunya dan juga memintanya agar Bapak Troy mau berhenti, tapi Bapak Troy tidak mau, berarti benar Bapak Troy di pihakku kan?"
Vinoy terdiam, Gralind benar-benar diluar perkiraan, semua sikap dia seolah trauma kepada Abraham, semua sikap dia seolah takut dan trauma terhadap di hadapan Troy, hanyalah Akting semata, untuk memastikan Troy benar-benar berada di kubu-nya.
"Dan kamu tahu gak, apalagi yang aku dapat dari ini?" tanya Gralind kepada Vinoy.
"Apaan? Cerita gak lo!"
"Bapak Troy bisa mengetahui alur balas dendam ku tanpa harus ku jelaskan, dia sendiri yang merangkai alurnya, hebat kan? Menjelaskan tanpa mengotori tanganku," ujar Gralind tersenyum bangga.
"Edan nih anak, ada rahasia apalagi sih yang lo sembunyiin, kayaknya kalau udah berhadapan sama lo itu kita gabisa percaya sama apa yang di depan mata kita! Emang gila!" protes Vinoy yang merasa tertindas sebagai asisten dekat Gralind. "Lo gak libatin gue lagi."
"Ini bersifat rahasia Vinoy, Ayah Abraham sedang dalam pencarian Aksa, jadi harus benar-benar pribadi, kan aku udah cerita sekarang," Gralind meraih tasnya dan membenarkan rambutnya setelah selesai berdandan.
Gralind tertawa kecil. "Tadi aku liat Tania ngadu sama Aksa, dan Aksa lagi otw ke tempat Bapak Troy, perang lagi dimulai dan aku yakin bentar lagi Bapak Troy nelpon aku."
Vinoy memutar bola mata malas. "Si paling akting, tapi kalau cinta sama Bapak Kost bukan akting kan?'
"Hah? Kami mana ada cinta-cintaan."
"Ada, awalnya emang kerjasama eh takut kehilangan, gue yakin banget nih, gue bakal jadi orang pertama yang ngetawain lo kalau sampai jatuh cinta sama Bapak Kost lo itu," jawab Vinoy. "Gimana udah ada tanda garis dua gak?"
"Ngawur!"
"Namanya juga berharap Happy Ending, kapal gue, kapan Gralind dan Troy, cielah, kapal gak tuh!"
__ADS_1
"Makin ngawur!"
DRT! Gralind melirik ponselnya, benar ada telepon masih dari Troy, Gralind segera menaruh telunjuk di mulut bermaksud meminta Vinoy me-mute panggilan video call via laptop mereka.
Gralind mengangkat telepon dari Troy. "Halo, Bapak?"
"H-Halo, Gralind, saya ingin perubahan rencana."
"Tiba-tiba banget, ada apa?"
"Setelah membalaskan dendam kamu kepada Tania, saya bersedia ikut serta membalaskan dendam kamu kepada Om Aksa, jadi kita bisa melanjutkan ini semua."
"Yakin?"
"Saya, Yakin."
"Bukannya Om Aksa itu sudah berjasa untuk Bapak, apa alasannya," Tidak ada jawaban dari Troy. "Tidak usah dijawab, aku sudah mengetahui alasannya Bapak."
"Maksud kamu?"
"Aku sudah mengenal Bapak jauh sebelum kita bertemu sekarang, bahkan aku sudah mengenali Bapak sejak malam, Mama ku ditabrak."
"Tapi-"
"Aku akan ke tempat Bapak, see u."
Tut.
TEPAT! Gralind sudah memastikan dirinya mencuri satu point' kemenangan.
__ADS_1
...----------------...
Satu kata buat Gralind?