
"Siapa yang kamu bilang orang yang mau bantuin kita?" tanya Abraham kepada Tania saat mereka sudah sampai di apartemen milik Abraham.
Tania tidak menjawab, dia meraih ponselnya kemudian tampak menelepon seseorang, Abraham hanya duduk di sofa, menunggu Tania selesai menelepon, cukup lama sampai akhirnya Tania sudah selesai menelepon, Tania berjalan ke arah Abraham dan duduk di pangkuan Abraham.
"Sebentar lagi juga datang," jawab Tania menaruh ponsel di meja kemudian mengecup pipi Abraham, Abraham membalas ciuman itu kemudian menatap dalam Tania sebelum berujar. "Kamu yakin ini aman?" Mendapat pertanyaan seperti ini, Tania hanya mengangguk pelan.
Ting!
Tania dan Abraham mengangkat kepala bersamaan, saat mereka mendengar sebuah denting tamu di pintu apartemen tersebut. "Siapa?" tanya Abraham kepada Tania.
Tania mengulas senyum kemudian turun dari pangkuan Abraham.
"Paling sudah datang," jawab Tania. "Mas Abraham tidak akan kecewa." lanjut Tania berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu tersebut.
Saat Tania membuka pintu, Abraham masih duduk terdiam sampai ia melihat sosok yang berdiri disana mengingatkan dirinya sesuatu.
"Mama, akhirnya Mama sudah datang, Tania senang, Mama mau bantuin Tania balas dendam ke anak sialan itu, masuk Ma, kenalin ini Mas Abraham, calon suami Tania," Tania membawa wanita yang dia panggil Mama itu ke dalam apartemen dan mengenalkannya kepada Abraham.
"Lidya," ujar wanita itu menjabat tangan Abraham, Abraham membalas jabatan tangan itu. "Abraham." Dingin, Abraham bisa merasakan dinginnya tangan itu.
__ADS_1
Lidya beranjak duduk di sofa, setelah Lidya duduk, Abraham tampak kikuk sehingga dia mengajak Tania berbicara berdua di dalam kamar.
"Kamu yakin Mama kamu aman, dia bukan orang suruhan Gralind atau apakan?"
Tania mendelik. "Kamu apa-apaan sih Mas, Mamaku aja gak pernah ketemu sama Gralind, aku yakin aman."
"Kita harus hati-hati, kita gak tahu siapa Bom waktu yang sudah ditanam Gralind, bisa jadi itu Mama kamu!"
"Jadi kamu nuduh Mama aku itu, boneka Gralind?"
"B-Bukan begitu, ah susah dijelaskan," jawab Abraham, Tania tidak mau mendengar lagi, dia berjalan keluar kamar meninggalkan Abraham yang menaruh curiga kepada Lidya. "Bagaimana bisa semua masa laluku datang secara bersamaan!?" Percayalah isi kepala Abraham kini tengah was-was.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Troy dan Albar datang telat ke bandara karena seharusnya mereka datang dua jam lebih awal, tapi mereka masih sempat karena belum ketinggalan pesawat.
"Abang sudah check in dan pemeriksaan tadi, jadi kita tinggal nunggu pesawat ini take-off," Troy berjalan ke arah Albar yang sedang duduk di kursi bandara dengan kacamata hitamnya. "Ini udah malam Albar, fungsi kacamata hitam kamu tuh buat apa?
"Cari jodoh!" jawab Albar seadanya, Troy hanya menggelebg, ia yang kini memakai kaos hitam dengan tas di pundaknya menyusul Albar untuk duduk.
__ADS_1
(Btw ini foto Author cekrek pas tadi sore, cyattt!)
"Kamu yakin nih, kalau Gralind gak hamil gimana?" tanya Troy kembali ragu membuat Albar menghela napas panjang dengan ******* malas.
"Itu aja udah kena couvade syndrome, masa gak hamil! Aduh Pak Kost!" jawab Albar melepas kacamatanya.
Troy kurang yakin sebenarnya, tapi kenapa hatinya memaksa diri untuk menuntun ia ke Semarang, menyusul-
"Menyusul anak dan calon istrinya Bapak Kost," gumam Troy tersenyum tipis, saat ia selesai mengucapkan itu. Tiba-tiba hujan turun membuat Troy teringat akan Gralind.
Troy berjalan berdiri memandangi hujan yang jatuh membasahi bumi, sembari memandang sebuah foto di ponselnya.
"Hujan tuh sayang sama kamu, kalau saya ikutan saya gapapa kan?"
...----------------...
Gapapa!
Btw apa pendapat kalian tentang Lidya
__ADS_1
Cuma info aja sih kalian beberapa kali dibohongi sama alur novel ini jadi jangan terlalu percaya toh bom waktunya sendiri gatau siapa kan?