
"Kamu udah cek tamu spesial kita buat jadi tamu kehormatan di butik kita?" tanya Gralind yang membuat Vinoy bangkit dari posisinya. Vinoy bergerak meraih tab miliknya yang ada di atas nakas.
"Bu Lidya, buat cabang Semarang kan?" tanya Vinoy yang membuat Gralind mengangguk. "Kok lo kayaknya nungguin banget, ada apa nih?"
"Nanti kamu juga tahu sendiri, Bu Lidya akan datang besok, kamu siapkan hotel dan juga acara penyambutan di butik cabang sini yah, bilang sama cabang pusat di Jakarta dan cabang lainnya kalau besok off-day karena ada acara di cabang Semarang," jawab Gralind berdiri, ia berjalan ke arah balkon, dimana Vinoy juga menyusul dirinya ke balkon.
Mereka berdua menatap lurus ke pemandangan kota Semarang yang indah walau sudah malam hari.
"Berapa lama kita disini, Lind?" tanya Vinoy kepada Gralind. "Kok belum ada data tentang lo disini."
"Dua bulan juga, setelah itu kita bakal balik ke Jakarta karena tugas sudah selesai," jawab Gralind pada Vinoy.
"Yakin balik ke Jakarta, gak mau diboyong ke Denmark aja sama Bapaknya anak-anak?" tanya Vinoy menggoda Gralind. Gralind menatap malas Vinoy. "Dih, gausah malu gitu, geli liatnya."
"Tergantung."
"Tergantung apanya dulu, nih?"
__ADS_1
"Tergantung takdirnya haha! Semoga aja anak aku bisa kuat yah, kayaknya dia bakal lahir ditengah suasana balas dendam," ujar Gralind kepada Vinoy.
"Btw, nanti anaknya mau dikasih nama apa?" tanya Vinoy antuasias, Gralind langsung mendorong wajah Vinoy menjauh darinya. "Ngawur! Anaknya aja belum lahir." jawab Gralind.
"Andai-andai aja, kalau anaknya cewek apa, kalau anaknya cowok apa?" tanya Vinoy sekali lagi, Gralind diam sejenak ia melirik sekitar.
"Nah itu!" Gralind menunjuk dua buku majalah pada kursi yang ada di balkon. "Kalau cewek Natasha kalau cowok Arash."
"Heh! Seriusan ngasih nama anak dari merek majalah?" Vinoy geleng-geleng pelan.
Sementara itu di tempat lain, tampak Lidya yang baru saja menelepon seseorang sedangkan Abraham dan Tania menunggunya di sofa, setelah menelepon Lidya berjalan ke arah mereka berdua.
"Aku akan menjadi tamu undangan di acara penting butik milik Gralind di Semarang, jadi kalian boleh ikut, dan aku akan membantu kalian untuk balas dendam dengan cara-"
"Memanipulasi bisnis Gralind, hanya itu saja," Abraham memotong ucapan Lidya.
"Nah iya itu, yasudah kalau begitu kalian bisa siap-siap, besok kita akan berangkat," jawab Lidya berjalan masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Abraham dan Tania.
__ADS_1
Abraham masih belum bisa tenang sekarang, dia sangat menaruh rasa curiga yang besar kepada Lidya, pasalnya Lidya terikat hubungan bisnis dengan Gralind, dan itu tidak mungkin kebetulan.
"Kamu gak curiga sama Mama kamu itu, jangan-jangan dia Bom waktu Gralind."
"Mama aku tuh baik Mas, gak mungkin dia Bom waktu Gralind, masa dia mau hancurin aku, anaknya sendiri, kamu ngawur kamu ada masalah apa sih sama Mama aku?" tanya Tania mendelik.
"Yah Albar aja orang kepercayaan kamu bisa jadi Bom waktu!" jawab Abraham kesal sendiri karena Tania tidak mendengar ucapannya.
"Kamu akhir-akhir ini semenjak kedatangan Mama jadi aneh, aku curiga kamu ada apa-apa sama Mama."
Abraham terdiam.
...----------------...
Lidya kah Bom waktunya?
Dulu orang selalu menebak bahwa Troy bom waktunya ternyata itu pengalihan isu, lantas siapa? Tania dan Abraham tinggal nunggu karma sih, tapi masa iya Lidya tega sama anaknya atau jangan-jangan hmmm.
__ADS_1