
embun ku ingin bertutur
tentang kepedihan menanggung waktu
embun ku ingin mencurah
tentang kegundahan hati yang lemah
embun ku ingin berbagi
tentang cinta yang tak sempat terungkap
embun ku ingin bertanya
tentang keadaan apa yang diderita
walau embun tak lama
walau embun tak selamanya
walah embun kan meninggalkannya
beri! aku...
semusim tuk bertutur
aku hidup dalam dogma
politik dan negara, manakah ?
aku hidup dalam anomali
cinta dan cita, apakah ?
aku hidup menepi
rindu dan dendam yang menanti
yang mana langkah untuk ku?
ku ingin hidup
dikenang dalam hati
ku ingin bernafas
dikenang dalam romansa
tak bisakah?
setitik tetes bertaut sua ?
_________________________
"gerimis datang lagi" ucapku dan ku tadahkan telapak tangan kananku mencoba menyentuh rintikan hujan. "jendral!!!" seru seseorang berlari ke arahku dengan amplop yang dilambaikan. "ada apa tom?". "ini surat, ada kabar baik untukmu jendral" ucap tom terkekeh. ku buka surat ini dan ku cermati isinya. "bagaimana menurutmu jendral ?", "tak pernah terlintas dalam anganku tom. apa kau senang ?" tanyaku menatapnya "tentu jendral". "ya, akupun mengikuti kesenanganmu" ucapku tersenyum dan berjalan memasuki markas.
***************
hujan begitu derasnya diluar. namun, udara yang dingin juga tak membantuku untuk segera terlelap dalam tidur. Malam ini terasa gelisah, ku ambil lagi surat dari dalam laci dan ku buka kembali. ya, surat yang berisikan pembebasan dinas kerja yang juga jadi tiket emas tuk ku menghampiri tanah air, negara Sia. "ya.. aku telah meninggalkan rumahku sekian lama" gumamku, selama 15 tahun! sambung batinku. tetapi, kenapa bukan perasaan lega yang ku rasakan. melainkan hati ini berat meninggalkan negeri tulip ini, seakan bila ku mengiyakan surat ini aku hanya akan menanti dan lama menanti. namun apa ? tak satu orang pun yang tahu akan keberadaanku, juga tak ku miliki pula seorang kekasih apalagi yang mendiami hatiku disini. ku lipat kembali surat ini dan ku enyahkan segala pemikiran tak berujung ini.
***************
berjanjilah pada suatu....
__ADS_1
akan sebuah ikatan tak berupa
__________________
(aku hanya bisa memberimu ini. "terima kasih" semoga engkau dapat menjaganya. "ku coba" ku akan menanti, kapan kau datang ?) siapa kau ?!. "akh.. ternyata hanya mimpi" erangku terbangun. ku ingat-ingat lagi siapa gadis yang ku ajak bicara itu? kenapa wajahnya samar, hanya bibir yang tersenyum kecut seakan ingin menangis. siapa dia. "itu hanya bunga tidur lim" ucapku meyakinkan diriku. ku rebahkan kembali tubuhku mencoba tidur sebelum esok keberangkatanku.
************************
"selamat pagi jendral" sapa tom yang sedang berlari mengitari lapangan depan markas. sedikit terhuyung ku lambaikan tangan membalas sapaanya sambil berlalu menyebrang lapangan menuju perkebunan tulip diseberang jembatan yang terhubung dengan area pelatihan. 8 menit, akupun sampai di perkebunan, ku langkahkan kaki menuju bawah jembatan yang melintangi arus sungai yang lamban. "jendral!!! selamat pagi!!" seru john yang berlari mendekatiku. "pagi john, kau nampak begitu berenergi, tidak seperti biasanya" ucapku terheran. "sebagai pria muda seharusnya engkau paham arti dibalik kegiranganku jendral" ucap john meninju lenganku. "jendral kita bukan orang sepertimu john" seru tom yang datang disela perbincangan aku dan john. "memangnya kau telah melakukan apa john" tanyaku polos. "sebagai pria yang bertambah umur, kemarin malam dia sayangku telah menghadiahkan sebuah madu" ucap john bangga. "lantas apa hubungannya dengan arti kegiranganmu?" tanyaku tak mengerti. "oh.. ayolah jendral. padarkan pandanganmu.. wanita disini cantik-cantik dan penuh pesona" ucap john menganggap aku bergurau. "entahlah john. aku pergi dulu tom" ucapku menepuk bahu john dan tom sembari berlalu meninggalkan mereka. "oke.. aku saja yang akan menceritakan padamu jendral!" teriak john "terserah apa katamu nak!" seruku pada mereka. "wa..ni..ta" ucapku berbisik sendiri dan tersenyum memandangi kebun tulip yang menghijau.
*****************
tes.. tes.. air merembes
dalam kubangan hati yang cekung
cekungan yang menambah dalam
dan tetesan yang semakin kelam
___________________
9 pebruari 2014 tanggal kedatanganku di tanah air, negara Sia. ku tarik koperku menuju cafe di area Bandara Jing.
*******************
pov. E (wanita dalam mimpi Yue Guang Lim)
"ya ibu". "selama kau di kota B jaga dirimu". "baik ibu". ku peluk ibuku yang menatapku, matanya berkaca-kaca. aku tahu dibalik tatapannya tersirat kekhawatiran pada anak semata wayangnya yang akan pergi. bukan untuk sehari tapi bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. jika aku lolos seleksi ini, aku akan pergi ke negeri orang, tapi jika aku gagal bagaimana ku pertanggung jawabkan kepercayaan para guru dan kawanku di sekolahan.
tenggorokan ku terasa kering, sekali lirik nampak cafe yang tidak terlaluramai, "mungkin boleh mampir sebentar" ku hubungi penanggung jawab kegiatan ini melalui ponsel. sembari menelpon akupun memesan latte tanpa gula dan ku dudukan diriku di kursi dekat kaca pintu masuk. "pak Ron, saya sudah di bandara ini masih mampir sebentar di cafe. bolehkah saya menuju ke sana usai menengguk sedikit minum?, ok. baiklah sebentar saja. terima kasih" ku akhiri panggilanku dan menghela nafas. latte yang masih hangat segera ku seruput.. "ini waktumu! kau harus tenang" ucapku tersenyum meyakinkan diri sendiri.
ku padarkan pandanganku.. tepat diseberang 2 meja didepanku nampak sosok pria yang terasa tak asing bagiku. wajah yang tegas, alis tebal hitam, mata sipit tapi tatapannya tajam. "toh di dunia ini orang mengatakan bahwa bisa jadi kita punya 7 saudara kembar yang mirip. mungkin yang didepanku sekarang hanya orang lain yang mirip saja" ucapku bermonolog. ku tatap langit yang ada diluar ruangan ini, "aish... hujan rintik mengiringi keberangkatanku" keluhku sendiri dan aku kemasi barang bawaanku, membayar dan pergi menuju lokasi pak Ron.
*******************
pov.Yue Guang Lim
dia yang ada didepanku sedang menatap atau menilaiku. pandangannya yang dalam seakan menusukku, memerangkap aku hingga tak mampu berpaling. bagaimana mungkin dengan orang asing pandangannya seberani itu. sial! sudah jauh-jauh datang kesini ketemu gadis seceroboh itu. untung aku tak ambil pusing, entah masalah apa yang didapatkannya jika memandang dengan cara seperti itu pada orang lain. 'ehem..ehem...' aku berdehem untuk mengalihkan dan memberi kode bahwa itu mengganggu. ku pandang langit yang terlihat dibalik kaca luar ruangan ini, "mendung dan rintik hujan menyambut kepulanganku" ucapku bermonolog sembari keluar cafe ini mataku sekilas meliriknya siluet wajah yang tak asing, aku pun tersenyum. deg.. deg.. "apakah itu dia?" ucapku berbalik menuju cafe tadi, dia sudah pergi. "ha ha ha memang sial.." ucapku menertawakan diri sendiri, " apa yang kau harapkan pecundang! " ucapku pada pantulan bayanganku di depan kaca cafe.
*******************
pov.E
ponsel sudah ku matikan, sabuk pengaman sudah aku pasang, pesawat yang mengantarkan aku beserta teman-teman lomba sastra di kota B kami tumpangi. "hujan mengantarkan kepergianku" ucapku menatap kaca jendela. semoga ibu di rumah sehat selalu, harapku dalam batin ku pejamkan mata dan pesawat membawaku terbang menjauhi dataran.
******************
pov.Yue
"taksi!" ucapku ketika keluar ke arah transportasi. "wilayah Pecinan kota S" ucapku pada supir. ama, tin-tin, papa, Lim anak kalian pulang beserta datangnya rintik hujan, batinku.
__ADS_1
(plak!! ukh nyeri terasa di pipiku. "ama sudah ingatkan kamu berapa kali! jangan menghancurkan reputasi keluarga kita!". "aku serius ingin membina pernikahan dengannya ama" teriakku tak kalah keras. "sebelum kau sadar, papa tak akan menerimamu. ingat itu Lim". "aku secara sadar membuat keputusan ini ama, papa" ucapku pada keduanya. "kakak kau tak lagi peduli padaku?! aku benci! kakak kau egois!", "tin tin, kak Lim bukan egois, tapi kakak hanya ingin kalian menerima dia" ucapku mengalah. "penerimaan hanya diberikan pada yang tulus dan pantas. ingat itu Lim!" ucap papa. "kau kemasi semuanya! ama tak keberatan kehilangan engkau" )
20 menit kemudian...
"tuan kita sudah sampai" ucap supir taksi membuyarkan lamunanku. "terima kasih pak" ucapku sambil keluar dan membayar ongkos taksi.
tepat di depanku, sebuah rumah dengan pagar kayu berwarna merah yang entah sekian lama tidak dirawat dibiarkan reot. lampion-lampion yang sudah lama tak diganti berdebu. hanya pohon bongsai di halaman saja yang nampak rapi tumbuh. masih terawat dan menandakan rumah itu berpenghuni. nampak wanita parubaya sedang memotongi daun-daun tanaman bongsai yang mulai tak teratur.
"ama!" teriakku mendekat dan memanggilnya. "kau ? yue guang lim ?" tanyanya menyipitkan pandangan menatap diriku. "aku anakmu ama. Lim anak ama" ucapku merentangkan tangan. namun.. plak!!!!! "kau tak pantas menyandang marga keluargaku" ucapnya ketus tapi di matanya yang sayu ku lihat linangan air mata. "Lim pulang ama, Lim ingin pulang" ucapku tertunduk di bawah lulut ama.
"kapan kau ingin pulang ? ini bukan rumahmu. kau tak pantas menginjakkan kaki disini. ku lihat ama berjalan ke dalam rumah meninggalkan aku ditengah halaman yang terik. "masih berani kau datang Yue! bodo!" teriak suara perempuan dari dalam rumah. apakah itu Tin Tin ?. tapi adikku tidak mungkin sekasar itu.
cuaca kota S yang terik ini diluar dugaanku, walau tadi rintik hujan yang menyambut kepulanganku tapi terik panas matahari yang ku rasakan di halaman rumahku terasa mendidih sepanas pikiran dan bebal hatiku. hampa..
ku ambil secarik kertas yang ku bawa dan ku tuliskan...
pemusik tak akan menyalahkan kecapi
bila permainannya tak bagus
petani tak akan menyalahkan rumput
bila ladang padi ditumbuhi rumput
walau rumput tak cantik
ia pun patut akan keberadaan
begitu pula aku
anakmu, Lim ini
ama, papa, Tin Tin
Lim tak akan menyalahkan siapapun
ku mohon begitu pula
pandangan kalian pada Lim
_____ Yue Guang Lim
ku lipat dan ku sisipkan secarik tulisan ini pada bongsai kesayangan ama. "kau kesayangannya ama, tumbuhlah dengan baik" ucapku menyentuh daun bongsai dan mengambil sebuah kerikil yang menghiasi dibawahnya. "ku harap ini cukup untuk selalu mendampingi sisa hidupku" ucapku menyimpan kerikil di saku kemejaku.
dengan langkah gontai aku menyeret koper dan barang bawaanku keluar halaman rumah ini. ku tatap lagi untuk ku patri setiap detail bangunan ini. "ama, papa, Tin Tin... Lim sayang kalian" ucapku tersenyum dan melangkah pergi.
tak terasa setengah jam lamanya aku keluar dari lamunanku dan memutuskan mencari taksi. "pak" lambaiku pada taksi yang melintas tak jauh dari tempatku berdiri. "kemana pak?" tanya pak supir. "hotel Camelia dekat bandara pak" ucapku sebelum ku rebahkan diriku tertidur.
ini awal atau akhir hidupku.. aku tak tahu.
***********************
__ADS_1