SINAR BULAN

SINAR BULAN
Vol.2 E: 13


__ADS_3

“setelah ini kau harus kuat ya Ul” ucapan jicob masih terngiang di kepalaku. Kehadirannya nampak datang terburu-buru hingga kini kepergiannya seperti angin lalu.


Setiap pagi pergi sekolah ketukan pintu membuat aku merasa janggal, terkadang ibu menggodaku menirukan ketukan pintu kedatangan jicob.


“masih kangen ni.. ayo segera berangkat sudah jam berapa itu..?”


“iya bu. Saya pamit” ucapku lesuh.


Jam siang biasanya ada yang mentraktir aku makan kini tinggal bayangan, aku harus mengantri sendiri di kantin.


“myeong ul.... apa kabarmu ?” sapa seseorang melambai dari meja makan.


“myeong im..? tumben kamu menyapa..? sekarang gak pernah kirim pesan atau telepon gak jelas lagi ni yee” ucapku meledeknya.


“kau sudah pesan..?”


“tidak aku keluar antrian demi dirimu.”


“ini makanlah setengah bagianku” ucap im menyerahkan nasi goreng yang masih belum dimakan.


“kau tidak makan..?”


“makan dong, kan aku bilang setengah.” Ucap im dingin sembari membuka laptop.


“lalu kenapa sibuk buka laptop kalau mau makan..?”


“kan ada kau. Kau baca lembar tulisan tangan itu, tanganmu yang lain suapi aku. Tugasku mengetik itu”


“kau memerintahku..?” tanyaku heran dia sekarang lebih terbuka atau berani menindasku


“ini juga tugas laporan myeong angkatan kita. Kau lupa..? akhir bulan akan ada masa peralihan tugas dan fungsi pada calon kandidat.”


“oh”


“kecuali kau mau mengerjakan sendiri baiklah aku tak memaksamu” ucap im tanpa beralih dari


laptopnya.

__ADS_1


“apalah mau. Terserah. Aku pergi dulu.” Ucapku kesal.


Dia menatapku serius tapi sedikit sedih atau simpati “silahkan ul” ucapnya sebelum beralih ke laptopnya lagi.


Lagi...lagi dia masih mengerjakan sendiri. Hingga masa akhir jabatan juga tetap mengambil alih. Bagaimana ini dibilang partner jika semuanya dikerjakan sendiri. Aku hanya membaca sedikit dan sebanding dengan formalitas semata.


Dia menganggap aku apa jika seperti ini. aku menurutinya sama saja dia menindasku. Apa aku tidak becus hingga apa-apa diselesaikan sendiri.


Dia menganggap aku apa, jika setiap waktu tugasku dikerjakan juga. Aku Cuma pelengkap atau cadangan saja.


Pikiranku kacau, antara ketidaktahuanku atau aku selalu ketinggalan info. Di kelas laoshi sudah memulai pelajaran pheww, aku ditegur lagi.


**********


Di sini kau dan aku


Terbiasa bersama


Menjalani kasih sayang


Bahagia ku denganmu


            Hari paling indah ?


(ost. My Heart, di


poplerkan Acha Septriasa dan Irwansyah cipt. Melly Goeslow)


Ku buka mataku, hari sudah pagi terdengar lagu dari radio tetangga sebelah. “aishh, pagi-pagi sudah berisik. Dia mau mendengarkan musik atau perang suara” omelku.


Ku buka jendela kamar yang berhadapan dengan jendelanya “oiii.... bisa dikecilin gak..? masih pagi kalo kurang ku pinjamkan toa milik RT" teriakku keras-keras.


“hehehe.. bangun juga kau tetangga, lagu pagi ini bagus ya” sindir yogi anak SD yang sok akrab denganku.


“kau anak kecil besar juga nyalimu” ucapku bersungut-sungut mengambil ketapel mengarahkan ke arahnya


“woi sakit tau.” Omelnya terkena sasaranku.

__ADS_1


“tuh permen biar ucapanmu agak manis” teriakku sembari menutup lagi jendela kamar.


Hehehee...


“kau riang sekali nak, habis berantem apa sama anak tetangga..?”


Hanya ejekan kecil ibu. Jangan dipikirkan”


“kau juga udah besar, masih main terus” cubit ibuku.


“iya deh..... gak diulang lagi. Bu, kan aku sudah besar. Tiga bulan lagi ada seleksi beasiswa, apa boleh ikut ?”


“mau kemana lagi anak semata wayangku ini..?”


“emmm dulu aku pernah janji pada ibu angkat di negeri ginseng kalau akan datang kembali. Apa boleh aku mengajukan beasiswa kesana..? keluarga mereka baik sekali, aku juga boleh dipanggil dengan marga mereka lo.”


“sungguh...? baiklah akan ibu pikirkan lagi.”


“terima kasih bu. Aku sangat....sangat sayang sama ibu. Hehehehe”


“ibu juga sangat kamu.”


“bu, aku bagi ibu apakah beban..?”


“bagaimana mungkin, kau adalah harapan baru hidupku”


“apa aku salah menyayangimu..?”


“apa ada kasih sayang yang salah..? kau hanya terlalu banyak berpikir”


“kalau begitu, kapan ibu mengijinkan aku tinggal di kamar utama..? kenapa aku tak boleh kesana..?”


“apa kau sungguh ingin tinggal disana..?”


“kelihatannya itu kamar spesial.”


“spesial seperti dirimu” kecup ibuku dan berlalu pergi.

__ADS_1


Semua yang disekitarku penuh teka-teki hanya saja aku tak tau atau aku yang berlalu tanpa mengetahui.


__ADS_2