
Angin yang berhembus membawa wangi sari-sari Tulip, saat ku tadahkan wajahku ke langit, aku tahu kini mentari senja tlah kembali dalam gelapnya malam.
**************
Pov. Yue
“bagaimana latihan kali ini nak..?”, “ah, payah Jendral.” Keluh Tom saat kali berada di halaman markas yang berhadapan dengan perkebunan tulip. Dari sorot matanya tentu Tom tidak menanggapi setengah maksud pertanyaan aku,dia hanya memandangi para pelajar yang sedang sibuk diseberang sana.
Ehmm.. “beberapa hari mendatang kau gantikanlah aku berkeliling negeri tulip ini. Kau boleh membawa John dan beberapa kawan lain untuk membantu. Seleksi angkatan baru jalur khusus yang aku buat segeralah dimulai. Carilah bibit-bibit unggul yang memiliki jiwa patriotis.” Ucapku sembari menutup buku bacaanku. “ya.... ya? Apa Jendral!” teriak Tom baru tersadar maksudku. “aku ada perlu beberapa hari akan ke Amsterdam bahkan beberapa tempat lain” ucapku berlalu kembali ke dalam markas. “siap Jendral” sahut yang lain mendengarkan ucapanku. Semua orang di markas ini tak ada yang bertanya kenapa dan untuk apa, karena semua tahu hal itu hanya akan membuatku membisu.
__ADS_1
Hari ini tak ada kesibukan yang berarti, surat pengajuan kewarganegaraanku sudah bisa aku ambil. Hanya saja hari ini, cukup membuang waktu sebelum melangkahkan kaki ke gedung sana, pikirku. Berbekal pisau ukir, kayu mahoni yang berukuran 100 cm, dan bebatuan yang aku bawa dari negara Sia. Aku melangkahkan kaki ke perkebunan tulip, bukan untuk melihat para pelajar, hanya ingin merendam kejenuhan di derasnya aliran sungai yang lamban.
Alih-alih pandang, dia berjarak 10 meter dariku, siluet wajah yang nampak dari samping tengah sibuk mengoleskan kuas ke kanvas. Seperti ilusi tapi kuingin percaya itu nyata dirinya. rambut itu tergulung hair pin persis seperti anganku. Darinya, aku terinspirasi ingin melihat dirinya menjadi karya tanganku.
Ku putuskan membuat tusuk rambut dari kayu mahoni ini. Tusuk rambut sederhana yang menyimpan sejuta rasa. Ku ukir ujungnya membentuk kelopak tulip yang setengah menguncup. Bebatuan yang aku bawa sebagai kenangan, ku pecah hingga cukup untuk dipasang di tengah kelopak. Ya.. tusuk rambut 5.1, dari 5 bebatuan, dalam satu kelopak tulip keanggunan. Seperti dia yang ada diseberang sana, tersenyum dengan dunianya sendiri.
Aku berdiri diatas jembatan. Melihat mereka lalu lalang, memberi salam bergantian. “terima kasih tuan”, ucap pengajar itu menyalamiku. Dia yang ku maksud masih sibuk mengemasi peralatannya, tentu tengah terburu-buru. “pastikan tak ada yang tertinggal” ucapku padanya yang berlari melewatiku terburu. “ha..haa.. tentu” ucapnya menyeringai dan berlalu.
_______________________
__ADS_1
keesokan harinya, ku putuskan berjalan ke arah stasiun setempat. "tolong tiket untuk satu perjalanan penuh" ucapku menunjukkan kartu identitasku. ku pilih jalur reguler yang tidak memburu waktu. aku hanya ingin membuang waktuku lagi. sebelum mengambil identitasku yang baru.
pukul 09.00 pagi. perjalanan pertamaku. aku mendapat tempat duduk di gerbong yang hanya berisi 4 orang, dan aku memilih ruang paling ujung jauh dari orang lalu lalang.
"pheww.. aku kalah cepat" ucap seorang gadis masuk ke tempatku. dia duduk di depan kursi yang berhadapan denganku. kami hanya terpisahkan meja kecil. ku alihkan pandanganku pada buku baca yang ku bawa. "ah.. kuning yang cantik!" ucapnya. deg.. dia sengaja atau tengah mengomentari hal lain, refleks aku menutup bukuku menatap dirinya.
"kau..? tau bahasa negara Sia?" tanyanya dan ku jawab dengan anggukan.
___________________________
__ADS_1