SINAR BULAN

SINAR BULAN
15: Asa atau Sia


__ADS_3

Saat kau terlihat lemah dihadapannya


Saat aibmu nampak pada orang yang kau suka


Saat kau tak berdaya didepannya


Kau mau apa ?


___________________


Pov. Yue


Dia khawatir terhadapku atau meninggalkan aku tergeletak. Sial. Tubuhku mengambang rasanya, kenapa aku harus ambruk hari ini. Payah kau Yue.


Terasa dingin, ada yang mengompresku, aku ingin merebahkan diri, terasa nyaman diatas pangkuannya. Wangi.


Dia berbeda dengan sebelumnya, kau sekarang orang seperti apa, aku tak tahu. Ku pun memejamkan mata.


Ku cabut kembali anggapanku, dia masih cerewet rupanya. Tapi suaranya berbeda, ada rasa berat atau kerinduan pada kenangan teman masa kecilnya. Mendengar ceritanya, hatiku teriris.


‘Stop Yue, kau tak boleh membebani dia lagi. Keputusan sudah kau ambil. Kau milik negeri Tulip ini. Biarkan dia melanjutkan hidupnya.’ Aku berperang dengan batinku sendiri. Hatiku menginginkan dia, logikaku membantah.


************


Pov.E


“tuuan.. anda terbangun ? bagian mana yang sakit ?” tanyaku menatap dirinya di pangkuanku. “ya aku sudah mendingan” ucap dirinya tapi tangannya meraih tanganku menaruhnya dalam genggaman dan mendarat ke dadanya. “tuuuan, tuan Jendral ini tidak pantas” ucapku menarik tanganku. “kau yang bertanya, aku menjawab. Kenapa sekarang kau menyangga” ucapnya meletakkan kembali tanganku dalam dekapannya.


**************

__ADS_1


Pov.Yue


“kau yang bertanya, aku menjawab. Kenapa sekarang kau menyangga” ucapku padanya sembari menarik kembali tangannya yang sejuk. “aaaku bilang apa, kaau jawab apa tuaan Jendral” ucapnya gugup.


Aku diam menatapnya, menjawab kebingungannya dalam benakku.


‘kau bertanya mana yang sakitkan. Tapi kau sendiri menutupi bahwa kau tau.


 Kau bertanya mana yang sakitkan, tapi kau sendiri memilih diam melihat banyak bekas luka ditubuhku.


Apa kau membenciku ?


Bencilah semampumu


dan


Biarlah tak mengingatku.


hanya sebentar saja dalam tanganmu,


didalamnya,


disitulah tempat


aku merasakan sakit tak sebanding dengan bekas luka yang dilihat matamu.


Aku laki-laki yang rapuhkan ?


Tak perlu kau mengasihaniku

__ADS_1


Tak bisakah ku melindungimu'


“tuan, anda diam saja, apa anda dendam pada saya? Aku...aku tadi maaf sudah sengaja melempar kerikil pada kepala anda” ucapnya menganggap diriku marah karena tadi.


“ya.. itu bisa dianggap pembangkangan. Aku bisa menuntutmu di pengadilan” ucapku sinis. Dia tidak menangkap momen pandanganku. Huh.


“oh, anda masih mengingat itu dan mau memperpanjang masalah di pengadilan. Baiklah, saya sudah tidak segan lagi.” Ucap dirinya berkacak pinggang dan sengaja berdiri.


Aku yang masih terbaring dipangkuannya otomatis terguling jatuh ke tanah. “aduh” ucapku. “aku tak mau terlibat denganmu tuan Jendral.” Ucapnya berlalu pergi.


“darah?! Apa akan ada yang kalah telak di pengadilan nanti” teriakku sengaja agar dia mendengar.


dia beringsut kembali lari mendekatiku, ya.. aku menang.


*************


Pov. E


“darah?! Apa akan ada yang kalah telak di pengadilan nanti”, sial kenapa aku harus mendengar teriakan si tuan jendral itu. Anda yang memancingku, jangan salahkan aku yang kembali.


Aku berlari menghampiri dirinya lagi. “tuan anda tidak apa ? mana yang berdarah” ucapku memegang kepalanya memeriksanya. “menunduklah tuan Jendral, anda terlalu tinggi aku tidak bisa memeriksa bagian kepala anda


menyeluruh” ucapku memaksa dirinya menunduk.


“aku harus menunduk ? tidak akan!” ucapnya melepaskan tanganku. Ya dia seorang tuan Jendral tidak mungkin semudah itu menurut pada seorang gadis. “ok.. anda sendiri yang menolak untuk memeriksa bagian mana yang berdarah, jadi jangan salahkan aku jika alasan ini pula yang meringankan hukumanku” ucapku tertawa.


“baiklah, hanya demi memastikan” ucapnya “ok. Aku juga tidak sengaja menyuruh seorang Jendral menundukkan dirinya padaku... he..he..he” ucapku senang. “kau!” ucapnya geram.


“ya..Tu..an Jen..dral” ucapku sembari menjambak rambutnya memaksa dirinya menatap lekat wajahku.

__ADS_1


***************


__ADS_2