
Usai kejadian memalukan di kebun tulip itu membuatku sedikit malu bertemu dengan Ahn. Sedangkan dia seakan menganggap ini tak pernah terjadi.
Dia menyapaku saat bertemu, dan tetap sibuk dengan laptop yang dibawanya.
“acaranya di perkebunan tulip keluarganya. Aku akan menjadi perwakilan keluarga mempelai pria. Ahn, tolong kau bersiap dengan Ul menyusul belakangan ya” ucap jicob yang sudah berjas rapi.
Jas berwarna hitam dan rambut yang diminyaki rapi membuat Jicob terkesan dewasa. Sedangkan aku masih memakai babydoll bermalas-malas memakan mi instan.
“ya.. kau berangkat saja” ucap Ahn mewakili aku.
Tatapan mereka berdua begitu dingin , Ahn yang biasanya ramah kini nampak acuh.
“sampai bertemu kembali Jicob” ucapku sembari berdiri menuju dapur.
Di dapur...
Aku berniat membuang mi yang jelas-jelas belum habis
“kau marah boleh-boleh saja tapi mi itu tidak ada hubungannya” ucap Ahn mengambil mangkok mi ku dan melahap mi itu.
“jika kau lapar aku bisa memasakkan untukmu. Itu mi sisa kau jangan bercanda, tidak sopan Ahn”
“jika kau menawarkan untuk memasakkan makananku seumur hidupmu aku bersedia. Tapi jika sekarang saja kau tak melahap makanan olahanmu sendiri aku curiga kau meracuniku” ucap Ahn sembari menyuapi mi di tangannya.
“asin sekali” ucapku malu
“kata orang tua jaman dulu. Kalau seorang gadis masak keasinan itu pertanda ingin segera menikah”
“kata orang tua jaman dulu. Kalau kau makan sambil berdiri akan kena sembelit” ucapku melahap suapan terakhir di tangan Ahn sembari menuju ruanganku.
__ADS_1
Huh...huh...huhft,....
“Ahn, terima kasih kau menghiburku” ucapku berbisik sedikit tenang.
*********
“pakaianmu sudah dikirim apa kau sudah mandi Ul..?”
“sebentar, kau taruh saja pakaian itu di depan sekat nanti aku ambil sendiri.” Teriakku dari kamar mandi.
“aku harus berpenampilan baik. Aku harus wangi. Mereka orang penting.” Ucapku pada diri sendiri.
“hei, Ul. Kau mau aku menunggu hingga lumutan..? ini sudah pukul 7 malam. Ayolah acara akan segera dimulai”
“ya..ya..ya aku segera selesai. Kau cerewet sekali” ucapku memakai baju ganti menuju ruanganku.
Pakaian ini begitu pas, seperti sengaja dipesan khusus. Tanpa banyak aksesoris hanya hiasan di pinggang
dan sekitar perut dari untaian manik dan bebatuan. Hal ini membuatku berani menghias rambut yang biasanya tergerai.
Ku kepang rambutku dan menggulungnya, sebagai pemanis ku ambil tusuk rambut pemberian dia yang awalnya mau aku kembalikan. “dipinjam bentar untuk menghias rambutku, boleh-boleh sajakan” usapku pada bayangan di cermin.
“yos... aku siap berpesta” ucapku bangga pada dandananku sendiri
Di depan ruangan nampak laki-laki berpakaian jas biru saphire dengan rambut disisir kesamping. Dia memakai kacamata, membuatku pangling.
“kau terpesona denganku Ul..?” ucap dirinya
“ohh. Ternyata si kutu buku Ahn. Kecewa deh” ucapku meledeknya sembari keluar menuju mobil yang ada di depan paviliun.
__ADS_1
“kau mau memakai sepatu flat di acara penting. Ck...ck...”
Diambilnya kardus sepatu dan diberikannya padaku.
“cepat pakai atau angin disini membuatku sedikit lola.” Ucap Ahn mendahului aku masuk mobil.
Heel berwarna perak dengan untaian mutiara ini nampak mahal. Huft sekarang dipinjam, nanti saja dibicarakan.
Brak... ku tutup pintu mobil sekencang-kencangnya, jengkel harus terpaksa duduk di kursi belakang.
Aku duduk disamping Ahn di kursi penumpang, dia duduk membaca buku
“Ahn, kau mau berpesta atau apa. Untuk sepatumu aku akan...”
“sekarang kan belum sampai, membaca buku lebih baik dibanding melihat wajahmu yang lusuh. Untuk sepatu itu, toh hanya produk KW dibeli di pasar depan sekolahan kau tak perlu khawatir.” Ucap Ahn tak mau berdebat.
“maaf tuan, itu sepatu rancangan khusus, hanya dijual lewat jaringan elite. Bagaimana mungkin saya salah menilai. Harganya bisa saja berkisar hampir seharga perkebunan ini”
“ck..ck..ck... anda tidak kenal kami lebih baik diam saja”
“maaf kelancangan saya tuan Ahn. Kalian nampak serasi semoga anda dan nyonya Ahn langgeng”
“nyonya..? hei... kau” ucapku bersungut-sungut.
“karena kau berucap baik aku memaafkanmu. Sudahlah Ul, toh perkataan jangan dipikir terlalu serius” ucap Ahn tersenyum puas.
Melalui jalur bebas hambatan, kami sampai di perkebunan tulip keluarga angkat jenderal Yue.
“selamat menikmati pesta tuan dan nyonya Ahn” ucap sang supir sembari menancap gas pergi meninggalkan kami di depan tempat pesta.
__ADS_1