
Rindu pada cinta tlah memutih
Dendam pada mati tlah menanti
______________
Pov. Yue
“hari sudah petang, kau akan pergi kemana ?” tanya dirinya saat kami kembali ke stasiun. “entah” jawabku bingung. “apa aku boleh ikut denganmu?”, “tidak” jawabku dan ku lirik dirinya. wajahnya muram, berbanding terbalik saat kami di cafe tadi. Wajah itu, sama seperti wajah gadis di mimpiku, wajah terluka tanpa senyum. Entah itu benar dia atau tidak cukup bersama kali ini, anomali bukan. “aku yang mengikutimu” ucapku bermonolog. Ku rasakan tatapannya walau aku menatap lurus ke depan.
(kau datang!, rupanya itu kau? Kenapa tak berucap?) deg.... “tuan, tuan.. bangunlah.” Ucap seseorang disampingku aku tersadar. “anda berkeringat dingin. Apa anda kurang sehat..?” wajahnya yang sayu nampak sorot mata kekhawatiran. Aku pun tersenyum, mencoba\ menenangkan. “tidak apa-apa hanya mimpi yang membuatku kebingungan”. “oh.. syukurlah” ucapnya menghela nafas.
“kalau begitu, bolehkah anda merapikan diri dulu..? saya capek” ucapnya membuatku tersadar, semalaman aku bersandar di bahunya “tentu beratkan? Kenapa tidak kau bangunkan aku biar bahumu tidak pegal” ucapku segera berdiri. “kita bertemu 15 menit lagi disini” ucapku berlalu.
**************
Flashback .....
Pov. E
__ADS_1
Walau orang ini asing tapi entah kenapa aku merasa akrab dengannya. Terasa waktu berjalan terlalu cepat bila dengannya. Pertahananku dengan ucapan yang blak-blakan, cerewet hingga menyebalkan seakan runtuh bila berhadapan dengannya.
Hari yang telah petang dan kondisi kami yang tak tahu arah membuat kami memutuskan menginap di stasiun. Di area duduk keberangkatan penumpang nampak kursi berjajar yang kosong.
“aku yang mengikutimu” ucap dia lagi. Membuatku tertegun, heran. Aku hanya bisa menatapnya tanpa kata.
Daripada kami duduk berdiam melihak orang hilir mudik membosankan akupun memberanikan diri membuka obrolan. “tuan, terima kasih. Kebaikan anda hari ini. Aku tak tau walau kita baru mengenal anda seperti terasa akrab bagi saya. Terlebih makanan yang anda pesankan semuanya membuat saya terkenang.... lantas sebenarnya anda itu si..apa?” ucappku terpotong melihat orang itu bersandar di bahuku.
Wajahnya nampak penuh beban,n walaupun begitu sebenarnya dia cukup sedap dipandang. Kulit bersih, alis tebal, bibir tipis, wajah yang penuh kasih sayang. Hanya saja urat wajahnya mengesankan dia orang yang tidak mudah diganggu. ‘orang yang rumit’, pikirku.
Aroma tubuhnya mengingatkanku tapi entah pada siapa. Terlalu banyak orang hilir mudik dalam memori hidupku. Hatiku terasa berat tapi sekaligus lega. Menatap dia yang tumbuh sehat hingga hari ini. Meski aku tak tau siapa laki-laki yang bersamaku ini, cukup berbaik hati tak apa bukan.
Flashback end
**************
Pov. Yue
“tuan..” sapanya menungguku di tempat kami tadi. Ku amati dirinya hari ini dia berpakaian longdress cokelat, berenda dengan kerah sanghai, tanpa lengan dengan pita kuning mengikat sedikit rambutnya. “kau nampak lebih dewasa dari usiamu” ucapku mengomentari. “ck..ck... tuan, kau itu jarang bicara tapi sekali saja bisa memujiku tidak ? kalau tidak bisa lebih baik tak mendengar suaramu. Ini minumlah”. Disodorkannya segelas latte hangat padaku. Aku tersanjung.
__ADS_1
“hari ini tuan kemana?” tanyanya membuka pembicaraan. “entah” ucapku menyeruput latte rasa pabrik. “aku sudah
bilang akan mengikutimu” ucapku melanjutkan.
“tapi aku tidak paham daerah sini. Ku pikir tuan bisa menjadi guide saya. Well sebagai bayaran bahu saya
yang sakit menahan beban kepala tuan” ucapnya terkekeh.
“jika dari cara berpakaianmu, aku tidak punya cukup tempat yang cocok untuk kita kunjungi.”
“pakaianku ? apa kau menyalahkan caraku berdandan ? seharusnya salahkan dirimu” ucapnya menunjuk wajahku tanpa ragu.
“kau melakukannya lagi. Beraninya dirimu” ucapku memegang jemarinya. “bukannya saya tidak sopan, jika tuan tidak suka dengan cara saya ya silahkan anda melanjutkan perjalanan, saya akan pergi. Tapi anda harus tau, saya berpakaian seperti ini ingin menyamakan dengan tuan. Setidaknya kita berjalan tidak seperti paman dan kemenakan.” Deg.. ucapnya membuatku terdiam. ‘permisi saya undur sebentar, tunggulah 15 menit disini, jika aku tak kembali kau boleh pergi sesukamu.” Ucapku terburu.
Langkahku cepat menuju beberapa toko yang berjajar di pusat perbelanjaan dekat stasiun. Ku beli celana jeans 4/8 dan kaos cokelat berkerah. Ku cari kamar ganti dan segera membayar tanpa harus mengemas lagi. “terima kasih jendral” ucap pelayan toko yang ternyata masih bibi dari John.
Langkahku berjalan menuju tempat sewa jeep yang tidak jauh dari stasiun. Sebuah tempat sewa kendaraan yang ku rintis bersama keluarga angkatku semenjak 12 tahun yang lalu. “jendral! Anda mampir ? ada yang bisa kami bantu.” Sapa Margaret mengenali diriku. Dia mengangkat alis tidak percaya. Penampilanku seperti lelucon di matanya. “aku ingin pergi ke perkebunan keluarga, tolong kau siapkan satu jeep sekarang juga”.
************
__ADS_1