
Tik...tik..tik...tik...
Suara ketikan keyboard komputer terdengar nyaring di kamarku. Menyalin beberapa hasil laporan bulanan inventaris barang. Sebuah kesibukan baru yang aku geluti selama 3 bulan terakhir ini.
Tring...
Suara pesan masuk dari ponselku, disana tertulis myeong Im.
‘jika laporan sudah selesai diketik kirim saja ke emailku biar ku print dan ku jilid sekalian. Trims.’
Ya.. hubunganku dengan myeong Im tak ada kemajuan walau ikatan organisasi ini seharusnya memudahkan aku berteman dengannya.
Aku tak membenci dia, bahkan aku cukup salut dengan kediamannya hingga jengkel setengah mati.
Dulu diawal aku menjabat sewaktu aku kelepas emosi membentak dirinya tak ada respon darinya, dia hanya diam dan berlalu pergi tanpa emosi.
Pernah juga aku mengawali maaf, tapi katanya tak perlu, bahkan dia maklum dengan sikapku.
Jika aku tanya balik hanya jawaban senyum yang ku terima. Jika aku cemberut sengaja tidak mengajaknya ngobrol sewaktu bertugas dia juga tak bergeming sekedar tanya.
Aku tak menarik kah atau memang keramah tamahan diawal hanya sebatas rasa sungkan pada Jicob.
Tring.....
‘Ul besok minggu datanglah membawa buku laporan ke sanggar OSIS. Kita ada kerjasama dengan PMR dan OSIS. Ku tunggu.’
Pesan dari Jicob tanpa basa-basi. Tumben sekali dia meniru gaya Im, dengan rasa curiga aku telpon balik nomor Jicob.
“halo...”
“Jicob..? aku mau tanya”
“Jicob sedang berbincang dengan kak Bin, aku menggunakan ponselnya karena dia tak sempat mengetik pesan”
__ADS_1
“oh ternyata kau, Im. Baiklah. Dah” jawabku sedikit kecewa. Lagi-lagi upaya berbincang dengan Jicob seakan sengaja dibatasi.
Padahal aku dekat dengan Jicob juga karena akrab dengan adiknya, bukan karena hal lain, pheww.
Hari minggu.....
Setengah berlari aku menuju parkiran sepeda sebelum naik angkutan umum. Kenapa tidak bilang jam pertemuannya dulu kemarin di pesanku. Aku baru selesai mengetik pukul 2 pagi, baru saja tertidur tapi bunyi ponsel yang berisik membangunkanku katanya pertemuan dimajukan pagi hari bukan pukul 10 tapi pukul 06.30.
Ayo Ul, 10 menit lagi. Brak.... suara pintu sanggar ku dorong tanpa ku ketuk. Disana mereka sudah siap dengan beberapa berkas.
“Ul sudah kau bawa..?” tanya jicob
“ya, ini” ucapku sembari menyerahkan buku besar.
“terima kasih, kau boleh menunggu diluar atau kelas lain. tunggulah” ucap Jicob menepuk bahuku layaknya sahabat karib.
Ku jawab dengan senyuman. Saat aku keluar ruangan ku tatap Im yang membuka pintu masuk
“hei Ul. Sudah sarapan..? ini” ucap Im memberikan aku sebungkus roti goreng dan berlalu menjauhiku.
Krucukkkk.... suara perutku tak mau berkompromi. Aku melunak berjalan keluar menuju kolam ikan dekat taman sekolahan. Setidaknya melihat ikan berenang tidak membuatku jemu.
“dasar! Memangnya dia siapa..? membuatku harus tergesa-gesa, membuatku menunggu, kelaparan. Ini hari
minggu tapi aku diburu waktu” ucapku bersungut-sungut disela mengunyah roti goreng.
“selain mengomel, kau tukang menggerutu ternyata” komen seseorang dari belakangku. Belum sempat aku berdiri melihat langsung dirinya.
Byurr..... tubuhku terdorong ke kolam ikan. Basah kuyup
“hei.. apa-apaan kau!” ucapku marah
“selamat ulang tahun... selamat hari jadi. Semoga panjang umur sehat sentosa” ucap banyak orang
__ADS_1
berbarengan.
Aku hanya duduk terpaku menatap mereka bertiga. Aku seperti gadis yang dibully.
Mereka semua tertawa mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Suatu kejutan yang tidak pernah aku dapatkan.
“kau sampai kapan mau berendam ?” tanya Yanuar
“aku tak menyangka kau punya hobi mandi dengan ikan” komen Jicob meledek.
“kalau tak mau naik kuenya ku makan sendiri” lo ucap Im menghampiriku dan mengulurkan tangan.
“bajuku basah kuyup bercampur bau amis air kolam ikan.” Komenku salah tingkah.
Byur.....
Terasa air bercampur bau sabun atau bunga setaman disiram dari belakang tubuhku.
“oh oke. Aku sudah wangi. Sangat wangi hingga tak perlu mandi lagi” ucapku mengangkat tangan menyerah, jengkel, senang, terharu, karena kejailan mereka bertiga.
“selamat ulang tahun ya Ul.” Ucapkak Bin menghampiriku. Senyum sumringah dengan lesung pipi membuatku sedikit merasa terpesona padanya, oke sedikit.
Di ruang OSIS
Kak Bin, Im, Yanuar, Jicob dan aku menikmati kue buatan mereka. Kue cokelat yang cantik dan mungil, tapi terasa aneh ada rasa manis, kecut, pedas, aku tak tau bahan kue atau bahan sambal yang dimasukkan diadonannya.
“ehem... Ul gantilah pakaianmu dulu. Kami punya seragam ganti.” Komen Im menyerahkan seragam PDL dari lemari sanggar.
“itu bukan milik kita kan..?”
“sanggar ini sekarang milik organisasi kita. Negosiasi kita berhasil. Tugas baru kita menunggu. Oke..?” ucap Im akrab tapi dengan wajah dingin.
“baiklah” ucapku berlalu menuju toilet putri.
__ADS_1
Hari ini bukan hari yang sial, tapi spesial bagiku. Pikirku berlalu sembari tersenyum.