SINAR BULAN

SINAR BULAN
Vol.2 E: 16


__ADS_3

3 hari kemudian...


“ul kau sudah pernah ke negeri tulip..? seperti apa..?”


“seperti itulah”


“ah kau tidak seru Ul. Aku kan perttama kalinya keluar negeri anggap dong ini wisata singkat.”


“Yanuar. Cukup. Kau sudah membuatku kehilangan waktu sarapan kau dan jicob membuatku terburu-buru”


ucapku kesal. Melihat layar LED memberitahukan jam keberngkatan pesawat kali masih tiga jam lagi.


“aku kan bersemangat Ul. Ayolah kita habiskan waktu tunggu untuk berswafoto disini.” Ucap yanuar bangga dengan kamera yang dibawanya.


“Yanuar kelihatnya Ul tidak mood. Ayo kau bersamaku saja” bujuk Jicob yang tak pernah bicara padaku sejak pertemuan di kantin waktu itu.


“hei Ul. Kau tidak marahkan jika aku memberimu ini..?” ucap im, bukan Ahn. Sejak acara laporan itu selesai kami kembali lagi seperti semula. Kecuali aku, mereka terlanjur nyaman memanggilku Ul.


Dia membawakan aku secangkir moka hangat. Ku seruput moka yang diberikannya, ukh.. manis sekali membuat lidahku bergidik.


“kau tidak suka..?” tanya Ahn mengambil kembali cangkirku.


“bukan tidak suka tapi terlalu manis buat lidahku”


“bukankah itu baik..? kau terlalu suka pahit apa itu cermin hidupmu..? sekarang belajarlah makan atau minum yang manis-manis biar hidupmu juga semanis moka cocho ini”

__ADS_1


“kau itu... uh!” aku kehabisan kata-kata membuatku ingin sekali mencengkram diri Ahn.


“apa..?” tanya Ahn dingin sembari membuka buku.


“bukan apa-apa lupakan.” Ucapku sembari berlalu menuju toilet.


“kau kemana..?”


“kesana..? apa kau mau ikut..?" ucapku sembari menujuk papan petunjuk arah toilet wanita.


“tidak lucu” ucap Ahn dingin dan berpaling.


Di dalam toilet ku tatap wajah di depan cermin besar. Nampak wanita yang sama persis dengan dimimpiku.


“apa aku pernah ketemu jenderal Yue selama itu..? hingga dia  membuat perasaanku seberat ini...? bukankah pertemuanku hanya singkat di bulan april tahun lalu. Huft....”


“nah pas. Ini baru nyaman” ucapku menilai hasil karyaku sendiri” wajahku nampak lebih matang saat menyanggul rambutku.


“apa aku seperti ini sangat cantik..? apa Yue akan suka jika aku memakai ini dihadapannya”


Puk..puk..puk... ku tepuk sendiri pipiku menyadarkan pikiran khayalanku.


“sadarlah dia siapa, dan kau hanya apa” ucapku menyadarkan kembali.


Drett.....drettt

__ADS_1


Ponselku berbunyi


“hei kau sampai berapa tahun lagi menghilang..?”


“aku akan kembali tunggu sebentar tadi masih ngantri” ucapku terburu-buru.


Setengah berlari mereka sudah mengurus barang bawaan di bagian bagasi pesawat. “ul ayo” teriak yanuar terburu


“barangku..?”


“sudah semua sekarang ayo kita berangkat.”


“ok”


“let’s go”


ucap mereka gembira aku tersenyum mencoba menikmati perjalanan ini, anggap saja keluar negeri gratis.


Di dalam pesawat aku dipaksa duduk dengan Ahn. Huft... hanya membuat jengkel.


“kau mengganti gaya rambutmu..? dipanggil nyonya Ahn sepertinya pantas.” Goda Ahn dengan suara lirih.


“Omonganmu ngaco” ucapku bersandar di kursi dibandingkan berdebat dengannya aku lebih memilih memejamkan mata terlelap dalam perjalanan panjang.


(“jika kau sudah besar temui aku” ucap laki-laki itu saat ku pegang tangannya. Tatapannya berat seakan aku terperangkap)

__ADS_1


“ukh...” keluhku saat membuka mata


“akhirnya kau bangun. Kau berkeringan dingin..? apa itu mimpi buruk Ul..?” ucapan Ahn nampak khawatir.


__ADS_2