
Hari minggu yang terasa panjang karena sidang yang melelahkan seakan jadi mimpi burukku. Aku bangun dengan badan teras pegal semua.
“nak gak sekolah..? udah pukul 5 lo” ucap ibu berteriak dari arah dapur.
Segera saja ku raih handuk dan berlari mandi
15 menit berlalu
“bu, aku berangkat” pamitku menyalami ibu dan berlari keluar rumah
“rambut masih acak-acakan, kaos kaki warna sebelah kau mau melawak Ul..?” ucap seseorang bersandar di dinding luar rumahku.
“apa..?” ku tundukkan pandanganku menahan tawa “ok. Kau benar. 5 menit dan akan ku balas omonganmu” ucapku berlari menuju kamar mengganti kaos kaki hitam sebelah dengan warna putih keduanya.
“sarapan dulu. Ini ada dadar telur dan teh hangat” ucap ibu melihatku terburu
“tidak usah aku sudah ditunggu Jicob” ucapku
“aku mampir untuk sarapan.” Ucap jicob tertawa sembari melahap roti isi telur.
Sembari menuju meja makan ku kepang rambutku ke belakang dan menggulungnya dengan pita merah.
“seperti mau ujian lab aja pake gulung rambut. Botak” oceh jicob disela lahapannya.
“biarkan saja. Ini styleku terserah aku” ucapku tak mau kalah.
“sudah-sudah nanti terlambat lo” ucap ibu menghentikan perdebatan kami.
“kami berangkat bu” ucapku berpamitan lagi
“bu saya berangkat” ucap Jicob ikut-ikutan sok akrab.
__ADS_1
Walau aku tak tau rumah Jicob entah kenapa hampir setiap hari selalu muncul dihadapan rumahku. Hingga tak ada waktu sarapan tanpa kehadirannya.
Terasa seakan ada satu anggota baru di keluargaku, walau entah dirinya berasal dari mana.
Terkadang akhir pekan lilis mampir menginap di rumahku tapi tidur diruang tamu. Aku tak tau, saat aku tanya alasannya itu pesan Jicob sebagai syarat persetujuan menginap.
Tok...tok..tok..
“teh..? teteh..?” ucap lilis mengetuk pintu kamarku
“masuklah. Ini hari minggu aku ingin bermalas-malasan” ucapku menutup selimut
“oh baiklah.. aku akan bicarakan ini dengan kang Jicob”
“wait!! Aku akan bangun. Ada apa lilis?”
Tring.... tring...
Drettt...drett...
27 panggilan tak terjawab
51 pesan masuk
Jicob..
Jicob...
Jicob..
Ahn..
Jicob..
Jicob...
Jicob...dst.
“eh aku kelewatan sepertinya ada yang janggal” ucapku mengscroll lagi ponselku
__ADS_1
A.H.N
“orang itu menelponku ternyata” ucapku bangga
Disisi lain di sekolahan
Seseorang yang menggunakan ponsel Jicob ternyata Ahn sedangkan ponsel Ahn hanya dipakai Jicob sekali.
“kau mau membuang pulsaku...?” tanya Jicob heran dengan tingkah Ahn yang gusar.
“ayolah. Aku mohon telepon dia lagi ya..? sekaliiiii saja” ucap Ahn meyakinkan
Tok..tok..tok
“permisi, selamat pagi” ucap seseorang dibalik pintu markas
Kriekkkkk, ciiitt suara decit pintu yang lama tidak dikasih minyak
“hehe, maaf baru bangun. Apa ada yang terburu hingga minggu ini tidak libur..?” ucapku dihadapan Jicob.
“tidak. Kau harus terbiasa tanpa aba-aba setiap minggu hadir disini. Kau dan aku partner kan. Kita satu tim” ucap Ahn dingin tanpa menatap lawan bicaranya
“ku rasa tugas myeong im dan myeong ul bisa dimulai. Aku permisi” ucap Jicob keluar markas.
“cih... apa-apaan kau? Ini sikapmu..? aku harus menerima kenyataan ponselku blank gara-gara pesan beruntunmu dan sekarang kau meningglkanku dengan Ahn..? oh bukan Myeong Im..?” ucapku tak terima dengan perlakuan Jicob.
“akan ku kirim ponsel baru nanti sore. Dah. Aku harus ke rumah guru BP dengan kak Bin” ucap Jicob melambai.
Aku hanya terdiam, kesal, marah, jengkel, ingin menggerutu.
“Ul..?” tanya Im hati-hati
“APA!!” ucapku tanpa sengaja seperti membentak. Ku lihat Im yang terdiam menatapku terkejut. Sial. Masalah baru untukku.
__ADS_1