
Pov. Yue
Niatku hanya membuka pintu jeep ini untuknya, tapi entah dia ceroboh atau apa. Jeep yang bagi seukuran dirinya terlalu tinggi tanpa aba-aba dia melompat turun “awas!!!” refleks aku menangkapnya, sial. Dia bukan ingin ku tangkap, didorongnya bahuku hingga kami jatuh tersungkur.
“auhhh.. berat!” teriaknya “itu dialogku!” ucapku geram, jelas-jelas dirinya yang menimpaku tapi dia juga yang mengeluh. Pheww.
“waduh, rambutku!” keluh dirinya membenahi rambut yang acak-acakan. “bisa lebih cepat sedikit tidak?” tanyaku.
“ish.. kau tak tahu, menata rambut yang acak-acakan itu lama, apalagi tanpa sisir” ucapnya merapikan sebagian rambut dan mengikatnya kembali dengan pita kuning.
“ok, setidaknya ijinkan aku berdiri, ini berat” ucapku menuding telunjuk ke arahnya yang masih terduduk dipangkuanku. “oh” ucapnya buru-baru bangun.
__ADS_1
Ku bersihkan pakaianku dari tanah yang menempel. Nampak seseorang dari kejauhan melambai padaku. Ku lirik dia yang masih menata rambut dan segera menghampiri orang itu.
“anda datang Jendral. Sekian lama anda tidak pernah kesini. Karir anda semakin pesatkan?”. “terima kasih tuan Anthony. Anda bermurah hati menghampiriku yang tidak pernah datang lagi. Saya hanya ingin mampir sebentar bersama kenalan saya.”
“meskipun anda sibuk, Jendral tetap ramah ya” “aku hanya membuang waktu, esok aku harus ke Rotterdam mengurus beberapa berkas sebelum ke kantor pusat”. “saya tunggu kabar baiknya Jendral” ucap tuan Anthony yang tak lain ayah angkatku, dia menepuk bahuku khas tepukan seorang ayah yang menyemangati anaknya dan berlalu pergi.
Ku balikkan badanku dia menatapku antara takut dan ragu. Keringatnya bercucuran gugup. “tuan, mohon maafkan saya. Satu kali ini saja, ini saya janji tidak akan mengulanginya lagi. Saya terlalu muda hingga tidak tau kedudukan anda” ucap dirinya menunduk padaku. Aku hanya mengangguk dan berjalan pergi.
“ya..” ucapnya lirih. “apa tak ada yang ingin kau tanyakan padaku..?” ucapku membuka obrolan.
__ADS_1
“boleh?” tanyanya heran. “berbicaralah” ucapku mengiyakan.
“siapa sebenarnya kau? Kenapa dipanggil Jendral ? dari mana asalmu ? kenapa kau baik padaku ? apa kau baik pada setiap gadis sepertiku ? kenapa kau mau mengikutiku ? apa kau teroris ? apa kau berniat jahat ? kenapa kau diam ? aku bertanya jawablah!” ucapnya menuntut jawaban dari sekian banyak rentetan.
“tenanglah, aku akan menjawab” janjiku. Ku tatap matanya ke dalam bola matanya yang cokelat kehitaman. Wajahnya menegang dengan keringat dingin yang bercucuran.
“Ha..ha..hhaaa.. kau takut padaku sekarang. Pergilah aku memaafkan ketidaksopananmu.” Dia menatapku tidak percaya, pandangannya menatap sekeliling sepi. “ya.. aku akan pergi tuan Jendral” ucapnya tercekat.
************
Pov. E
“sial..sial..sial! aku bodoh mengikuti ajakannya. Pheww. Cerobohnya aku menanyakan identitasnya saat ini. Ini ujung dunia sebelah mana!!!!” keluhku menjauh. Aku berjalan menelusuri jalanan yang ku pikir kami lewati tadi. Sepanjang jalan nampak kerikil ku pungut sebuah kerikil dan menimbangnya di tanganku. “jika kau anggap aku gadis yang baik dan penurut, tolong kau pikir lagi Jendral” gumamku melempar kerikil ke arahnya. He..he..hee...
__ADS_1
************