SINAR BULAN

SINAR BULAN
Vol. 2 E: 17


__ADS_3

Perjalanan panjang membuat punggungku terasa sakit. “ukh.. capek sekali” keluhku saat menunggu di ruang tunggu bandara. “kau jangan mengeluh saja Ul. Ini baru awal kita” ucap jicob dingin.


“hingga kapan mereka sampai menjemput kita..? aku ingin segera tidur” keluhku bersandar di bahu Yanuar.


“kau tanpa ijin enak saja sandaran”


“em.. anggap saja nanti kau ku traktir makan keju” ucapku setengah sadar


“uhh.. keju? Kau habiskan saja sendiri aku tak suka” ucap Yanuar tak berperasaan.


“permisi”


Ku tatap dua laki-laki berpakaian militer menyapa jicob


“anda diperintah jenderal Yue Guang Lim..?”


“ya.. saya John dan ini adik saya Aabey”


“salam kenal. Saya Jicob, dia Ahn, Yanuar dan...”


“Ul” ucapku tak mau menyebutkan nama asliku.


“nona, anda teman tuan jenderal..?”


“ya” ucapku singkat.


“kami membawa dua Jeep karena jenderal ingin bertemu dengan tuan jicob”


“baiklah Yanuar kau ikut aku, Ahn tolong kau dampingi Ul pergi ke paviliun”


“tapi,... aku juga ingin...”


“kau sudah capek, kau rehat saja dulu nanti baru ngobrol lagi” ucap jicob mencegahku menyelesaikan perkataan.


“tidak, aku sudah baikan, sekarang boleh ikutkan..?” ucapku mencoba bersemangat


“jangan kau goyahkan lagi hati Jenderal, Ul” bisik Jicob membuatku terdiam. Terasa sesak di hatiku, seakan kesempatan bertemu dengannya sebelum pemberkatan hanya angan semu.


***********


Perjalanan menuju Paviliun kami lalui dalam bungkam. Aku hanya termenung menatap pemandangan


luar.


“mana Tulipnya Ul..?” ucap Ahn mencoba mengajakku bicara


“ini perkebunan tulip Ahn”


“apa perkebunan ini mati..?”


“ayolah ini bulan apa...?”

__ADS_1


“kan ini bulan ...”


“ya.. ini musim gugur. mana mungkin ada tulip di cuaca berangin” sambungku sebelum Ahn menyelesaikan perkataannya


“sungguh disayangkan”


“ya... kau kurang beruntung” ucapku setengah tertidur.


Malam hari....


Sayup-sayup ku padarkan pandangan. Nampak sekat yang ada di depanku. Aku tertidur di ruangan belakang sekat sebuah kamar. Dibaliknya terdengan obrolan suara dari orang yang familier bagiku.


“apa dia belum bangun..?”


“belum, mungkin kelelahan karena perjalanan panjang ini jenderal”


“apa kalian teman-temannya..?”


“ya jenderal”


“baguslah, aku tidak khawatir lagi”


“Jenderal... apa kau mencampakkan dia..?”


“bagaimana mungkin..? dengan kalian semua dia bahagia.”


“bagaimana dengan anda..?”


Apa aku tidak salah dengar..? dia disini. Dia jenderal Yue, ingin sekali aku berlari keluar dari


ruangan ini. ingin sekali aku memelukknya, menanyakan kabarnya.


“hati anda jangan goyah lagi jenderal” ucap Jicob memohon.


“hatiku sudah ku kubur sekian lama. Apa masih ada yang tersisa” ucap suara laki-laki itu terdengan melangkah menjauh.


Kriek...


“kau menguping Ul,...?”


“Ahn..? apakah itu dia..?”


“aku tidak kenal Ul”


“Ahn kenapa pertemuan singkat bisa sesakit ini..?”


“teguhkan dirimu Ul” ucap Ahn menggenggam tanganku, menuntunku keluar.


Di ruangan ini kosong, entah kemana Jicob dan lainnya pergi


“Ahn, apa kau sibuk..?”

__ADS_1


“tidak sesibuk dirimu Ul”


“apakah kau mau ku ajak berjalan disekitar perkebunan ini..?”


“jika boleh tentu saja aku mau Ul”


“terima kasih Ahn” genggam tangan Ul pada tangan Ahn begitu erat.


Srak..srakk...


Perkebunan yang nampak kosong ini membuat hatiku terasa hampa.


“Ul, sejak kapan kau mengenal jenderal Yue..? kau orang hebat ya ternyata”


“aku hanya bertemu dengannya saat sambutan saja”


“aka kau jatuh cinta pandangan pertama..?”


“cinta..? tidak. Kau jangan bergurau Ahn”


“jika bukan cinta, lantas apa..? kau seperti kehilangan separuh hidupmu saat tau kebenarannya”


“bukan seperti itu, jenderal Yue cukup baik. Bagaimana dibandingkan denganku yang tak punya apa-apa”


“untunglah. Kau sadah sejak dini, jika tidak aku khawatir kau lebih sakit hati”


“hahahaha... aku sudah terlalu lama sakit hati, bagaimana mungkin ada sakit hati kedua kalinya Ahn”


“Ul... kau menangis”


“tidak, aku tidak tau. Setiap membicarakan Yue, bukan Jenderal Yue, air mataku tidak terkontrol.”


“jangan membendung perasaanmu Ul.”


“aku tidak memiliki apapun untuk ku bendung”


“Ul..... bersandarlah. Anggap saja aku pohon yang bisa kau sandari saat kau lelah”


Hiks...hiks.....


“kenapa dunia begitu membenciku Ahn..?”


“apa dosaku..? kenapa setiap yang ku perjuangkan harus kembali ke awal”


“kenapa aku tak pernah benar-benar paham orang disekitarku”


“aku..aku selalu merasa bahwa Yue adalah orang itu. Laki-laki di setiap mimpiku. Laki-laki yang selalu menatapku penuh perhatian. Yue adalah laki-laki itu. Laki-laki yang selalu muncul di mimpiku. Kenapa kenyataan lebih menakutkan dibanding mimpi, Ahn..?”


“Ul.... dia laki-laki hebat, yang hanya dalam mimpipun kau harapkan” ucap Ahn berbisik.


Hiks...hiks...hiks.....

__ADS_1


*************


__ADS_2