
“bagaimana dengan permainan ToJ..?” saranku pada mereka bertiga.
“ToJ..?” tanya Jicob heran
“ok tidak masalah” ucap Im dan Yanuar berpindah duduk.
Kami duduk melingkar. Sembari aku mengerjakan PR kami bermain sembari menanti hujan reda.
“pakai pulpen ya” ucap yanuar mengeluarkan pen dari tasku.
“hei ambil barang orang tanpa permisi” komenku.
“1, 2, 3.... oke karena itu pulpenku aku yang memulai ya.” Ucapku sembari memutar pulpen
Arah panah pada ujung pen mengarak ke Yanuar.
“enggak.. enggak ini gak adil” ucap Yanuar.
“oke aku yang mutar” ucap Jicob menggantikan diriku.
Arah pen kembali ke arah Yanuar
“ok aku yang tanya, tantangan or jujur..?”
“Jujur” ucap yanuar tanpa ragu
“kau pernah pacaran..?” tanyaku mencoba membuat ekspresi serius
“hei, yanuar itu playboy waktu SMP” ucap Im menyindir.
“yanuar..?” tanyaku tak percaya
“ya.. 8 kali.” Ucapnya cuek
“8 kali..? kau sungguh playboy” ucapku memicingkan mata
“tapi aku tak bermaksud seperti itu. Aku juga korban.”
“korban..? apa ada playboy jadi korban..?” ucapku setengah tak percaya
__ADS_1
“aku diputuskan bukan aku yang memutuskan” ucap yanuar menunduk malu
“kenapa..?” tanyaku berbisik
“pelarian mungkin. Hehehehe aku bukan tipe yang bisa serius. Mungkin mereka butuh tempat curhat
dan pelarian, well aku playboy dalam artian baik bukan..?” ucap yanuar mencoba tersenyum bangga.
“oke, selanjutnya yanuar putarlah” ucapku sembari beralih melanjutkan tulisan.
“ujung pen mengarah ke Im” ucap yanuar
“Im kau pernah pacaran..?” tanya Yanuar menggebu ingin mencari teman senasib
“tidak”
“kenapa kau gak pacaran atau pura-pura mengaku pacaran sih biar permainan ini seru” ucap yanuar kecewa
“baiklah aku memilih tantangan” ucap Im
“kau tembak Ul atau push up 50 kali” ucap Jicob tanpa pikir panjang
“bagaimana aku nembak Ul. Suka aja enggak, aku lebih memilih push up” ucap Im sembari bersiap.
Kesempatan mereka menghitung Im yang sedang push up ku kebut pr ku sebelum aku kenak giliran.
45 menit berlalu...
“oke kalian sudah selesai, ayo pulag” bujuk Im sembari merapikan lengan baju.
“hey jicob belum” ucapku sembari merebut pen
“baiklah tanpa alat putar. Kalian berdua gantian jujur” ucap Im menengahi.
“jicob kau pernah pacaran..?” tanyaku hati-hati
“ya. Dia cinta pertamaku. Walau usia dia lebih tua 3 tahun dariku”
“kau suka yang tua-tua ya..” ucapku meledek
__ADS_1
“ya dia kakak kelasku sewaktu di kota B. Kita satu komplek”
“terus kau malu mengungkapkan perasaanmu jadi kau pergi ngungsi ke sini..?” tebakku asal-asalan
“bukan, kami sempat berpacaran 2 bulan lamanya tapi aku terpaksa memutuskan hubungan dirinya”
“kau sudah bosan..?” ucap yanuar menebak
“bukan, dia yang minta agar aku memutuskan dia jika tak mampu”
“tidak mampu...? kau kekurangan uang untuk jajan di kantin..?” ucap Im heran
“sebenarnya mungkin aku sudah terhitung lulus SMA dua tahun lebih tua dari kalian” ucap Jicob mengaku
“Jadi demi menghindarinya kau masuk SMA lagi..?” ucapku menebak
“bukan. Aku putus sekolah sedikit lama dan hanya mengambil kejar paket setara SMA. Saat berpacaran dengan dia demi mencoba membuktikan serius ingin bersamanya” lanjut Jicob serius
“lalu..?”
“selasa sore, akhir hubungan kami. Sewaktu aku dan dia bersama-sama jalan ke taman hiburan. Dia mengaku ingin serius dan meminta untuk aku nikahi. Padahal sewaktu itu aku masih menjaga lilis adikku dan tak mungkin berumah tangga. Aku bilang padanya nunggu setahun atau dua tahun lagi saja”
“kau bertindak macam-macam..?” tebakku kaget
“bukan.. bahkan sebenarnya aku tak tau. Sejak berbacaran, kami hanya berjalan saat akhir pekan atau saat waktu luang. Aku tak pernah bermalam dengannya. Bagaimana mungkin aku merusak harga diri wanita yang aku cintai. Justru aku ingin menjaganya agar tetap terhormat”
“lantas kenapa kau putus..?”
“pergaulan bebas. Dia terjerat pergaulan bebas dengan sepupunya. Bahkan itu jauh sebelum berpacaran denganku. Bisa dibilang dia menerima perasaanku agar mau mengakui anak yang dikandungnya”
“kau dijebak..?” ucap Im lirih
“ya. Awalnya aku berpikir tak apa toh wanita itu yang aku cintai. Tapi saat aku memikirkan lilis, tanggung jawabku yang sebenarnya. Aku tak mau dimakan egoku sendiri” ucap Jicob mencengkram ujung pen permainan.
“jadi..?” tanyaku
“jadi, aku memutuskan dia, dia mau menikah ataupun sesuka hatinya terserah dia.” Ucap Jicob
tersenyum. Menandakan aku harus mulai bercerita.
__ADS_1
“aku bukan siapa-siapa. Apa yang menarik dariku” ucapku mengelak mengambil pen permainan dan berdiri “ayok pulang hujan sudah berhenti, hari sudah petang” ucapku mengambil tas sebelum mendengar omelan mereka. aku berlalu keluar, lebih baik aku pulang pikirku.