
Terkadang hidup seperti mimpi
Tapi
Aku terjebak dalam impian hidup
Hingga
Aku termenung
Impian hidupku hanyalah mimpi
Percuma
**********
Pov. E
“hei.. usai liburan kau jadi semakin aneh” tegur Lewis. Akupun tersadar dari lamunan “aihh kau sunggu mengganggu Lewis. Enyahlah. Aku ingin sendiri” ucapku berjalan mendahuluinya.
“hei.. tunggulah. Ada yang mau aku sampaikan” ucapnya mengikutiku. Ku tatap dia, laki-laki tinggi dengan rambut keriting bermata biru itu, dia menyeringai. “kau baru sadar kalau aku cukup mempesonakan?” godanya. “kau mau bilang apa?” ucapku mengalihkan topik.
“perpisahan, well pesta perpisahan tiga hari lagi kau akan mengajak siapa? Ajak aku yaa, ku mohon” ucapnya dengan ekspresi puppy eyes.
“pesta? Pesta apa maksudmu?”
__ADS_1
“pesta perpisahan untuk kalian, termasuk kau juga”
“oh, okay” ucapku setengah melamun.
“bye... karena kau sudah memilihku biarkan gaun dan sepatunya aku yang pilih” ucap Lewis berlari pergi.
Tidak...tidak bagaimana aku diatur orang lain ini tidak boleh. “dasar ceroboh kau!” ucapku memukul kepalaku sendiri dengan buku.
Asrama menjadi lebih ramai dibandingkan sebelumnya
“Mado, kau akan mengajak siapa?” tanyaku pada perempuan bermata hijau berambut pirang. “aku diajak Jorshi, kau sendiri...?”
“uhumm kita diajak. Kenapa? Ada yang salah?”, “tidak..tidak. saya bantu kamu memilih gaun jika boleh.” Ucapku tersenyum, dalam hatiku ‘Lewis dasar kau penipu! Jelas-jelas kau yang mengajak aku tapi gengsi berkata itu. Awas saja kau.’
“pilihanmu menarik ya..” ucap Mado mencoba beberapa stel gaun yang sudah disiapkan pihak asrama. Dia mengenakan gaun berwarna hijau toska tanpa lengan dengan belt perak dan wedges senada membuatnya nampak lebih segar. “kau nampak berbeda nona Mado” ucapku mendekatinya. “mau sedikit feminim?” tanyaku sembari membawa hiasan rambut.
“coba saja...” ucap mado mengepang rambutnya menyamping. “you’re pretty girl” ucapku tersenyum.
“kau sendiri bagaimana?” tanya Mado melihatku belum memilih. Ku lirik beberapa pakaian yang masih menggantung belum ada yang mengambil. Pandanganku tertuju pada gaun panjang berwarna kuning dengan kerah sanghai. “apa tidak terlalu sederhana?” tanya Mado “tak apa aku bisa menambahkan hiasan sedikit dibagian pinggang ucapku tertawa bangga.
__ADS_1
Tengah malam dalam kamar asrama pikiranku gusar. apa kabar dirinya si tuan Jendral. Entah kenapa hari ini terasa sedikit rindu dengannya. Ingin sekali mengusilinya. Haisss.. ku bangunkan diri dan mengambil beberapa kertas di meja.
*************
3 hari kemudian, Gedung olahraga milik sekolah
Ku lihat jam tanganku sudah pukul 8 malam, sudah banyak kawan-kawan yang masuk berpasangan.
Lewis menyuruhku menunggu di parkiran mobil tapi sudah sejam yang lalu belum juga muncul. “cih. Sial. Seharusnya aku tak mau berpasangan dengan orang yang tak tepat waktu. Aish... bodohnya kau undangan juga dia yang memegang.” Aku menggerutu kesal. Ku ambil high heel yang sudah capek aku memakainya dan ku lempar sembarangan arah.
Tuk.. “hai! Siapa disana?” teriak seorang laki-laki dari arah Utara parkiran. Dia memakai jas berwarna gading rambutnya disisir ke belakang begitu rapi dan elegan. Dia berjalan kearahku, pandanganku terpengangah melihat tangannya yang membawa high heel kepunyaanku.
“permisi nona, anda apa kenal dengan pemilik sepatu kaca ini?” ucapnya menggantung high heel tepat di depan wajahku. “aku aku tidak kenal. Mungkin cinderella yang kehilangan” ucapku berpura tidak tau, dalam hati ‘sial.. kau dasar sial kenapa kau berurusan dengan Jendral itu lagi’.
“oh, baiklah kini aku punya barang bukti untuk benar-benar sampai di pengadilan.” Ucapnya menatapku “aiiissh. Tolong maafkan aku ya. Tolong tuan Jendral” ucapku menyatukan tangan memohon maaf.
“kau punya kelainan atau kebiasaan melempar kepala orang heh” ucapnya menjitak dahiku
“aku tidak sengaja. Aku hanya kesal saja, tolong kembalikanlah, mana mungkin aku ke pesta hanya bersepatu sebelah” ucapku mengambil paksa high heelku.
“hoi! Rupanya kau disana” ucap suara Lewis mendekati. “siapa dia?” tanya tuan Jendral menatapku tajam “dia pasanganku hari ini tuan. Ku harap anda tidak datang menggodanya” ucap Lewis menarik tanganku pergi.
__ADS_1
Walau aku berjalan menjauh. Ku rasakan tatapan nanar yang seakan mengikuti kepergianku. Dia menakutiku.