SINAR BULAN

SINAR BULAN
6: Semusim Jumpa


__ADS_3

Dangsini himdeul ttaen naega wiro hagesseumnida


(saat engkau letih, aku akan melipurmu)


Naega himdeul ttaen dangsini nareul wirohae juseyo


(saat aku letih, mohon kau melipurku)


__________


Pov. E


“ma, ih nda

__ADS_1


pergi dulu... annyonghi kashipshiyo” teriakku berlari keluar rumah. Well, walau kelakuanku tidak sopan tapi bahasaku masih formal. “annyonghi kyesaeyo, nda” teriak ma sayup-sayup di telingaku.


Setengah berlari,


tanpa melihat sekeliling aku terburu menuju sekolahku. “pheww...” masih terengah-engah aku memasuki ruang kelas, langsung saja aku membungkuk di depan meja guru. “mianhamnida, saya terlambat” ucapku memelas. Ku dengar tawa kecil yang saling bersambung di belakangku. Kepala ku dongakkan dan meja itu kosong. Jlebb....


akupun mau tak mau harus ikut tertawa pula, pabo.


“ih nda, are you okay ?” seru seseorang menghampiriku. “ye” ucapku meringis malu. Ku lewati dirinya dan duduk di bangku ku. Ku hela nafas panjang, menutup mata menenangkan pikiran. Jebal.


“goden morgen” sapa seseorang memasuki kelasku. Ku lirik jadwal yang menempel di mejaku, ini sejarah atau pelajaran bahasa, batinku. “murid-murid hari ini bapak akan mengulas tentang setting saeguk dalam pembuatan film” seru suara yang menggelegar, dia guruku Mr. Park Yon Un. “tapi kenapa bapak pakai sapaan bahasa Prancis?” celetuk temanku Yun Hao Kim. “biar kalian tambah wawasan, dan bapak juga ingin akrab dengan perwakilan dari negara lain”, tancasnya. “oke, lihat slide yang bapak tampilkan di depan sana. Ini adalah beberapa potongan video beberapa setting pengambilan gambar untuk keperluan film saeguk.”


Ku lihat beberapa potongan video dari beberapa film yang juga sebagian tak asing di negaraku. Alur yang nampak lamban, penghayatan suasana masa lampau dengan pengambilan gambar alam sekitar yang nampak asri, tanah lapang, bangunan-bangunan batu dan papan yang nampak kokoh. Memang menarik, tapi ada rasa bosan, dan aku ingin sedikit berlebihan.

__ADS_1


2 jam kemudian...


Ku dudukan diriku di rerumputan taman sekolah yang dekat dengan danau buatan. Bermodal formulir ganda dengan alasan dulu aku masih bimbang ku tuliskan keluh kesah dan berbagai ketertarikanku pada negeri tulip. Ku lipat formulir ini dan memasukkannya kedalam amplop beserta beberapa file dokumentasi yang sudah ku buat selama kedatanganku di negeri gingseng. “aku ingin ke negeri tulip, mungkin ini kesempatan baik, sekali jalan dua bangsa, dua budaya berbeda aku kunjungi” ucapku bermonolog.


Tiga hari sudah tak ada balasan dari pihak perwakilan program, apa karena aku rakus, batinku. Ku aduk tak berselera bulgogi yang jadi makan malamku kali ini. “agi, kau benar akan meninggalkan aku?” tanya seorang laki-laki kecil yang tak lain adik angkatku. “aku capek harus bermain denganmu” ucapku berpura murung. “agi.. aku janji tidak nakal lagi, aku janji akan belajar, aku janji tidak membeli mainan lagi, aku janji tidak mengganggu agi bermain, aku janji asalkan agi tidak meninggalkanku.. hiks..hiks.. huaaaa!!” teriak dirinya berlari menemui Ma yang tak lain ibu angkatku.


“Ma.. aku hanya menggoda Hyun Oh, tolong jangan diambil hati” ucapku sungkan. “agi, kau putri bagiku, walau bukan dari perutku kau hadir di dunia ini. Kapanpun, apapun keputusanmu.” Ucap Ma membuatku merasa bersalah meminta lebih, ku peluk Ma dengan erat, dibalasnya pelukanku terasa hangat seperti pelukan ibuku sendiri. “aku janji, kelak tetap jadi anakmu lagi” ucapku tersenyum.


Ting tong....


Suara bel rumah berbunyi, segera Hyun Oh berlari ke arah pintu, ada seorang laki-laki bertamu, dia pak Ron. “selamat malam, maaf selarut ini saya tidak sopan bertamu di rumah anda nyonya Shin” sapa pak Ron membungkuk tanda hormat. “selamat malam pak Ron, anda tidak usah ke sini agi tidak jadi pergi” Sela Hyun Oh bersungut-sungut. Pak Ron mengangkat satu sisi alisnya tak percaya. “silahkann duduk pak Ron, saya buatkan anda minum sebentar, agi tolong temani pak Ron ngobrol dulu” ucap ma meninggalkan aku bersama pak Ron.


“kau bagaimana kabarnya?” sapa pak Ron menyalamiku. “aku sehat pak Ron, tapi sesuai dengan surat yang saya kirimkan, semoga tidak ada penolakan harapku” ucapku berharap cemas. “kemasilah barangmu, esok pukul 9 pagi kau harus berangkat ke negeri tulip”. Deg... jantungku berdegup kencang, ada rasa haru bercampur lega. Besok 1 April, ya aku datang ke negeri tulip bersamaan dengan mekarnya perkebunan tulip.

__ADS_1


*************************


__ADS_2