SINAR BULAN

SINAR BULAN
10: Kau dan Aku Jumpa


__ADS_3

Penantian,sebuah penantian


panjang itu ada ujung


namun,


bila kau tak ingat sosok itu


haruskah kau


mengeluh pada waktu?


____________


Pov. Yue


"kau..? tau bahasa negara Sia?" tanyanya dan ku jawab dengan anggukan. “ah..syukurlah. Lega rasanya. Kau tau ? lidahku kaku akhir-akhir ini melafalkan bahasa disini. Untunglah aku bisa melafalkan bahasa negaraku. Well, untuk sementara ini. He..he..” ucapnya penuh antusias, akupun tersenyum menyetujuinya.

__ADS_1


“kau akan kemana ?” tanyanya lagi. “entah” jawabku singkat.


“aishh..sungguh menjengkelkan. Berhari-hari aku hanya bisa bicara bahasa lain, kini bertemu denganmu tapi teracuhkan” dia menggerutu, dan tiba-tiba dia berada di depanku, ya wajah kami hanya tersisa jarak beberapa centi. "ah.. kuning yang cantik!" ucapnya mengambil paksa buku yang ku pegang. “kau?!” ucapku mengernyitkan alis.


 “apa kau sekarang mempedulikan aku? Heh?” tantangnya. “bagaimana kau bisa tau kata itu?” tanyaku terperangkap dalam ingatan tentang dia. “oh.. ini” ucapnya menunjuk sampul buku bacaanku.


“kau tak tau kemanakan? Ayo ikut denganku” ucapnya menarik lenganku pergi dari gerbong kereta yang sudah sampai di stasiun.


Banyak lalu lalang orang di pusat perbelanjaan dekat stasiun ini. “kita kemana?” tanyaku berhenti. “oh ayolah.. kau tak tau! Demi mengirit uang saku studi disini aku harus pandai putar otak.”jawabnya bersungut-sungut.


Diujung stasiun, ke arah Barat dari pusat perbelanjaan, cafe kecil yang nampak tidak terlalu ramai. “tolong meja untuk dua orang khusus” ucapku pada pelayan yang mengajak kami ke tempat yang lebih privasi jauh dari lalu lalang orang.


Dua piring spagetti, dua latte tanpa gula beserta nastar, sepiring raviolli,  slice keju edam, dan semangkuk sup krim bawang. Meja kami penuh dengan aroma keju dan kopi. “jika memang ingin makan,\ kenapa kau memesan begitu banyak makanan ?” tanyanya terheran. “kau juga makanlah” ucapku sembari menaburkan lada hitam di sup krimku.


Ku rasakan tatapan geram di depanku. Wajah yang penuh tanda tanya, ku tatap singkat dirinya dan menyeringai, puas.


Walau tempat ini privasi, tapi keberadaannya seakan suara satu orang penuh dalam ruangan. “keju edam disini terasa spesial. Jauh lebih baik dari yang aku bayangkan.” Ucapnya mencicipi irisan keju, yang sebenarnya ada beberapa jenis dalam satu piring itu.

__ADS_1


“woah.. walau bau bawangnya kuat, ternyata terasa lezat. Kha...kha... tidak buruk untuk rongga mulutku” ucapnya mencium aromanya sendiri.


“raviolli, spagetti? Apa tak ada daging atau ayam berempah? “ keluhnya padaku. “kalau kau mau pesanlah. Itu buang saja” ucapku menunjuk piring yang masih penuh. “kau! huh!”


keluhnya menyantap raviolli dan spagetti bergantian.


“akh... kau penguntit!” tuduhnya padaku. “pada orang yang semeja makan kau anggap aku penguntit ?” tanyaku terheran. “lantas apa? Baaaagaima..na kahu tau hhaku suka latte tanfa gula” ucapnya dengan nastar yang masih di mulut, membuat ucapannya tidak jelas.


“kau benar-benar. Huh!” ucapku menggeleng kepala.


“semuanya, akan aku bayar, kau tenang saja. Ucapnya padaku dan memanggil pelayan. “ehem...  pelayan, anda tau saya ? bekerja samalah sedikit” ucapku bergumam disebelahnya. “nona, semuanya ini” ucap pelayan memberikan tanda bukti pesanan. Ku lihat matanya yang terbelalak “kau tak salah hitung ? ini sama seperti biaya akomondasi makanku setengah bulan.” Ucapnya tercengang.


“sudahlah. Diam dan ikuti aku” ucapku meletakkan kartu di nampan pelayan. “tunggu sebentar tuan.” Ucap si pelayan berlalu.


“kau membohongiku!” ucapnya menuding wajahku. “kau cukup berani ya..” tantangku. “harga itu tidak normal! Bahkan terkesan dilebih-lebihkan! Kau mengganti  nominalnyakan?” tuduhnya menunjuk di hidungku. “menurutmu ? apa aku mampu melakukan hal itu?” tantangku mencondongkan tubuh ke arahnya. Diam terdiam, bungkam.


***************

__ADS_1


__ADS_2