
Pov.Yue
Tuk... ada benda berat yang menghantam bagian belakang kepalaku. “kerikil ? bagaimana mungkin ada kerikil
terlempar sendiri.” Ucapku keras dengan sengaja. Sepanjang hamparan tulipn nampak pita kuning berkibar. Ya itu dia, pelaku yang bersembunyi. Akupun melintas mengambil jalan lain di hamparan tulip ini. ‘kau yang memulainya, kau yang memancingku, jangan salahkan aku jika kembali’ sambung batinku.
**********
Pov. E
Kung...kung...kung detak jantungku terasa berdetak cepat. Sosok itu tidak nampak lagi, dia tidak benar marah padaku kan. Aku pun bangun dari persembunyianku, ku padarkan pandangan. sepi. Dia tidak ada. Aku disini sendiri.
Aku berlari “Jendral!” teriakku. Tak ada yang menyahut. Hanya tulip yang luas, aku seorang diri. “Jendral!!!!!!” teriakku terasa kalut.
__ADS_1
Hos...hos...hos... “Jendral! Ku mohon kembalilah!” teriakku sekencang-kencangnya. Lagi-lagi tak ada jawaban, aku tertunduk, diam.
Terasa dekapan hangat dari belakang tubuhku. Deg..deg..deg.. jantungku memburu, ingin memastikan sosok itu, tapi aku terperangkap. Pelukannya terlalu kuat. “diamlah.. aku ingin menghukummu.” Bisiknya lembut.
“tuuan..tuan Jendral..? kau kah itu?” ucapku “ya” balasnya dari belakangku. “tolong.. jangan pergi. Kembalilah” ucapku menggenggam tangannya yang masih memelukku. “ssttt.. diamlah sebentar, aku hanya ingin memelukmu. Beri waktu aku sebentar saja, ku mohon” ucapannya serak, penuh dengan emosi “ya” jawabku.
Ku rasakan kepala yang bersandar ditengkuk ku. Pelukannya melonggar, dan brukk.... dia terjatuh tak sadarkan
diri. “jendral, tuan jendral? Bangun..bangun ku mohon. Jangan membuatku khawatir” ucapku menepuk pipinya. Hukk..hukkk...hukk... “aku tak apa hanya sedikit lelah” ucapnya membuka mata. “anda bisa bangun? Tunggu sebentar” ucapku meninggalkannya menuju sungai yang ada di bawah jembatan. Tubuh tuan Jendral terasa panas, mungkin dia demam. Ku sobek sedikit bajuku untuk akin kompresnya.
kembali, mengompres kepalanya. Ku dudukan diriku meminjamkan kakiku untuk alas bersandarnya. “tuan Jendral” ucapku menatap dirinya yang sedari tadi diam. “sebentar saja ku mohon, seperti ini” ucapnya menggenggam tanganku dan terpejam.
Wajah tidurnya nampak seperti malaikat. Mungkin malaikat yang datang dihidupku. Ku telusuri garis tangannya nampak urat nadi diantara bekas guratan luka. Pergelangannya penuh bekas guratan yang nyaris berulang.
__ADS_1
Dia nampak tidak sehat, tubuhnya berkeringat dingin, berinisiatif ku buka beberapa kancing kerah kaosnya banyak keringat. Deg... ku alihkan pandanganku nampak banyak bekas luka yang lebam menghitam, nampak beberapa jahitan juga di sebelah kiri dadanya.
Tak terasa air mataku menetes, aku tak tau sosok yang kini ada dalam pangkuanku orang seperti apa. Terlalu
banyak bekas luka ditubuhnya. Aku takut, tangisku ini sebatas kasihan yang justru tidak dia suka. “kau laki-laki tegar tuan Jendral” ucapku bergumam.
Ku padarkan pandanganku pada tulip yang menari dihembus angin “kau tau tuan Jendral, aku tak tau sejak kapan aku mengidamkan tulip, apalagi tulip yang masih setengah menguncup berwarna kuning” walau warna tulip katanya punya banyak arti dan lambang, tapi tulip kuninglah yang aku suka.” Ucapku bermonolog bergantian menatap dia yang masih terpejam.
“tulip, jadi bunga asing pertama yang aku kenal. Sebenarnya itu tak disengaja, ku hanya tau dari buku cerita
yang diberikan teman masa kecilku, dulu dia janji akan menghubungiku, well tapi aku itu apa? Hanya teman yang sedikit beruntung jadi memori singkat dirinya.” ucapku mengingat anak laki-laki bermata sipit saat pagi hari bersekolah.
Ku pandang lagi tuan Jendral “tuan bangunlah, aku terlihat bodoh bercerita sendirian disini” ucapku menyentuh pipinya.
__ADS_1
************