SINAR BULAN

SINAR BULAN
Vol. 2 E: 11


__ADS_3

1 bulan kemudian...


Tring...


‘ul, kau ada dimana..?’


‘apa kau lupa..? ini hari gladi bersih sebelum acara besok’


‘ul kau tak berniat membuatku double job kan..?’ Pesan beruntun dari myeong Im di ponselku.


Ku pencet tombol panggil ke nomor Jicob.


“halo.. Jicob, tolong bilang pada Im aku akan datang agak sore saja. Ini masih repot dirumah” ucapku di ponsel.


“oho.. kau enak-enakan di rumah aku harus angkat-angkat atribut sendiri. Bersiaplah atau aku menjemputmu” suara dingin tak pernah bergurau, ya suara Im.


Sudah jadi hal lumrah setiap Im menghubungiku tentu ponsel Jicob sedang dipegangnya juga, seakan tau kelemahanku.


“tidak-tidak. Aku sudah sampai setengah jalan masih antri angkot tunggu saja di sekolahan” jawabku buru-buru sambil menutup telepon.


Segera saja aku bergegas mengambil handuk, liburan akhir semester yang biasanya waktu bagiku untuk jalan-jalan berswafoto kini dihabiskan untuk organisasi. Sungguh kehidupan kelas 12 ku yang malang T_T.


Usai beberes ku ambil baju PDL dan celana training. Beberapa buku dan laptop ku masukkan tas.


“bu saya berangkat dulu” pamitku pada ibu yang sedang di kebun belakang rumah.


“ya... jangan lupa pulang” jawab ibuku. Beliau sudah maklum, walaupun wali kelas berkali-kali menegurku tapi semuanya dianggap ibu sebagai tanggung jawabku. Ibu hanya mengingatkan dan aku menanggung konsekuensinya.


Tepat 2 km usai aku mengayuh sepeda dari rumah, ku hentikan angkot yang melaju di halte depan minimarket.


Cukup senggang dan ku pilih tempat duduk samping pak sopir. Setengah melamun sayup-sayup tidak sengaja ku mendengar obrolan dua gadis di kursi penumpang, mungkin teman sekolahku.


“ya.. dia anak 12 bahasa. Lihat saja lagi”


“memang sih seperti tidak normal. Mungkin Ahn cuman kasihan saja di organisasi gak mungkin Ahn


tertarik dengan gadis seperti itu”


“desas desus katanya dia anak pungut yang dibuang”


“pantas saja wajah dia tidak sama dengan ortunya.”


“iya. Mungkin aslinya dia jelek. Hahaha”


“eh, jangan keras-keras ntar ada yang nguping”


“hu biarin aja biar nyadar diri. Anak reguler kok sok akrab dengan anak intensif”

__ADS_1


“tapi bukannya dia perwakilan juara lomba sastra yang dari negeri tulip ya”


“hanya sebulan, bukan sesuatu yang dibanggakan Hen”


“iya sih El” Huh.. telingaku terasa


panas, sabar..sabar... kau tidak punya urusan, sabar.


“neng udah nyampek” ucap pak supir berhenti di warkop sebelum terminal diseberang sekolahan.


“ini pak makasi” ucapku memberikan uang dan beranjak keluar.


Sudah jadi kebiasaanku turun di depan warkop untuk membeli es dulu sebelum masuk ke wilayah sekolah, alasannya es di warkop bungkusnya jumbo dan lebih murah dibandingkan kantin sekolah.


“hei.. Ul” teriak seseorang dari seberang jalan.


“ya.. kau mau beli es juga..?” sapaku menghampirinya sembari menenteng tiga bungkus es.


“enggak. Aku mau pulang sebentar. Kau ditunggu Im. Dia beberes sendiri di markas.”


“kau gak bantu..?” tanyaku heran


“aku mau ke puskesmas tempat kerja kak Bin nyusul Jicob dan kak Bagas”


“ok. Hati-hati” ucapku melambai tangan.


“permisi, ada yang mau


es..?” ucapku mencoba ramah pada Im yang serius menata arsip.


“kau datang juga”


ucapnya memberikan aku buku catatan miliknya


“kau sudah selesai merekap ini semua..?” ucapku kagum dengan inventaris dan daftar keperluan yang sudah prepair.


“besok hari H. Bagaimana mungkin tidak selesai. Tolong kau bantu cek di laptop” ucapnya menyerahkan laptop miliknya.


“semuanya sudah rapi dan tidak ada salah hitung.” Komentarku


“font dan letak tulisan..?”


“sudah sesuai buku panduan” ucapku


Dia diam-diam mengambil semua tugas. Aku merasa canggung seakan melemparkan tugas padanya seorang diri.


“sepertinya urusan file dan dokumen sudah beres. Bagaimana jika aku bantu merapikan keperluan upacara besok sebelum peserta lain datang” tanyaku berharap bisa membantu.

__ADS_1


“ya coba kau cek mikrofon, buku protokol dan petugas upacara yang lain” ucapnya tak beranjak sembari membuka sebungkus es yang ku bawa.


“lho...? kok kau minum yang jeruk nipis..? kau kerja begadang malah parah minum yang masam-masam.” Ucapku sembari merebut es darinya


“sama saja. Dibandingkan es cokelat yang kau minum hanya membuat ngantuk” sindirnya merebut kembali.


“Ahn, oh bukan myeong Im. maaf dan terima kasih ya kau sudah mau mengambil alih tugasku. Memang benar aku anak reguler gak sebanding dengan kemampuanmu” ucapku sedikit terpojok karena omongan dua gadis di angkot tadi.


“Ul, aku lapar. Kau bisa pakai parafin..?”


“kau mau aku masak apa..?” tanyaku terkejut


“buka saja persediaan ada apa saja”


“mi..?”


“membosankan”


“mi buatanku beda” ucapku bangga sembari menyalakan lilin parafin dan panci nesting ku buat mi instan pakai bahan ala kadar.


“kandungan bumbunya apa tidak bahaya dicampur begitu saja” komen Im


“kompornya sudah mati ini menghemat tempat dan lebih sedap” ucapku sembari mengambil tas dan ku ambil sumpit yang selalu tersedia di tasku.


“kau tak pindahkan dulu minya..?” tanya Im heran


“kau mau makan apa menilai cara masakku. Aku juga belum makan, aku punya sumpit, wadah panci


seperti ini juga tak apa” ucapku memberinya sebungkus sumpit yang masih


terkemas rapih.


Srupppp... mi rasa kare dengan kuah dan bumbu yang terasa kental membuat lidahku penuh dengan aroma.


Ku lihat Im hanya memegangi sumpit yang masih terbungkus.


“kau tak suka..? ya udah aku habiskan sendiri” ucapku melanjutkan makan


“emmm... aku lapar. Tapi bagaimana pakainya.. aku sruput aja mi dan kuah dari pancinya” ucap Im sedikit melunak


“yes.. aku tau kelemahanmu hahahaha dasar anak intensif gak harus merasa perfect segala bidang” ucapku sedikit merasa berguna kuambil mi dari sumpitku dan mengarahkannya ke mulut Im.


“maaf tidak sopan menggunakan sumpit yang aku pakai, tapi jika kau tidak mau kelaparan ya buka mulutmu” ucapku tanpa menatap ke arahnya


“aku Cuma takut tertular rabies. Hahahahaha..” ucap Im melahap mi dari sumpitku.


Setidaknya satu hari ini bukan waktu yang sia-sia. Sebungkus mi instan, seplastik es jeruk nipis, dan suapan sumpit untuk kawan terasa hangat dan akrab di hatiku.

__ADS_1


__ADS_2