
*************
Pov.Yue
Sesampainya keluar jalur bebas hambatan di kota J kemacetan mulai terasa. Belum lagi tiap persimpangan ada anak-anak yang mengetuk kaca mobil saat lampu merah. "Pheww.. Sungguh melelahkan" gerutuku. Dengan senyum kecil pak sopir membuka pembicaraan "baru kesini ya pak? Jangan heran. Kota J yang jadi pusat kota metropolitan emang beginilah keadaannya. Rame! Ya..apa boleh buat pak jadi orang kecil ma nedo neriman kata emak saya". "Ha..ha..ha iya pak Ama saya juga selalu seperti itu dulu".
"Ini pak sudah sampai". "Terima kasih" Ucapku memberi ongkos pada pak supir. "Gak diturunin di hotel aja pak? Masak orang sekaya bapak turun di emperan pasar. Kota J kan kota besar pak." Ku gelengkan kepalaku sebagai jawaban.
__ADS_1
Derr..derr.. Splaash.. Suara guntur beserta petir nampak di langit yang gelap mendung. Segera saja bersama para pejalan kaki lainnya aku berlari di emperan toko yang sedang tutup.
Tes..tes..tes.. Hujan baru reda usai tengah malam. Ku lihat jam tanganku, pukul 02.00 dini hari. Ku bentangkan matras sebagai alas tidur hari ini dan bergumam "john terima kasih".
"Heh! Bangun! Enak aje luh. Tidur diemperan toko ane! Sori aje bukannya galak. Ane juga butuh makan, kalo toko belum ane buka rejeki bisa dipatok ayam" Akupun terbangun melihat seorang pengemis yang masih tertidur di toko seberang. Segera pula ku kemasi matrasku sebelum penilik toko tempatku datang mengusir. Ku lihat jam tangan pukul 07.00 pagi segera akupun mencari toilet umum untuk membersihkan diri.
45 menit kemudian...
__ADS_1
"Jendral Yue Guang Lim, maaf membuat anda menunggu" ucap seorang pria membungkuk di depanku. "Bangunlah. Jangan membuat aku mencolok. Kabar apa yang kau punya Jicob?" Tanyaku sembari menyeruput Latte tanpa gula. "Ini laporan saya tolong diperiksa" ucap dirinya memberikan file dalam laptop yang dibawanya.
"Dia baik-baik saja. Dia tumbuh dengan sehat. Adik saya sekarang menjadi kurir di kota B selama perlombaan dia. Akhir-akhir ini dia nampak akrab dan beadaptasi dengan baik", "ya dia selalu akrab dengan siapapun" ucapku mengenang.
(Hei, selamat pagi. Siapa namamu? Kenapa kau diam saja? Masih pagi begini kok sudah keluar rumah, apa kau tidak sekolah? Dari wajah dan kulitmu kau seperti bukan dari kampung sini. Kau membawa bunga krisan ? Ah.. Kuning yang cantik) ku ingat pertemuanku dengan dirinya di masa kecil.
"Dan ini tentang pergaulan dia...", "jicob? Apa kau mau melakukan satu hal lagi untukku?". "Apapun jendral,akan saya lakukan". "Berapa usiamu? Selisih berapa dengan dirinya?", "selisih 2 tahun jendral". "Baiklah tolong antar aku sekarang ke kota B". Ucapku berdiri mendahului langkah Jicob.
__ADS_1