SINAR BULAN

SINAR BULAN
19: dansen


__ADS_3

Ketika awal tak berujung


Angan ku anggap harapan


Nyatanya


Harapan diujung curam


*********


Pov.Yue



Kau dengan siapa lagi. Aku tak paham dirimu kini orang seperti apa. Ku tatap dirimu, sosok bergaun kuning seperti gadis dalam legenda.



Ya. Aku hanya bisa kagum tanpa menaruh rasa.


“tuan Jendral. Anda sudah ditunggu. Mari masuk” ucap seorang laki-laki.



“ya, profesor Ji. Saya tersanjung dengan undangan anda”



Dalam gedung olahraga yang disulap menjadi ruang pesta berdominasi putih dan perak dengan gemerlap lampu warna-warni. Aku diantar menuju kursi undangan.



Tepat diseberang meja perjamuan. Berjajar penuh kursi tamu dengan para pelajar yang mengenakan gaun aneka rupa. Pandanganku menjelajah mencari sosok bergaun kuning.



“tuan anda bisa menyumbangkan sepatah dua kata ungkapan untuk para pelajar asing kali ini kan? Mohon jangan sungkan, tahun ini ada pelajar putri dari negara Sia asal anda dulu setidaknya hal ini meninggalkan kesan yang baik” bisik profesor Ji disebelahku.



Sambutan kepala sekolah, perwakilan program pelajar, dan beberapa penjabat setempat telah memakan waktu hampir 2 jam lamanya.



“selanjutnya karena kemurahan hati tuan militer yang membantu kelancaran kegiatan belajar kali ini, mari kita sambut kehadiran tuan Jendral Yue Guang Lim” ucap pembawa acara menyambut kedatanganku ke podium.



“selamat sore semuanya. Salam hangat dan salam persaudaraan dari kami selaku petugas militer di negara Tulip ini. Saya harap kedatangan kalian belajar disini bukan sesuatu yang memberatkan hati. Apapun ilmu yang kalian pelajari kami segenap tenaga pemerintah akan senantiasa menyokong keberlangsungan demi keberhasilan kalian. Semoga semester pendek yang kalian lalui, kelak menjadi pengingat anda semua kembali mengunjungi negeri Tulip ini.”



“tuan bukannya anda dari negara lain?” teriak seorang perempuan mengangkat tangan dari barisan pelajar.



“walau ini bukan sesi tanya jawab. Saya ulas kembali sambutan saya saat kedatangan kalian. Mungkin ada yang sudah lupa, saya maafkan. Benar! Saya dulunya hidup di negara Sia.tapi di negara ini saya juga punya keluarga angkat beserta surat kewarganegaraan.” Ucapku mencoba tersenyum



“bagaimana ada seorang patriotis tapi lupa negara sendiri?”



“saya bukan lupa negara sendiri. Walau bukan tempat asal saya dilahirkan, asalkan ikut berperan membela negara dan berguna dimanapun saya berada bukan masalah bukan?, dan saya tekankan lagi sesi kali ini bukan untuk tanya jawab. Terima kasih” ucapku tersenyum turun dari podium.



“sungguh mengejutkan ya.. pelajar dari berbagai negara yang ikut semester ini begitu kritis pada siapapu. Baiklah karena acara formal sudah selesai kami persilahkan para tamu dan undangan menikmati hidangan yang sudah disediakan, selamat malam selamat bersenang-senang” ucap pembawa acara mengakhiri sambutan.



Lampu yang awalnya terang bendenderang berganti meredup dan diiringi musik yang mulai mengeras.



Aku masih duduk ditempatku


“tuan Jendral terima kasih anda berbaik hati mau meladeni pelajar kami. Dialah perwakilan negara Sia.”



“bukan perkara besar. Aku kenal dia. Aku maklum dengan ucapannya” ucapku sembari undur diri.



“anda tak berpesta dulu tuan?”



“esok saya harus ke kantor pusat, terima kasih” ucapku berlalu menuju parkiran.


__________________


Pov.E



Dasar mulut tak punya tulang, cerobohnya aku blak-blakan bilang seperti itu dimuka umum.



“hei, sayang aku sungguh berani ya..” ucap mado gemas dengan diriku. “oh ayolah itu sudah berakhir” ucap lewis menggandeng kami menuju tempat makan.

__ADS_1



Uh.. hidangan berat dan penuh dengan keju membuatku hilang kendali. ‘apa kau tak mau menyuapiku?” goda Lewis merangkul pundakku dari belakang. “sial. Kau mengagetkan aku” ucapku mencibir.



Tanganku beralih mengambil taco yang tak taunya berisi cabe dan paprika “pedas, panas.. minum-minum” ucapku menuju Mado yang sedang membawa gelas.



“tunggu... jangan!”



Glekk...glekk.. “uh, syukurlah pedasnya hilang” ucapku mengembalikan gelas kosong.



“jangan diminum, itu wine”



“ha? Bukan sirup merah rasa strawberi?” tanyaku kaget.



Ugh... kepalalu terasa berkunang-kunang


“kau tak tahan minuman alkohol tapi kau habiskan juga” celetuk mado



“permisi mado aku mau ke toilet” ucapku berjalan tak tau arah.



Pintu toilet ini berubah? Kapan menggantinya? Kenapa jadi berukuran besar. Ku padarkan pandanganku sepi, toilet tapi kok sepi, gelap hanya lampu remang saja.



Di depanku nampak lampu yang menyorot oh mungkin disana, cepat... cepat.


____________


Pov. Yue



Tinnnnnn....tinnnnnnn



Ku pencet klakson pada sosok yang entah dari mana berlari menuju mobilku.




Apa dia mabuk, bagaimana anak gadis mabuk-mabukan sendiri. Dasar ceroboh.



“jika kau berani. Keluar kau! Dasar mengagetkan orang saja”



Teriak dirinya menghampiriku.


Tenang Yue, sabar, ku tarik nafas dalam pheww, dan berjalan keluar.



“kau lagi?” ucap dirinya mencengkram kerah jas ku.



“disini banyak temanku. Ayo” ucapku menariknya masuk ke dalam mobil.



“kau menculikku kemana Jendral tak setia? Kau menculikku dan ingin mencincangku ya.. ha...ha..ha Lewis tak akan membiarkan dirimu lolos. Dia itu setia kawan. Uhhh” ucap dirinya



Entah kenapa hatiku terasa resah, setengah kesal ku pacu mobilku menuju perkebunan tulip yang lalu.



3 jam berlalu.....




Sepi dan sunyi... hanya gemericik air sungai yang terdengar



“turun!” perintahku padanya yang masih setengah tidur.



“tidak! Aku tidak mau! Tolong tuan Jendral, tolong jangan kau campakkan aku. Ku mohon Yue” ucap dirinya berhambur memelukku.

__ADS_1



“kau? Kau berkata apa tadi?” ucapku antara heran atau bersyukur. Apa dia ingat tentangku.



Diam tak ada jawaban...



Sunyi...


dirinya memelukku erat. Aku tak bisa diam saja seperti ini.



Ku angkat paksa dirinya menuju bawah jembatan



“kau akan membunuhku dan menghilangkan jejakku tuan Jendral...?” tanya dirinya melompat turun dari gendonganku.



“basuhlah diri mukamu agar kau sadar” ucapku mengalihkan pandangan.



“ah... segarnya”



“aishh kau membawaku terlalu jauh tuan Jendral. Aku belum menikmati pesta aku belum berdansa.” Keluhnya berjongkok dihadapanku.



“lihatlah rupamu. Kau masih ingin berdansa?” ucapku padanya.



Wajahnya yang basah karena basuhan air, membuat pesona alaminya terpancar. Rambutnya tergerai menutupi pinggangnya.



“ah kau benar. Aku tidak pantas” ucapnya muram.


_____________________


Pov.E



Aku acak-acakan bagaimana penampilanku rusak dihadapan orang sepenting dirinya.



“Kunt u met u dansen?” ucap dirinya berjongkok di depanku dan membuka telapak tangannya



“Ik wil met je dansen” ucapku spontan menyambut tangannya.



“Sepatuku..?” ucapku sadah aku tak memakainya



Diangkatnya diriku kakiku diatas sepatunya, kakinya.



“zonder muziek?” tanyanya



“geen problem” ucapku tersenyum.



Aku tak terasa canggung, laki-laki dihadapanku hanya dia, bukan tuan Jendral yang tinggi pangkatnya tak bisa aku raih. Sosok yang punya pelukan hangat dan tatapan tajam tapi menentramkan hatiku.



Walau tanpa iringan musim, walau tanpa lampu dansa aneka warna, kerlip bintang di perkebunan ini, dan suara arus sungai seakan menjadi musik indah bagiku malam ini.



Ku mohon malam ini biarkan aku sedikit keterlaluan, ingin menjadi wanita dalam pelukannya.


______________


Pov. Yue



Perasaanku yang ragu, dan bimbang seakan lenyap.



ku harap malam ini, cukup malam ini biarkan aku melewati batas bersamamu tanpa beban maupun tekanan lainnya.


__ADS_1


Ku ingin jadi sosok yang pantas melindungimu, memelukmu tanpa beban seperti ini. Kenangan indah ini ku harap bukan mimpi.


_________________


__ADS_2