
Kalau kau tak mampu menjadi pohon beringin
Yang tegak di puncak bukit
Jadilah saja rumput
Tetapi rumput yang memperkokoh tanggul pinggilan jalan
(NB. Kutipan puisi dari karya milik Taufik Ismail)
___________
tok...tok...tok
“sidang musyawarah tahunan dan laporan akhir jabatan dimulai. Masing-masing undangan menempati posisi”
Ku lihat su wang dan si wang memakai selendang jabatan mereka. Belakang mereka diikuti dua guru dan ibu kepala sekolah, terakhir diikuti dua perwakilan dari kecamatan dan 3 perwakilan organisasi dari sekolahan sekitar komplek kami.
Pembacaan titah,
Sambutan kepala sekolah dan undangan,
Doa pembukaan
Serta pembacaan susunan acara.
Usai 2 jam waktu selesai, para undangan ada sebagian yang pulang termasuk kepala sekolah dan dua guru. Sekarang hanya ada anggota inti dan beberapa anggota baru serta calon anggota seperti aku.
Berikutnya pembacaan tugas dan fungsi 4 devisi serangkai. Nampak terlalu membosankan. Slide yang mereka tampikan terlalu monoton dengan banyaknya tulisan.
“huh.. kenapa tidak mengetik intinya saja. Toh ujung-ujungnya presentase sambil baca. Hoamm..”
“sstt.. hargailah yang didepan jangan ngedumel sendiri” ucap Ahn yang baru ku sadari duduk dibaris belakangku.
Entah kenapa omongan yang keluar dari sosok Ahn selalu benar tapi tidak enak didengar. Dia yang tidak pernah tersenyum tapi selalu ada disekitarku. Huff bisa mati gaya aku jika terus-terusan dengannya.
__ADS_1
“selanjutnya istirahat 15 menit dan disambung rapat devisi. Untuk anggota maupun calon anggota bisa mengikuti devisi sesuai nomor urut bangku kalian”
Tok...tok...
Dua kali ketukan pertanda rehat sejenak.
“ini” ucap seorang perempuan memberiku kue dan sebotol air mineral
“terima kasih” ucapku menggeser tempat duduk memberinya ruang.
“tidak usah aku masih ada keperluan lain” ucapnya sembari pergi
“aku bisa membantu..?” ucapku berdiri mengikutinya
“ini sungguh merepotkan maaf ya” ucapnya membawaku ke dalam markas. Banyak tumpukan buku yang diberi kode A, B, C, dan D.
“tolong bantu aku membawa ini ke ruang intensif A.1 dan S.1” ucapnya memberiku berkas kode A dan C
“kau..?” tanyaku lagi tapi dirinya sudah menghilang dari hadapanku “huff benar-benar sibuk mungkin” ucapku keluar markas
“jika itu berlebihan bukannya sampai tapi berkas ini akan berceceran” sahut Jicob yang tak tau dari mana asal datangnya diambilnya separuh berkas yang menumpuk dari bawaanku.
“terima kasih” ucapku tersenyum
“aku memang orang yang ramah” ucapnya berlagak
“sedikit” ucapku menyahut dan menyalip jalannya.
Ting...tong...
__ADS_1
Ku pencet bel kelas
“masuklah” ucap seseorang bersuara berat dari dalam kelas
“bagaimana anak baru yang masih calon anggota bisa seperti ini?” sahut dirinya mengambil paksa berkas yang ku bawa.
“aku hanya membantu dia..” ucapku berkilah
“dia siapa..”
“itu perempuan yang membagikan kue tadi”
“siapa namanya”
“aku tak tau”
“itu hanya alasanmu saja berarti” ucap laki-laki itu membiarkanku merasa bersalah.
Ku balikkan diriku dan Jicob hanya diam memandang ini semua.
“kau tak apa..?” tanya Jicob khawatir
“orang baru wajar seperti ini” ucapku berlalu kembali ke kelas sidang.
entah kenapa orang disini tidak beres atau akunya yang belum tau mereka. terlalu bnyak kerumitan, tapi apa aku juga tidak tau.
Ku dudukan diriku menatap keramaian dalam ruang sidang, banyak yang berdebat tapi sebagian sedang memperbaiki berkas semuanya nampak sibuk dengan urusannya masing-masing.
__ADS_1
hanya satu orang yang tetap diam sibuk menulis tanpa peduli sekitarnya, setidaknya didekatnya sekarang membuatku tidak canggung sendirian. Dialah Ahn.