
Karena penasaran membuatku merendahkan egoku yang awalnya tidak ingin datang. Acara laporan yang bersifat tertutup itu membuatku hanya diam di bangku belakang.
Setiap devisi hanya perwakilan, ternyata hnaya aku saja yang terlalu berlebihan. Melihan kawan devisi lain yang tidak jadi perwakilan asik mengobrol membuatku sedikit merasa kesepian. Obrolan tentang film terbaru, k-pop idol yang sedang hitz sungguh lebih membingungkan dibandingkan pelajaran sejarah Jepang.
“ul, kau tidak paham..?” tanya Gina dari devisi tekspram.
“tidak. Kalian ngobrol saja aku mendengarkan” ucapku sembari meletakkan kepala di meja.
“aku kan anak bahasa tapi kok gak update sih.” Sindir yang lain
“aku fokus ke saeguk kalo tentang negeri ginseng.”
“bosan dong, romantisnya cuman sekedar surat-suratan terus pegangan tangan”
“bisa jadi seperti itu, karena memang terkesan kuno dan kurang greget mungkin bagi kalangan muda saat ini. tapi menurutku secara pribadi hal-hal yang kecil tanpa adegan berani seperti itu lebih berkesan. Cinta, sebagai sesuatu yang keramat dan disucikan lebih bermakna walau tanpa kontak fisik yang menggebu.” ucapku serius
“ya mudah-mudahan kau tidak kepincut sama cinta yang tua-tua hehehehe” ledek mereka
Ku balas dengan senyuman dan ikut tertawa.
“hei Ul.” Sapa im mendadak membuat kedekatanku dengan yang lain terasa semu
__ADS_1
“sepertinya kamu masih sibuk. Silahkan ikut im dulu Ul” usul Gina sebelum im mulai bicara
Seperti setengah diusir aku berjalan mendahului im, ada rasa kecewa bercampur kesal.
“kau yang ikut aku. Ayo” ucap im mendahului langkahku.
Kali ini di kantin seakan sudah dibooking. Semuanya sepi hanya ada jicob yang sedang makan batagor.
“hai jicob, lama tak bertemu” sapaku mencoba riang
“ya, aku baik-baik saja ul” ucap jicob dingin
“ah sungguh menyebalkan kau Jicob. Aku lama tak berjumpa responmu tak membangun” ucapku bersungut
Kertas itu bertuliskan aksara mandarin, ada karakter bulan dan karakter bunga. Seperti nama dua orang.
Walau aku tau itu merujuk pada siapa ku tutupi itu dengan mengambil batagor milik jicob yang masih tersisa.
“bacalah ul. Jika kau paham kita akan....” ucapan jicob terhenti seakan kehilangan keberanian saat matanya bersiborok denganku.
“ya.. sepulang sekolah akan ku kirim visaku dan beberapa berkas lain yang harus diperbarui. Kapan kita berangkat..?” tanyaku seakan tak ada apa-apa.
__ADS_1
“undangan itu kau bawa, untuk tiket perjalanan kau jangan kuatir soal itu” jawab jicob berdiri dan berjalan menjauh.
Ku tatap undangan berwarna merah yang terbungkus rapi itu.
“Yue Guang Lim, bukan... jenderal Yue Guang Lim anda memilih keputusan ini. aku turut bahagia untuk anda” ucapku lirih meraih surat undangan.
************
Aku tak tau apa yang membuatku tak bisa berhenti mengeluarkan air mata. Di kamar utama aku menyembunyikan diri. Lukisan tulip itu seperti kehilangan maknanya. Tut piano yang ku coba mainkan tak ada irama. Terasa sesak memenuhi dadaku. Air mata yang ku hapus tak hentinya membasahi pipiku.
“dia bahagia. Dia sudah bahagiakan. Tuan jenderal akhirnya bahagia. Apa yang kau harapkan..?” bisikku meyakinkan diri sendiri.
(“asalkan aku yang mnegingatmu itu sudah cukup” ucap seseorang laki-laki di ruangan penuh aroma cemara itu. Ruangan itu putih hanya terdengan suara bib..bib... yang membuat tubuh merasa putus asa. Suara laki-laki itu nampak meyakinkan seperti harapan.)
“nak bangunlah” ucap ibuku menggoyangkan tubuhku, aku terbangun dan tersadar rupanya hanya mimpi.
“sudah pagi lagi bu..?” ucapku lesu
“kau tidak makan tadi malam, pulang langsung tidur disini. Jika ada sesuatu kau bisa mempercayai ibu”
“aku selalu percaya ibu kok. Tapi aku gak tau juga kenapa badanku terasa lesu. Ayo bu kita sarapan” ucapku berkilah dan beranjak dari tempat tidur.
__ADS_1
*********