
Gula terasa manis saat di lidah saja
Begitukah pula dengan perasaan ?
Hanya manis saat jatuh cinta
____________
Pov.E
Tuk..tuk..tuk, Ketukan pen yang dipukul diujung meja terdengar nyaring.
“kau masih sibuk membuat puisi apa melamun hei” sapa seorang wanita menghampiriku.
“ahhh tidak. Hanya bingung gak ada kerjaan. Arida sensei ke negeri Sakura lagi jadi seminggu ini jam kosong deh”
“kalau begitu ayo ikut aku” ucapnya menggandengku.
Ku lihat pintu ruangan yang bertuliskan GUDANG “untuk apa kau membawaku kesini...?”
“jangan terkecoh. Permisi, su wang pulang” ucapnya menyapa banyak anak yang duduk di dalam ruangan ini.
Ruangan yang sempit ini ternyata punya lorong yang panjang. Ada empat laki-laki dan tiga perempuan.
“suwang siapa dia?”
“Si wang, dia teman kita akan bergabung disini.”
“oh. Apa pendapatmu..?”
“saya akan berusaha” ucapku mencoba tersenyum.
“perkenalkan aku Yan Er, Hilda, Ahn, dan Jicob. Perempuan berkepang itu Putri, Mahda, dan ..”
“Nia” sambungku tersenyum, untunglah ada teman sekelasku.
“kalian kenal..?” sindir Si Wang menaikan satu alisnya tak percaya
“kami satu kelas program bahasa.”
“baiklah, aku sendiri Fei, disini menjabat sebagai ketua putra panggil saja Si Wang”
“salam kenal Fei” ucapku menghampirinya menjabat tangannya.
“duduklah disini” ucap salah satu laki-laki yang bernama jicob.
Dia laki-laki berwajah oval bermata hitam, alisnya tebal, hidung lancip dengan bibir tebal bawah. Ku tatap dirinya yang tersenyum, samar-samar seperti pernah kenal pemilik senyum itu.
“kau kenal lilis?” celetukku.
“ya.. dia adikku. Tapi dia tinggan di kota B, aku baru pindah seminggu yang lalu”
__ADS_1
“wa... mungkin ini takdir. Seakan baru kemarin saja aku berbincang dengan lilis tak taunya sudah 3 bulan berlalu. kau sendiri sudah kelas 12 baru pindah kesini? Apa tidak sulit?”
Ehem.mm...
“bisa kita lanjutkan rapat hari ini...?” tegur Su wang menghentikan obrolan kami.
“Si Wang apa tidak apa menjadikan orang luar mendengar hal ini..?” tanya perempuan bernama mahda
“oh.. tidak apa. Aku bisa pergi, permisi aku mau ke toilet kalian lanjutkan saja” ucapku undur diri.
Aku hanya berbohong. Bagaimana mungkin aku yang orang baru bisa seenaknya ikut mereka.
Ku langkahkan kakiku menuju perpustakaan.
“pak Kum apa ada buku cerita atau novel baru..?” tanyaku pada petugas perpus.
“enggak”
“pak apa ada koran baru..?”
“ambil sendiri di tirai baca”
Huh dari tadi diacuhkan. “pak tivinya buram tuh”
“eengg..” toleh pak Kum melihat layar tivi yang jelas-jelas mati.
“hei! Kau.” Tepuk seseorang di bahuku.
“oh, ada apa jicob”
“sudah makan? Ayo temani aku ke kantin”
“ok”
Di kantin...
“buk, mi gorengnya 2 es tehnya 2 tambah sosis, nugget, dan kerupuk 3” pesan Jicob
mengajakku duduk di bangku panjang. Kantin masih sepi, belum banyak anak yang berkerumun.
“kau baru kenal sudah mentraktir orang. Apa kau tak rugi” tanyaku heran
“kenapa? Kurang..?”
“enggak”
__ADS_1
“anggap saja aku berterima kasih sudah memperlakukan adikku sebagai teman bukan seperti pesuruh”
“jadi, ini untuk balas budi?”
“bisa jadi, dan hari ini bolehkah aku kakaknya lilis juga jadi temanmu..?” ucapnya
mengulurkan tangan..
“sepakat” ucapku menyalami tangannya.
“kelasmu dimana..?”
“kelas pojok yang terpencil, well karena kurang peminat mungkin. Kabarnya tahun depan program ini juga ditutup. Kau sendiri..?”
“aku kelas IPA 1, di belakang perpus tadi."
"kau anak cerdas rupanya. Bagaimana anak baru sepertimu bisa masuk kelas itu..?”
“oh, hanya beruntung saja”
“cih... kau kata keberuntungan. Tapi kau tau? Seleksi masuk kelas favorit yang hanya menerima 30 siswa dari 700 orang kau bilang keberuntungan. Kau merendah”
“ha..ha.. omonganmu pedas juga ya... pada anak baru sepertiku kau berani seperti itu.”
“kalau kau tak suka ya jangan berteman denganku” ucapku cuek meraih piring dan minuman yang datang.
“kau sendiri bukannya pandai juga? Kenapa tidak masuk IPA..?”
“aku tidak mau cepat tua, he he he... bahasa juga tidak buruk kok. Mengarang, menyadur, bermain drama, mereview film, dan novel bahkan belajar budaya dan sastra negara lain juga menyenangkan. Aku punya ruang sendiri bagi duniaku”
“oh... tapi kau tak ingin yang lebih. Bukannya fasilitas IPA dan IPS lebih layak dibanding program yang mau ditutup itu”
“fasilitas ya..? kami sekelas walau hanya 21 putri dan 4 putra mampu membuat kelas jadi fasilitas lengkap kok” ucapku tak mau merendah.
“bukannya kau menang penghargaan. Kenapa tidak minta bahasa tetap diadakan untuk tahun selanjutnya..?”
“hei Jicob! Itu bukan perkara satu orang. Aku pun juga sudah membicarakan itu dengan wakasek kurikulum dan guru BP. Tapi keputusan mayoritas itu hal terpenting”
“oh. Makananku sudah habis. Aku harus kembali ke kelas dulu ada tugas praktek” ucap Jicob meninggalkan aku yang masih melahap nuget.
“kau tidak lari karena belum bayarkan..?” tuduhku menjegal kakinya.
“tenang saja. Aku bukan tipe pecundang” ucapnya berlalu usai mengelap sepatunya.
“cowok. Aneh terlalu suka atau gila kebersihan” nilaiku bergumam.
__ADS_1
**********