
Kehidupan jangan ditanya
Kenapa berputar saat ku tak ingin
Kenapa melamban saat goresan ingin aku tambal
_____________
Pov. Yue
“Ini!” seru seorang wanita memberiku setangkai tulip. Dia tersenyum dengan bibir mungil, bola mata bulat, dan angin mengurai rambutnya yang kecokelatan, terengah-engah. Aku menatapnya terpaku, heran. “di tengah kebun tulip, kau memberiku setangkai ?” ucapku menerima tulip darinya. “ha..ha..ha!! kau menggodaku Yue, atau kau tak terkejut dengan kedatanganku ?” dia mendekatiku, persis dan sama seperti awal kita bertemu.
__ADS_1
Diam hanya guratan senyum dan memandang satu sama lain. “bagaimana bisa ? tak mungkin aku menggodamu. Kau lebih dari itu tau!” ucapku memberikan tulip padanya. “tak perlu Yue! Simpanlah. Anggap itu diriku” ucap dirinya tersenyum. “kau mau menganggap dirimu secantik tulip ini ? jangan bergurau ha ha ha ha” ucapku tergelak. “tak apa Yue, meski aku kau anggap hitam pekat, asal itu bayanganmu? aku mau” ucapnya tanpa espresi,
membuatku membeku, angin seakan bersemilir ke arahku, dan ku pun tersadar. Kebun tulip ini ternyata gersang, aku sendiri.
bip..bip..bip, ku angkat ponselku, “Selamat sore Jendral pukul tujuh malam anda harus sudah di Bandara, kehadiran anda sangat penting demi menyambut kedatangan Menteri Chou”, “baiklah, saya mengerti” ucapku sembari menutup percakapan di ponselku. Entah kenapa berat terasa menindih ulu hatiku, sesak.
Ku langkahkan kaki menuju mobil Jeep yang terpakir tak jauh dari perkebunan tulip ini, segera saja ku tancapkan kunci, melaju ke bandara. Bandara penuh dengan penjagaan ketat, tak ingin mereka tau keberadaanku, langkah kakiku terhenti di sebuah minimarket sekitar pusat suvenir. “maa, aku mau itu!” terlihat anak kecil merajuk pada
yang jauh di Sia.
15 tahun yang lalu,
__ADS_1
“bagaimana kau begitu berani mengambil keputusan penuh sesal seumur hidupmu Yue ?” teriak ibuku di siang hari. “amma.. aku sudah memikirkannya matang-matang. Aku tak gegabah amma. Percayalah.” Ucapku bertekat. “percaya? Bahkan dirimu tak jadi bagian keluargaku lagi, aku rela Yue!”. Baju, buku, bahkan buku-buku masa kecilku, sebuah buku cerita juga dikeluarkan dari halaman rumah. “amma ?” antara tanya atau terheran berkelut dalam diriku. “seharusnya keputusanmu menikahi anak seorang kuli tak pernah kau ucapkan Yue! Lihat! Kau masih muda, usia pun masih terlalu muda! bagaimana mungkin kau berkata ini sudah kau pikir matang-matang Yue!”. "Amma, meskipun dia anak seorang kuli tapi dia berprestasi, mandiri. Apa salahnya aku menjalin hidup dengannya? kau bukan hari ini tapi diusia yang pantas menikahpun aku tetap memilihnya"ucapku membela, tapi hanya serak yang bersuara.
Ku kumpulkan semua barang-barangku di halaman rumah, ku masukkan dalam buntalan kresek merah. Langkahku tertatih, terakhir kalinya ku tatap tanaman bongsai kesayangan amma “kau lebih beruntung, walaupun bukan manusia tapi kesayangan amma” ucapku, “bahkan bongsai pun lebih mudah diatur daripada darah dagingku sendiri” sahut amma yang berdiri membukakan pagar rumah keluargaku. Aku terbuang.
bip..bip..bip, ku angkat ponselku,
“Jendral ? anda di mana ? kedatangan pesawat Menteri Chou 5 menit lagi”, “ya, saya sudah di Bandara” ucapku sembari menutup percakapan dan beranjak pergi.
“Selamat datang tuan Chou” ucapku menyalaminya, “terima kasih sambutannya Jendral Yue Guang Lim, perkenalkan ini putriku Mae Hwa”. Ku salami putri menteri Chou, ayahnya mengenalkanku putrinya tanpa marga keluarga, apa ini pertanda. “ini makan malam yang indah, saya tentu akan mengingatnya” ucap Mae Hwa kagum dengan dekorasi yang ada. “terima kasih, kemungkinan anda semakin terpesona apabila bisa menikmati hidangan ketika tulip bermekaran” ucapku menimpali. “tulip ? sesuatu yang jarang ku temui. Tentu akan berkesankan ?” ucapnya sembari tersenyum. “tentu” ucapku membalas senyumnya, tersirat cahaya harapan di matanya, aneh.
************************
__ADS_1