
Karena kerjasama dengan OSIS dan PMR ada beberapa aturan baru yang membuatku terlibat. Keuntungan bagi
organisasiku kami punya ruang yang pantas untuk tempat rapat amupun mengadakan jamuan dengan organisasi luar sekolah. Bisa dibilang status kami lebih mentereng.
Tapi akibatnya beberapa atribut kami lebih sering keluar masuk kerena harus berbagi penggunaan dengan PMR. Baik itu tandu, alat-alat P3K, hingga paduan dan pelatihan pertolongan pertama juga harus diajarkan, namun untung dari ini ada uang sewa yang masuk ke organisasi kita untuk diputar menutupi kekurangan.
Disisi lain karena dukungan OSIS kami lebih sering keluar masuk sekolah diwaktu yang tidak normal layaknya siswa kebanyakan. Terkadang ada pelatihan leadership yang memakai anggota kami untuk menyokong anak OSIS atau sekedar pendakian bersama demi terciptanya kedekatan antar organisasi.
Hal ini membuatku bertemu lebih banyak teman sekolah yang dulunya tidak kenal sekarang saling menyapa di parkiran.
Tapi tetap saja mereka memanggilku Ul bukan nama sebenarnya. But, that its no problem.
“Ul...” teriak seorang perempuan dari kejauhan. Dia melambai dekat perpustakaan.
“aku masih ada kelas, nanti ya” ucapku menaiki tangga menuju lantai 3.
Ck...ck..ck....
Tes... 1, 2,3...
“diberitahuan pada seluruh anggota ekstrakulikuler untuk berkumpul di aula lantai 2, terima kasih”
suara dari speaker pengumuman.
“kau ijin keluar kelas lagi..?” ucap sensei sinis sebelum aku berdiri meminta ijin.
“saya mana berani sensei” ucapku menunduk mengurungkan niat
“baiklah. Buka halaman 56 beri cara baca hiragana dan katakana yang ada di bacaan itu kau baru boleh
pergi” ucap sensei menulis di papan tanpa mendengarkan diriku.
Ku buka buku paket fotocopy.an yang memang karya sensei sendiri. Semuanya hanya tulisan jepang. Sebuah
bacaan seperti cerita atau berita. Semuanya full tanpa jeda penuh tulisan hiragana dan katakana yang tersebar. Aku harus menuliskan cara bacanya satu persatu diatas huruf-huruf itu. Pheww.... inilah kelemahanku. Aku tak mudah mengingat harus mencocokkan dengan paduan kamus dasar. Kesimpulannya ini membutuhkan banyak waktu dan alamat aku harus mengurungkan niat ijin meninggalkan kelas.
Arida Sensei, you’re the best teacher.
“panggilan ditunjukkan pada anggota dari kelas 12 bahasa, ditunggu kehadirannya sekarang juga” siar
pengumuman dari speaker pemberitahuan.
__ADS_1
Setengah jam aku masih selesai satu paragraf, huft... ku lirik kehadiran putri, sial hari ini dia ijin sakit tidak amsuk sekolah. Oke, kau sendiri lagi. Jebal.
“kau sudah selesai..?”
“belum sensei”
“lanjutkan dirumah tambah halaman 57b dan 58”
“arigatou gozaimasu sensei” ucapku membungkuk mengemasi barangku. Ya aku boleh meninggalkan kelas
tapi konsekuensinya aku harus merangkap PR ku.
Derap kakiku terasa semakin nyaring saat memasuki aula yang hening. Semua mata tertuju padaku, mereka duduk berjajar seakan-akan memandangku sebagai sosok asing.
“maaf saya terlambat” ucapku menuju kursi yang kosong.
“bagaimana organisasi itu sekarang gk bisa memperketat anggotanya. Dulu bukannya masuk organisasi itu harus jadi orang yang ontime”
“gak tau juga. Paling-paling hanya anggota baru yang punya kenalan”
“oh. Bukan karena punya kemampuan”
Mungkin mereka hanya berperan sandiwara, pikirku tak mau ambil pusing obrolan mereka.
“Ul sinilah” ucap Jicob menyuruhku duduk di kursi belakangnya.
Tak terasa 2 jam
berlalu sangat lambat membuatku harus terkantuk-kantuk. Banyak anggota yang berdiri menuruni aula, acara rapat selesai tanpa aku benar-benar paham obrolan mereka.
Banyak siswa yang hilir mudik keluar gerbang, ini jam pulang sekolah.
“masih ramai, nunggu atau kau langsung pulang” ucapku pada Jicob yang ada di depanku.
“yok pindah ke sanggar OSIS” ajaknya
Zrazzz... jderrr... suara kilat bercampur guntur.
Zwhoozzz..... fyuh..fyuh... suara angin bercampur air hujan membuat kami tertahan.
Aku duduk di sofa sanggar sembari mengeluarkan buku paket bahasa jepang.
__ADS_1
Jicob masih sibuk mencari berkas di lemari, ya asalkan kunci yang ku bawa sudah didapatkannya itu sudah menyibukkan dirinya.
“kau perlu aku hanya untuk ambil kunci saja” komenku sembari tetap mengerjakan tugas tanpa menoleh ke arahnya.
“kau masih sibuk. Setidaknya aku berniat tidak mengganggumu” ucap Jicob sembari membaca beberapa
aturan buku P.A.
“iya deh. Pak Pe.a’ hehehehe” ucapku bergurau
“itu tidak lucu. push up 5 kali” ucap Jicob dingin.
“aku bergurau” ucapku mencoba mengelak dari hukuman.
“10 kali”
“oke.. 5 kali” ucapku sembari push up sebagai bayaran menyindir dirinya.
Drap...drap..brak dua sosok berlari menabrak pintu yang terbuka.
“hei kau belum pulang jicob. Oh ada Ul juga rupanya” ucap Yanuar sembari masuk menyalakan kipas.
Im mengelap sepatunya yang terkena cipratan air hujan, dan berlalu duduk di sofa.
“buku siapa ini” komen Im mengangkat bukuku.
“watashi” ucapku berdiri usai hitungan kelima.
“kau jadi pemalas ya. Padahal dulu kau yang dikirim ke negeri Ginseng”
“hehe entah kenapa sensei jadi sensi sejak kepulanganku. Mungkin karena aku yang plin plan habis
pilih negeri ginseng kok ke negeri tulip.”
“mungkin karena kau ikut organisasi ini” ucap Jicob menduga-duga.
“hujan deras sekali bisa bosan aku disini menunggu hujan untuk pulang” komen Yanuar.
“bagaimana dengan permainan ToJ..?” saranku pada mereka bertiga.
*********
__ADS_1