SINAR BULAN

SINAR BULAN
5:Ketetapan


__ADS_3


Aku diam tak menyahut lalu ku keluarkan surat yang ku tulis khusus untuk dia yang hingga kini ku jaga. "Usai tahun ini, tolong kau pergilah ke kota S, belajarlah disana aku sudah mendaftarkan kamu di sekolah menengah atas seperti dia. Kau jagalah dia disinya. Tolong kau berikan surat ini padanya", "tolong jendral menjaga kesehatan jendral, semoga kita segera bertemu","semoga Jicob, untuk barangku tolong kau paketkan saja ke rumah orangtuaku. Itu hanya berisi ole-ole entah dibuang atau tidak terserah". Ucapku dembari menaiki mobil yang sengaja disiapkan Jicob sejak tadi.



"Apa aku boleh mengantarmu ke Bandara jendral?", "ya" sahutku. Terasa berat dan suram hawa disekitarku. Mungkin perpisahan seperti ini tidak terlalu menyakitiku.



"Jendral hati-hati","tentu" ucapku segera turun dari mobil. "Tunggu Jendral,aku ingin bertanya", silahkan" ucapku berbalik ke arah Jicob. Jicob hanya terdiam cukup lama membuatku sedikit bosan. "Kau akan menjaganya. Aku percaya" ucapku tersenyum dan menepuk bahunya "apa kau berniat meninggalkannya? Jendral?" Teriaknya, aku terhenti tertegun. Ku lanjutkan langkah kakiku ke bandara, memunggunginya, aku terbungkam.


********************



Dalam hatiku...


Saat aku terpuruk kau telah jadi pelangiku Jicob, seperti keluargaku, adikku sendiri. Kau mau berbagi pada pendosa sepertiku.



Untuk Ama, Papa, Tin Tin ku harap kalian bahagia, ku harap semangkuk maaf bagiku tertuang penuh



Untuk kau gadis kecil, terima kasih mau berbagi senyum di masa lalu... Walau hati ini tak boleh meronta, aku tahu kerinduanku padamu hanya akan sebatas rindu.


****************



apa yang ku harap

__ADS_1


pada angin yang tlah lewat


apa yang ku anggap


pada waktu yang tlah lewat


apa yang ku dapat


pada sesal yang tlah lewat


apa yang ku rasa


semua terlewat


_______________



apa kau percaya pada takdir


apa kau percaya pada takdir


yang membuatku jemu


aku dan takdir


entah ku tak tau


*******************



pov. E

__ADS_1



terasa perih di mataku. kurasakan lelehan hangat membasahi kelopak mataku. hati sesak, berat tapi entah karena apa. ku pandang lagi formulir yang jadi tiket kepergianku.



tok..tok..tok


"apa kau sudah siap?" tanya seseorang diseberang pintu kamar hotelku. "ya.. tunggulah di lobi hotel bersama yang lain" ucapku menyeka air mata. pilihanku negeri ginseng tapi kenapa aku berdebar tak tenang. apa aku salah putusan. "ayolah bukan waktunya bersedih." ucapku meneriaki diri sendiri.



tatap singkat di cermin membuatku tahu aku belum siap berpergian. ku kepang tunggal rambutku dan ku gulung dan ku sematkan hiasan tusuk rambut perak yang kubawa sejak keberangkatanku ke kota B, setidaknya penampilanku totalitas pikirku.



"kau hebat walau perempuan sendiri" ucap Sam menyambut kedatanganku di lobi. "ku harap kalian mengabariku disana" ucapku menyalami. "jaga dirimu" ucap Jio, "jaga kesehatanmu" ucap Choki, "aku merindukanmu" ucap Herdi dan Harry. kami berlima ke negeri gingseng tapi berpencar sesuai konsentrasi pilihan sastra masing-masing.



masih berat bagiku meyakini hari ini aku akan pergi.


ku tapak lagi transportasi yang membawaku pergi, daratan semakin jauh.. kelabu semu. "sampai jumpa tanah airku, aku merindukanmu".


__________________





__ADS_1




__ADS_2