
“senyum anda mencurigakan Jendral” tegur Tom melihatku di pagi hari.
“mencurigakan apa Tom.”
“senyum ini baru pertama kali saya lihat Jendral. Apa ada sesuatu?”
“menurutmu?” ucapku menepuk bahunya dan pergi.
“Jendral ? ada surat di mobil anda” teriak Smith melambai dengan sepucuk surat.
“mana?” ucapku menghampiri dirinya.
“tadi saya temukan di bawa kursi.”
Ku ambil surat dari tangan Smith dan berlalu pergi menuju kursi di sekitar halaman. Bukan satu tapi dua surat. Surat dengan kop instansi pemerintah. “pak Yon anda tidak sabar sekali” komenku membuka surat yang tak lain surat pernyataan kewarganegaraanku di negeri ini.
Surat kedua, beramplop putih hanya tulisan tangan, aneh sekali dia mendadak mengirimiku surat bukannya kemarin malam baru bertemu, pikirku. Ku buka surat ini:
(Hai tuan Jendral....
Maaf jika bahasaku tidak sopan,
Ku harap walau anda di negeri Tulip ini tapi tidak lupa bahasa negara Sia.
Terima kasih ya..
Liburanku bersamamu cukup menarik. Anda sudah mentraktir aku makan. Keju disini memang lezat dan mungkin akan saya rindukan.
Terima kasih ya...
Walau sebentar anda mau berkeliling dan menghabiskan waktu denganku, ini kejutan dalam hidupku
Tuan, aku berterima kasih secara pribadi, walau sempat gugup juga jika benar-benar di masukkan ke pengadilan. Aku sampai tidak bisa tidur. Tapi aku paham selera bercanda anda
Itu membosankan
^_^ :P
Anda orang berbeda dalam artian emm seperti itu.
__ADS_1
Tapi, namanya pertemuan tentu ada perpisahan
Hari kamis besok aku akan terbang kembali ke negara Sia. Ku harap anda bisa meluangkan waktu bercengkrama denganku, well untuk berkata pisah. He he he
Jadwal ke berangkatanku jam 1 siang, semoga anda tidak lupa.)
Deg.. segera aku berlari ke markas mengambil bungkusan miliku dan jaket serta sepatu. “anda kemana jendral? Terburu-buru sekali.” Tanya Tom menghadang jalanku
“aku ada urusan. hari ini kalian ke negara J tanpa aku. Aku akan menyusul sore hari.”
“tapi pertemuan sepenting itu...?”
Ku abaikan ucapan Tom yang belum terjawab.
Segera saja ku pacu mobil menuju Bandara.
Hari ini keberangkatan dirinya. jarak bandara dengan daerah sini cukup jauh. Perlu waktu 6 jam itupun tercepat. Mungkin dia sudah di dekat bandara tidak mungkin masih di asrama sekolah.
Perjalanan memutar, walau aku menggunakan kecepatan tinggi juga tidak mungkin langsung sampai. ku lihat jam di mobil sudah pukul 11 siang.
Ku parkirkan mobil menuju tempat pemberangkatan. “tuan Jendral” teriak seseorang melambai. Dia mengenakan dress putih dengan rambut digulung rapi.
“aku sudah menunggumu. Ternyata anda menepati janji. Aihhh, kenapa begitu lama baru datang..? aku harus masuk ke area penumpang. Bagaimana kita bisa ngobrol ? anda tidak merindukanku sedikitpun..?” ucapnya panjang
“bicaralah masih tersisa setengah jam lagi...” perintahku
“aih.. tidak-tidak aku hanya akan bertanya saja ?” ucapnya menatapku. Tatapannya berubah sedikit lesu atau rindu
“apa yang ingin kau tanyakan..?”
“anda, tuan Jendral. Akh bukan! Kau Yue kapan akan pulang..? kita bisa bertemu dan berbincang panjang lebar”
__ADS_1
Tatapannya berkaca penuh harap.
pertanyaan yang sama. seakan ucapanku hanya pencitraan semata. Ku ambil nafas dalam dan berucap “kau bertanyakah? Kapan aku pulang? Aku akan pulang sangat... sangat lama. Hingga aku sendiri tak tau itu kapan.” Ucapku sembari memeluk dirinya.
Ku raih gulungan rambutnya menyematkan tusuk rambut buatanku. “ku harap kau menyukainya. Jika tidak kau bisa membuangnya” ucapku berbisik.
Dia hanya memelukku erat tak berkata apa-apa.
“baiklah, tuan Jendral. Anda orang terhormat mana mungkin aku menyiakan pemberian anda" Ucapnya tersenyum tapi tatapannya berkaca, bercampur marah dan kecewa.
“tot later, Yue”
“Tot ziens” ucapku melepaskannya berjalan menjauh.
Ku tatap kepergiannya,
dalam batinku menjawab kau bertanyakan kapan aku pulang, kembali ke negara Sia. Agar kita bisa bersua.
Ya, aku bodoh. Aku akan pulang tapi tak tau aku akan pulang kemana. Karena hidupku, ragaku, dan diriku semuanya tak bersisa,bahkan mengharapkanmu hanya akan jadi kisah pengantar tidurku saja.
Kini hanya aku sendirian di bandara ini. Kau bertanya apa aku pulang..? aku akan pulang lama, entah kemana. Hidupku ?, aku..?, jadi milik negara ini. Menyesalinya atau tidak ? aku tak tau.
Apakah ini bentuk aku mencampakkanmu..? tidak!
Aku tau kerinduan yang kini hanya dipendam telah tersiram pada semusim bulan. Terima kasih, kau datang mengobati rinduku. Namun pada akhirnya kerinduan tetap menjadi rindu, pada nyatanya hidupku hanya demi pengabdian.
___________
Saat tanah kering
Semusim angin menyiramkan air untuknya
Bukankah menyegarkan..?
Namun kesegaran sesaat
Hanya akan membuat tanah basah
Saat orang lalu lalang ?
Hanya akan menambah dalam
__ADS_1
Rongga-rongga sebelumnya
*************