SINAR BULAN

SINAR BULAN
Vol. 2 E: 19


__ADS_3

“maaf kelancangan saya tuan Ahn. Kalian nampak serasi semoga anda dan nyonya Ahn langgeng”


“nyonya..? hei... kau” ucapku bersungut-sungut.


“karena kau berucap baik aku memaafkanmu. Sudahlah Ul, toh perkataan jangan dipikir terlalu serius” ucap Ahn tersenyum puas.


Melalui jalur bebas hambatan, kami sampai di perkebunan tulip keluarga angkat jenderal Yue.


“selamat menikmati pesta tuan dan nyonya Ahn” ucap sang supir sembari menancap gas pergi meninggalkan kami di depan tempat pesta.


 “jebal...” keluhku


“Ul.. ini pesta yang baguskan..” sapa seseorang menghampiri kami.


“Yanuar, kau disini..?”


“ya.. aku sudah foto begitu banyak orang, tapi tokoh utama jenderal Yue belum juga datang”


“ayo kita masuk saja Yanuar” ucap Ahn menggandeng tanganku dan yanuar memasuki tempat pesta.


Ruang aula atau tengah kebun tulip yang disulap, area pesta ini nampak elegan. Nuansa cina dengan dominasi merah dan emas serta banyak ucapan selamat di pohon keberuntungan tergantung beribu, bukan berjuta warna.


“kalian datang” sapa Jicob senang.


Suara alunan musik iring-iringan pengantin didendangkan pertanda sang pengantin akan segera sampai


“Ul, kau mau duduk atau...”


“aku sudah disini, ayo kita sambut sang raja dan ratu pesta ini” ucapku memcoba bersemangat

__ADS_1


Aku ikut baris berjajar di depan, sangat dekat dengan karpet yang akan mereka lalui.


Nampak mobil burgundy berhiaskan karakter mandarin dan bunga berpita berhenti tepat di depan karpet.


Dua sosok itu keluar dari dalam mobil. Sang wanita memakai gaun gading yang sangat cantik. Renda dan untaian kristal melekat sempurna membuat sang pengantin seperti ratu negeri es dalam legenda. Sedangkan sang pria, dengan setelan tuxedo gading dan emas membuat yang melihatnya dia pangeran yang keluar dalam legenda. Wajah yang tak pernah berubah, tangannya terulur menggandeng sang wanita.


Senyum keduanya menyiratkan merekalah dewa dan dewi langit yang turun memberkati dunia. Mataku tak bisa berpaling, langkah mereka seiring dengan tempo musik.


Mempelai laki-laki itu nampak semakin dekat dengan jarakku berdiri. Tatapan sama yang membuat hatiku meluluh.


“apa kau baik-baik saja Ul” bisik Ahn disampingku menggandeng erat tanganku yang bergetar.


Jangan menangis disini Ul! jangan pingsan! gertak batinku pada diri sendiri.


Ku genggam erat tangan Ahn di tanganku.


Keduanya duduk tersenyum di kursi singgasana. Seperti dua insan yang memang dijodohkan bersama.


“Ahn aku ingin cari angin dulu, kau nikmati makan malam ini” ucapku meninggalkan keramaian.


Hatiku kalut, pikiranku bebal, brukkk...


“aww....” teriak seorang wanita jatuh tertabrak aku.


“maaf nona..” ucapku buru-buru menolongnya


“kau dari wilayah mana...? berani sekali membuatku merasakan jatuh. Uh... sungguh sial. Heelku patah, kau harus bertanggungjawab.”


“aku, aku akan menggantinya. Berapa sepatu anda..?”

__ADS_1


“kau pikir menggantinya dengan uang, membuatmu bisa melanjutkan pesta apa itu sebanding..?”


“lantas aku bagaimana..?”


“lepaskan sepatumu!”


“apa..?”


“lepaskan sepatumu baru kita impas” ucap nona itu merebut paksa membuatku jatuh tersungkur.


“seleramu cukup bagus” komentarnya memakai sepatuku dan berlalu pergi.


Bertelanjang kaki ku berlari menuju lorong pintu keluar


Brukkk....


“sial.... kau wanita apa tak punya mata menabrak orang yang diam disini.” Ucap seorang laki-laki parubaya.


“mohon maaf, maafkan saya tuan.” Ucapku membungkuk


“apa dia itu kau..? kau mirip dengannya..?”


“aku tidak kenal anda tuan. Maaf”


“aku appa dari Yue Guang Lim. Kau lupa denganku..? aku doktermu.”


“maaf mungkin anda salah mengenali orang”


“bagaimana mungkin. Tapi syukurlah kau sudah sebesar ini. keputusan yang Yue buat kali ini adalah jalan keluar terbaik. Kau harus jaga jarak dengan Yue. Semoga kau hidup dengan baik kedepannya” ucap orang itu berlalu dan tersenyum puas.

__ADS_1


__ADS_2