SINAR BULAN

SINAR BULAN
Vol. 2 E:20


__ADS_3

Ku berlari menuju area perkebunan tulip, menuju bawah jembatan tempat perpisahanku dengan Yue.


Hos..hos..hos...


Nafasku tersengal, ku rebahkan diriku di tanah bebatuan, terkapar tak berdaya.


Siapa.....


Kenapa.......


Orang-orang disini menatapku seakan aku orang lain saja. Mereka memandangku dan menilaiku seenaknya.


Pak laki-laki itu mengaku ayah dari jenderal Yue, dokterku. “tapi aku tak pernah sakit” bisikku menatap langit berbintang.


Kakiku pegal, ku rendamkan kakiku ke dalam aliran sungai yang dingin.


“jenderal Yue, anda akhirnya bahagia. Anda nampak berbeda dibandingkan yue yang ada disini waktu itu” ucapku menatap bayangan di sungai.


“tapi, kenapa harus secepat ini..? sesingkat ini ? apakah aku belum rela..?” sambungku menimbang-nimbang ucapanku.


Air mataku ku basuh dengan air sungai membuat riasanku memudar.


“lagi-lagi aku gagal menyelesaikan pesta.” Komentarku sendiri.


Jika seandainya dia adalah aku, apakah yang ada disamping yue adalah aku..?


Jika seandainya aku itu pantas, apa sekarang yang duduk di pelaminan  adalah aku..?


Jika seandainya aku adalah sosok yang patut dipertahankan, apakah aku mampu mendampinginya hari ini ?


Pertanyaan yang terlontar dalam diriku seperti ditunjukkan orang lain padaku. Menatap yue, bersama yue aku seperti menjadi sosok lain, sosok yang jauh dan akrab dengan Yue.

__ADS_1


“ul siapa sebenarnya dirimu..?” ucapku pada diri sendiri.


“tebakkan ku benar. Kau memang disini” ucap suara dibelakangku


Aku segera bangkit berdiri, memastikan itu dirinya


“dulu agi, sekarang ul. Ckckckck... kau senang berganti identitas ya” ucapnya sembari duduk disampingku.


“ku kira raja pesta telah menghilang. Bagaimana anda bisa disini”


“bagaimana aku disini itu kau yang membuatnya terjadi”


“anda bergurau jendral Yue” ucapku menunduk tak berani menatapnya


“jika saja aku lebih berani apakah kau mau menyandingku..?” tanya Yue setengah putus asa


Aku duduk kembali setengah berjongkok. “bagaimana mungkin”


“seandainya...” ucap yue mengingatkan


“bagaimana denganmu..? apakah setelah ini kau bahagia..? akankah bahagia..?”


“anda tak perlu mengurus kebahagiaanku tuan”


“justru aku sejauh ini karena demi kebahagiaanmu” ucapnya menatapku lekat. Laki-laki dihadapanku seperti kawan lama yang entah kapan akan ku temui kembali.


Tatapannya lekat penuh dengan ketakutan, sesuatu yang baru ku ketahui dari diri sang jenderal.


“tolong tuan, saya hanya orang baru yang lewat dikehidupan anda”


“apakah kau itu dia..? ku harap bukan agar berat yang ku tanggung sedikit mereda.”

__ADS_1


“yang ku ketahui, anda tuan yue harus bahagia setelah menikah. Prioritas anda adalah yang utama” bisikku menunduk didagunya.


“kau, ku mohon maafkan aku. Aku tak tau. Bagaimana aku akan menebus ini..?”


“kau akan menebusnya..?”


“ya” ucapnya singkat


Ku urai rambutku menghadapnya mengambil binyeo yang terselip mengembalikan padanya.


Aku membelakanginya, dibelainya rambutku, disisir dengan jemarinya yang kokoh tapi terasa rapuh. Ku pejamkan mataku menahan tangis jangan sampai dia tau.


“hari ini biarkan ku sisir rambutmu. Maafkan aku yang tak bisa menyisir rambutmu seumur hidupku” sesal dirinya.


 “ Yue Guang Lim, biarkan semua kembali ke awal. Seperti saat awal sebelum kita bertemu. Anggap saja kembali kepermulaan. Seperti rambutku yang belum tergulung, kau hanya melihatnya terurai” Ucapku berbisik suaraku tercekat.


Tanganku menahan bibir agar tak bergetar karena emosi hati yang bergejolak. Aku tak ingin berteriak,membuatnya berat mengambil pilihan. Kurasakan kecupan di kepalaku terasa rindu yang terpendam.


“jika saja jarak kita tidak terlampau jauh apa kau mau menerimaku..?”


“bukan jarak yang membuat tidak mungkin Yue”


“ucapanmu, pandanganmu, dirimu seperti cahaya yang hangat”


“aku mana mungkin...? kau lah yang sinar bulan, seperti bulan yang ada di atas langit bersama bintang-bintang. Sepertilah itu seharusnya kau hidup Yue” ucapku meyakinkan diriku sendiri, meyakinkan keputusannya tepat tanpa perlu dirubah.


“tenanglah. Aku akan memelukmu hingga kau tenang. Ku mohon kau jangan mengambil pilihan berat yang menyiksamu. Biarkan aku yang menanggung” bisiknya di telingaku seperti penyejuk yang membuatku tenteram.


Ku putar pandanganku menatapnya, “setidaknya jangan meninggalkan jejak pada tubuhku Yue, itu


membuatku berat hati menyadari pagi tanpa dirimu” ucapku mencegahnya mengecup wajahku.

__ADS_1


Aku sadar hatiku tak akan mampu jika lebih dari ini. sosok yang membuatku hanya peduli dengannya. Ingin sekali aku berhambur mengecup setiap senti wajahnya, tapi pakaian yang dikenakannya membuat moralku masih tersisa.


*******


__ADS_2