
Tok..tok..tok
Sidang dibuka kembali aku mendapatkan nomor kelas A.1 tempat sewaktu aku mengumpulkan berkas. Dari dalam kelas sebelum bel ku tekan terdengar obrolan
“dia yang sudah memulainya”
“itu ketidaksengajaan”
“jika sudah terjadi masih dihitung tidak sengaja su wang..?”
“maaf kan Bin”
“lantas bagaimana..?”
“jadikan saja penjaga markas, anggap saja tahun ini kita bisa berbaik hati memberinya tugas”
“tapi devisi tata rumah tangga kan sudah dihapuskan?”
“buat lagi untuk tahun ini”
“dia sendiri?”
“ya”
“anda tega kak Bin. Dia perempuan bagaimana itu sendiri diurusi”
“lantas bagaimana solusimu su wang..?”
“aku akan..”
__ADS_1
Ting tong...
Terdengar bel kelas dibunyikan sosok disebelahku laki-laki yang membawa buku dan pen di saku, dia Ahn.
Aku belum selesai mendengarkan dia datang seperti pengacau saja, huh dasar.
“masuklah” teriak kak Bin dari dalam membukakan pintu
Hanya kami berdua, Ahn dan aku yang kebagian di kelas ini
“silahkan duduk” ucap su wang memberikan kami kertas kosong.
“bisa dimulai..?” ucap kak Bin bertanya aku dan Ahn hanya mengangguk.
60 menit tapi terasa seperti 6 hari apa yang diucapkan kak Bin hanya seperti tulisan yang berputar di kepalaku
“kau..?” tanya suwang menunjukku
“aku akan menulis surat wasiat untuk pemimpin selanjutnya”
“itu saja..? tanpa tindakan?” tanya kak Bin mengintimidasi
“kalau kau Ahn” tanya su wang
“aku membuat mandat agar pemimpin selanjutnya bisa lebih baik dari saya”
“ternyata kalian berdua searah pemikiran ya”
__ADS_1
Aku hanya menatap Ahn kesal
“tapi aku sedikit kecewa, ternyata saat akan menjadi anggota biasa kalian juga tidak melepas si pemimpin untuk mengikuti keinginan kaliankan..? memberinya wasiat, memberinya mandat intinya memberikan beban baru pada pemimpin untuk mengikuti alur yang di wasiatkan dan di mandatkan kalian. Lantas bagaimana gebrakan baru progja baru terbentuk jika hanya mengikuti mandat lama yang jadi pr..?”
Aku dan Ahn hanya berpandangan diam. Saling melirik seakan membuat kesalahan.
“baiklah. Terima kasih kalian boleh kembali. Setidaknya hidup dibawa pengaturan orang lain bisa menjadi pengajaran untuk kalian” ucap kak Bin menyalami kami dan mengantar kami keluar kelas.
Tok...tok..tok....
Ketukan palu sidang kembali menandakan bahwa sidang utama dibuka
Wajah para anggota maupun para senior tidak lebih penat dibandingkan aku. Seakan makan siang tadi hanya seperti kapas yang tidak mengenyangkan. Entah karena perdebatan atau karena banyak tugas mereka yang belum dituntaskan aku tak tau.
“acara selanjutnya laporan setiap devisi sekaligus pengumuman calon devisi selanjutnya”
Devisi A, dengan berbagai program kerja di lapangan banyak yang tidak disetujui kepala sekolah. Tentu saja dengan alasan nilai akademik akan menurun jika sering meninggalkan kelas terlebih lagi 75% anggota adalah anak-anak IPA intensif yang banyak jadwal padat, bimbingan tambahan jam pelajaran, bimpingan olimpiade, bahkan bimbingan karya ilmiah.
“Ekstrakulikuler ini hanya sebuah wadah bukan isi. Jika sampai mengganggu lebih baik dibubarkan saja” ucap wakil kepala sekolah bagian kurikulum.
“hanya ada 3 kegiatan! 2 di sekolahan dan sekali di lapangan” ucap kepala sekolah tanpa mau didebat beliau langsung berdiri menuju tempat ketukan palu.
Tokk...
Sekali ketukan yang menandakan keputusan final. Ku rasakan banyak teman-teman yang hanya menahan nafas, sebagian senior menahan rasa kecewa.
Terasa suasana tegang dan canggung diantara kami. Seakan dihadapanku kini bukan lagi siswa dengan guru melainkan dua kubu yang mempertahankan keinginan masing-masing.
__ADS_1
“moderator lanjutkan acara” ucap kepala sekolah tanpa ekspresi kembali ke tempat duduknya.