SINAR BULAN

SINAR BULAN
16 : Seperti


__ADS_3

Aku mohon


Seperti ini pun


Cukup...


Kau dan aku


Hanya kita


***********


Pov.Yue

__ADS_1


Wajah kami berdekatan, cengkramannya terlalu kuat, cukup membuat saraf di kepalaku menegang. Helaan nafas kami tersamarkan desiran angin. Wajah yang sudah lama aku rindukan ada dan sangat dekat. Sosok yang ingin aku rengkuh untuk diriku tepat dihadapan. “akh.. cukup. Kau saja yang melanjutkan permainan ini aku sudah muak” ucapku mendorong dirinya menjauh.


Hampir.. hampir saja aku tergoda ingin meninggalkan jejak pada tubuhnya. ‘kau sudah tidak mungkin kembali Yue. Ingat statusmu kini’ perang batinku.


“apa aku keterlaluan Jendral ? bukankah lumrah banyak wanita ingin mendekatimu ?” tanya dirinya. “aku pikir kau bukan wanita yang seperti itu.. ternyata mungkin dugaanku salah. Ya, aku cukup kecewa.”ucapku menyeringai.


“aaku ? mana mungkin! Aku tak akan berpikiran menggodamu.” Ucapnya lantang. “yang tadi ?” ingatku padanya. “tadi hanya ingin mengujimu, kau.. apa kau pantas disebut jendral jika mudah ditaklukan wanita. Ha..ha.. negara ini jadi apa nantinya jika Jendral mereka huh!” ucapnya menjungkir jempol ke bawah. “tapi dugaanmu meleset” ucapku mengacak rambutnya dan menarik tangannya pergi menuju air sungai bawah jembatan.


“emm tuan Jendral ku rasa wawasan sastra anda cukup memadai. Bahkan akting anda bisa diacungi jempol” ucapnya menilaiku yang masih akan duduk. Ku masukkan kaki ku kedalam aliran sungai yang lamban. “oh.. anda masih demam, jangan bermain air tuan” ucapnya mengingatkanku. “aku dan tubuhku hanya akulah yang tau” ucapku acuh.


“baiklah... tuan Jendral saya benar-benar mohon anda mau memaafkan saya” ucapnya mendadak membungkuk padaku. “maaf pada bagian apa?” ucapku mengernyit.


“seee semuanya” ucapnya gugup. “baiklah anggap saja angin lalu.” Ucapku

__ADS_1


“uh syukurlah.. aku tidak perlu mencari pinjaman untuk menyiapkan uang denda. Anda tau kan ? pengadilan disini perkara sekecil apapun jika anda menuntut denda yang aku bayar terlalu mahal. Tidak mungkin cukup dengan uang saku beasiswaku” ucapnya mengeluh.


“kau ternyata masih mementingkan keuntunganmu sendiri.” Nilaiku padanya, “lalu ?”, “pinjami aku kakimu. Aku ingin rebahan” ucapku buru-buru berpindah ke pangkuannya. “ah. Baiklah aku mengalah. Tidak semua laki-laki seberuntung anda tuan Jendral” ucapnya menepuk lembut dahiku.


“selain cerewet kau masih ada sisi lembut ya..” godaku. “kalau aku bilang hanya berpura apa anda kecewa ?” ucapnya menyeringai. “berpura seperti inipun tak apa. Kau cukup mahir juga. Tak banyak orang yang bisa mengikuti suasana hatiku yang gampang berubah” ucapku menyamping membelakangi dirinya. ku tatap sungai yang lamban, ada pantulan wajahnya, ku celupkan satu tanganku ingin menyentuhnya.


“aku baru menemui orang serumit tuan Jendral” nilainya padaku. “apa?”, “sudah tau pantulan air akan


rusak jika disentuh. Cukup pandangi saja. Ha..ha..ha..” ucapnya tertawa. Dalam batin ‘ya.. mungkin jawaban itu yang tepat untuk keputusanku. Agar kau hanya ku pandang dikejauhan tak mengusik lagi dalam kehidupanmu.’ Aku tersenyum kecut.


“tuan Jendral. Tolong jangan salah sangkah padaku ya. Sebagai wanita apalagi orang asing seharusnya aku tak menanyakan ini.”, “apa yang ingin kau tanyakan?” ucapku heran.


“itu.. di tubuhmu banyak bekas luka dan goresan bahkan ada beberapa jahitan.”, “Oh.. hanya luka ringan sebagai makanan sehari-hari menjaga keamanan perbatasan.” Ucapku berbohong. Goresan yang tak terhitung jumlahnya, bukti ketidakmampuanku mengakhiri hidup. Sayatan dan bekas lebam yang tak kurasakan lagi, karena sakit dan suka hanyalah hampa. Awal dimana aku kehilanganmu, terpisah. Awal dimana aku tak mampu mempertahankan dirimu. Awal dimana aku tercoreng dan menjauh dari hidupmu. Aku menjadi tak pantas bersanding denganmu.

__ADS_1


__ADS_2