
Hari H....
Drap...drap..drap...
Derap langkah kaki rombongan petugas PBB yang sedang menampilkan atraksi nampak menawan.
Ketukan dan derap langkah serta tepuk tangan yang berirama terdengar harmoni.
“Ul..? apa itu kau..? kenapa menunggu di lantai dua..?” sapa seseorang dari arah balkon.
“yee.... aku disini. Kenapa su wang..? apa ada perlu..?”
“tidak, upacara penyambutan akan segera dimulai apa kau tak mau ikut..?”
“tidak. Aku ingin melihat-lihat saja. Jadwal pagi hingga sore hari bagian Im. bagianku nanti kegiatan malam Rembulan”
“oh, semoga kau ikut menikmatinya. Aku ke bawah dulu persiapan. Ibu kepala sekolah sudah datang”
“ye su wang” sahutku tanpa menoleh ke arahnya.
Hingga setengah hari aku juga tak nampak Jicob sama sekali. Hanya melihat Im yang mondar mandir di tempat kegiatan peserta dan kantor kak Bin.
Tring..........
Ponselku menandakan pesan masuk.
‘ul, segera ke bagian sie keamanan di gedung musik belakang sekolah. Ada kendala teknis untuk kegiatan malam nanti, Im’
Oh... aku masih beguna ternyata, hehehe..
“siapa yang memberikan ijin..?”
“kami kelompok teater sudah membokingnya duluan”
“bagaimana mungkin ada yang melanggar aturan..?”
Terdengar banyak perdebatan di hadapanku, tepatnya di pos keamanan.
“ul, aku pergi dulu ada panggilan si wang” ucap Im meninggalkanku
“permisi, saya myeong ul perwakilan yang menyerahkan surat untuk acara nanti malam”
“oh. Siapa yang menerima surat tugasnya non” ucap pak satpam
“pak Yongki” ucapku tanpa curiga
__ADS_1
“baiklah. Saya rasa hari ini pak yongki tidak hadir jadi bisa disimpulkan surat anda tidak
sampai non ul” simpul pak satpam
“kok gitu pak..? kan saya sudah melalui prosedur. Kenapa gak dianggap....? kan saya sudah menyerahkan dan sudah disepakati. Iya kalau suratnya gak ada dan saya langsung menempati tanpa ijin baru saya mau mundur”
“tapi pak yongki kan gak ada..? hari ini beliau gak bertugas, sedangkan non acaranya hari ini.”
“diprosedur memang ijin dikirimkan selambat-lambatnya H-1 kan pak..? kok sekarang ndadak kayak gini.”
“asalkan ada surat
tugas, dan petugas jaga hari ini ada bisa saja kok” ucap pak satpam kekeh.
“kata siapa..? aku bisa memanggilkan pak yongki jika diperlukan pak satpam Juno” sahut Jicob yang datang tiba-tiba membawa buku surat yang disepakati.
“baiklah. Ayo. Kita diskusikan jalan tengahnya” ucap pak juno mengalah.
“jicob..? kau membantu atau ada sesuatu..?” ucapku sedikit curiga.
“ayolah ul kau jangan seperti ini. mari kita diskusikan jalan tengahnya dengan kelompok teater” ucap Jicob mengajakku ke taman tempat duduk untuk diskusi sebentar dengan tiga orang anggota teater.
Alhasil, acara kami mundur satu jam dari rencana awal. Persiapan untuk jalan sambutan yang awalnya ada waktu jeda setengah jam harus terhapus.
“jicob, jika seperti ini sama saja menyiakan lilin-lilin yang satu sak itu dong..?” protesku
“ok” balasku
“tenang saja akan aku bantu” janji jicob mengajakku kembali ke gedung sekolah.
Usai acara sambutan dan banyak pembagian tugas anggota tidak terasa petang akan segera datang.
Tring...
‘bawakah lilin yang dipakai 50 buah saja. Jangan lupa korek api.’ Pesan dari jicob
Segera saja aku menuju markas mengambil lilin yang sudah dihitung beserta korek api.
Lumayan berat dan aku berjalan harus lebih hati-hati. Jangan sampai lilin ini patah sebelum terpakai. Pikirku.
“ini jicob” ucapku memberikan lilin yang sudah ku bawa ke kursi taman gedung musik.
“ul, kau lihat tadi sebelum masuk pos keamanan ada jembatan kan..? dan di sekeliling lapangan sekitar gedung musik juga ada pemabtas jalan yang jarang dilewatikan..?”
“ya.. aku paham” ucapku mengambil sebagian lilin dan mulai menyalakan.
__ADS_1
Hening... senja yang membuat jalanan meredup disinari cahaya lilin. Sosok jicob seperti sosok lain dari kejauhan. Dia nampak termenung sendiri saat menyalakan lilin dari satu sisi ke sisi lain. entah kesedihan karena apa atau untuk apa.
Duk...
“ups” ucapku tak sengaja mundur dan menabrak jicob yang ada dibelakangku.
“sudah selesai..?”
“ya”
“indah kan..?”
“ya”
“akhirnya selesai” ucap jicob dibarengi meniup lilin yang dibawanya.
“ya” ucapku sembari meniup lilin yang ku bawa.
“ul, setelah ini. aku harus mandiri sendiri ya. Kau harus lebih kuat dan aku percaya kau bisa”
“apa kau sudah capek aku ganggu..?”
“tidak, hanya saja pamanku jendral militer menyuruhku pulang ke kota B untuk sementara waktu. Tak apa kan..?”
“oh. Tentu saja. Apa salahnya. Lalu lilis adikmu bagaiamana..?”
“dia sudah pindah sekolah ke kota J seminggu yang lalu.”
“aku belum mengucapkan selamat tinggal.”
“tak apa. Dia maklum padamu”
“terima kasih ya Jicob”
“untuk...?”
“semuanya”
“apa..?”
“terima kasih sudah menjadi sosok seperti kakak dihidupku”
“jika waktunya tiba, ku harap jangan maafkan aku ya Ul” ucap jicob berbarengan dengan datangnya angin yang memadamkan lilin hasil karya kami.
“hahahahaha.. waktunya bekerja lagi, kakak jicob” ucapku sembari tertawa menahan pikiranku memunculkan kemungkinan yang hanya praduga saja.
__ADS_1
Hatiku terasa sesak, seakan aku telah merugi. Entah apa yang ada dihadapanku jicob yang beberapa waktu tidak berinteraksi denganku seakan jadi sosok lain. ada jarak yang tak bisa aku pahami. Dia mendekatiku seperti kedekatan kawan lama, namun terkadang penuh hormat dan kehati-hatian, tapi dalam waktu singkat ini jarak antara kami renggang dan dia menjauh. Jicob seperti apa kau itu, batinku.