SINAR BULAN

SINAR BULAN
Vol.2 E:21


__ADS_3

‘Biarkan semua kembali ke awal, saat awal permulaan sebelum kita bertemu..’


“apa dia belum siuman..?”


“apakah anda menunda keberangkatan hanya demi dia..?”


“jicob ku mohon sampaikan salamku. Aku pamit”


“sampai jumpa jenderal Yue”


Perbincangan itu terasa semakin jauh ku dengar. Ku padarkan pandangan mencoba mencari benda dari dirinya.


“tunggu tolong tunggu sebentar” teriakku agar mereka yang ada diluar kamar ini mendengar.


Tak ada balasan. Ingin rasanya aku berlari, tapi tanganku masih mencari benda itu. Di setiap sudut ku padarkan pandangan “oh ayolah kau dimana” ucapku mengacak-acak ranselku. nampak\ diujung meja itu seperti sebuah kayu, “syukurlah” teriakku berlari menuju meja.


Krek...


Terdengar suara benda patah di kaki ku benda di balik selimut. Ku sibak selimut itu, tangkai binyeo itu patah. Tidak mungkin bisa disambung lagi. Ku raih benda itu, pupus sudah harapanku.


Bagaimana aku masih punya muka ingin bertemu dengannya


Bagaimana aku seceroboh ini


Lelehan hangat di pipiku merebak tak terkontrol


“yue....!!!!!” teriakku sesak, pandanganku menghitam buram.


************


“dia demam, jangan dipaksa lagi”


“jika dia tak segera dibangunkan hanya akan marah”


“apa yang kau tau darinya Ahn. Jangan ikut campur. Seperti ini lebih baik”


“yang aku tau, ini kesempatan terakhir dia bertemu jenderal Yue.”


“susah berdebat denganmu”


“jicob! Aku tau kau ada dipihak jenderal Yue. Tapi, tidak bisakah kau sedikit bersimpati pada Ul..? kau seperti kakak baginya”


“kita hanya orang luar. Terlebih lagi dirimu yang hanya kawan baru. Ku harap kau mengerti Ahn”


“demi Ul. Ku mohon tunggulah. Aku akan membangunkannya.”

__ADS_1


“aku sudah tak punya waktu. Jenderal sudah di bandara” ucap jicob berlalu


“hei Ul..!! jika kau bermalas-malasan tertidur aku tidak mau lagi membantumu. Sadarlah” teriak Ahn di depan pintu sekat.


Aku yang sudah terbangun hanya bisa duduk terdiam. Pikiranku kacau. Semua terasa hampa.


Brak...


Sekat didobrak paksa.


Dia yang ada dihadapanku bersungut-sungut menghampiriku.


“kau enak sekali terduduk membiarkan aku membelamu di depan jicob yang kaku itu”


Ucapan Ahn hanya ku tatap tak tau harus menjawab apa.


“ul. Ayo! Apapun yang terjadi ini peluangmu” tepuk Ahn di bahuku membopongku bangkit.


Semangat dari jemarinya menular padaku. Ku hapus air mata yang mulai mengering.


“tunggu sebentar. Aku akan membasuh muka” ucapku sembari membawa handuk dan jaket.


Ahn sudah menungguku di mobil depan paviliun.


Masih mengenakan gaun pestaku semalam, hanya ku lapisi jaket aku meluncur ke bandara.


“sejam lagi”


“apakah masih sempat..?”


“jangan meragukan kemampuanku mengemudi”


Walau bayangan diluar kaca mobil nampak seperti slide, hal itu membuktikan kami melaju dengan kecepatan tinggi.


Sesuatu yang membuatku bergidik ngeri. Belokan tajam yang hanya berjarak beberapa meter di ketinggian curam seakan mengingatkanku pada memori masa lalu.


Pandanganku memutih, seakan semua ini akan berakhir


“hei ul. Aku


hebatkan..? ayo segeralah ke bandara aku akan parkir dulu”


Ku pandang Ahn yang tersenyum puas “untung saja selamat. Kalau tidak bagaimana..? kalau kita kecelakaan bagaimana..? aku harus hidup sebaangkara lagi..? aku apa akan mati percuma..?”


“Ul. Tenang kau hanya cemas. Ul. Kita selamat percayalah padaku” ucap Ahn menepuk bahuku meyakinkan.

__ADS_1


“pergilah susullah pangeran impianmu” sambung Ahn mengingatkan lagi tujuan kita ke bandara.


Ku buka mobil tanpa berkata-kata. Aku belari, berlari semampuku mengejar waktu, ku lihat layar LED waktu keberangkatan, tak mempedulikan pengawas bandara yang mencegah, ku terobos jalur penumpang.


Di belakangku terasa ada yang mengejar


“nona, anda jangan disini. Ini berbahaya”


“ku mohon sekali saja. Ada yang harus ku katakan pada penumpang di pesawat itu”


“anda bisa menyusulnya sesuai penerbangan selanjutnya nona”


“tidak.. tidak... ini kesempatan terakhirku. Ku mohon”


Setengah memeberontak aku berlari, hampir dekat dengan jalur tangga penumpang


“Yue... apa kau disana..? apa kau mendengarku..?” teriakku


“siapa yang lancang memanggil jenderal. Ini pencemaran nama baik” ucap seorang petugas menyeretku menjauh.


“nona anda harus ke ruang introgasi kami”


“tidak ku mohon sebentar saja.”


“tolong bekerjasamalah nona”


“Yue..! Yue Guang Lim. Apa kau mendengarku” teriakku terisak. Suaraku tercekat, aku berlari melawan pegangan petugas yang membawaku. Gaun ini menghambat langkahku, angin yang kencang dan kakiku yang telah goyah beberapa kali tersungkur.


“ku mohon tunggulah. Yue” ucapku berlari.


Petugas yang dengan mudahnya menyeretku kembali membuatku kehilangan tenaga.


“Yue.......e....e....” teriakku tak ada suara


Pesawat itu telah lepas landas, mataku hanya bisa menatap kepergiannya tanpa benar-benar tau. Bagaimana


dirinya.


Tubuhku lemas, terkulai, aku terduduk lesu ku rasakan perih di kedua lututku yang berdarah, bukan lebih tepatnya perih yang lebih terasa di dada.


“nona, luka di kaki anda harus segera diobati.”


“luka..?” tanyaku pada mereka di belakangku


Dalam hatiku ‘bagaimana kalian peduli pada luka di kakiku ? jika yang perih tak berdarah ada di dadaku’ sambungku tak berdaya.

__ADS_1


Kini di negeri asing ini, orang yang menyambutku telah jauh pergi kemana. Kekosongan terasa menjalar dipikiranku. Semuanya menghitam, buram.


__ADS_2