
an yang berujar tentang kehidupan
Menjajak dan berjalan dalam setiap
Entah ia.. Akan hilang terporak
Awan kan selalu tetap
Dan tetap disana
Memandang, menanti
Hingga bergantinya sang malam
_________________
Pov.Yue
"Tuan kita sudah sampai". Ku tersadar "oh.. Iya terima kasih" ucapku pada supir taksi, usai membayar ongkos aku pun keluar menatap sebentar hotel yang ada di depanku.
"Ini bukan akhir segalanya" ku tak dapat kembali lagi untuk saat ini. Kini aku hanya bisa menunggu "menunggu penuh jenuh" ucapku bermonolog.
"Selamat datang, apakah anda jendral Lim dari negara tulip?" Sapa seseorang berjas hitam di depan lobi hotel. "Bukan" ucapku dan berbalik keluar tempat ini.
tidak mengungkap identitas tak bisakah. Huh! Ku ingat lagi surat dinasku semua akomondasi nomor penerbangan, hotel ternama aku lupa jika sudah dipesan. "Aku ke sini untuk urusan kewarganegaraan tak mungkin mencolok" ucapku sembari berjalan menjauh.
_____
__ADS_1
Saat gerimis dari timur
Berhamburan bersama datangnya fajar
Aku kan datang...
Tinggal kau bersanding pada malam
Ku kan ada, dan dapat kau jama...
__________________
Ku panggil lagi taksi yang terparkir tidak jauh dari jalan raya "tolong ke kota B" ucapku sembari memasukan barang ke bagasi. "Wah pak itu jauh. Perlu waktu 2 hari" ucap si supir ogah. "Saya bayar penuh", "bukan begitu pak, tapi itu bukan wilayah perusahaan taksi kami."
"Tolong ke kota J, bisa? disana netral. Semua perusahaan transportasi diatur pemerintah. Saya tetap bayar penuh sekaligus biaya konsumsi" ucapku sembari masuk di kursi penumpang. "Dengan senang hati pak" ucap si supir tersenyum puas.
*************
kini kakiku telah menginjak ranah orang. Kota B, dengan udara sejuk, sering berawan terkadang hujan. Kota dimana banyak pelajar hilir mudik menimba ilmu.
"Kumaha damang?" Ku cari asal suara yang menyapaku. Dia sosok gadis yang cantik, bermata sipit, berwajah bulat, dengan kulit putih dan rambut dikepang dua, mungkin usianya sebaya atau mungkin selisih beberapa tahun lebih muda dariku. Ku balas sapanya dengan senyuman, bukan karena terpesona tapi aku tak tau apa yang dikatakannya.
"Mari teh saya antar ke kamar asrama" ucap dirinya membawa barang bawaanku. Aku mengangguk saja tanda setuju. "Bila boleh tahu, anda siapakah?" Tanyaku heran "jangan terlalu sopan teh ,saya hanya kurir", "kenapa?" Tanyaku penasaran dia hanya tersenyum dengan bibir terulum, ku anggap itu tanda bahwa dia tak mau ditanya lagi.
__ADS_1
Perlombaan yang kemarin diawali dengan seleksi mengarang, dilanjutkan dengan tahap menyadur. Disini kami dilatih untuk tertantang membuat karangan tapi tidak boleh terkecoh dengan karangan penulis lain yang jadi bahan saduran.
25, 15 hingga tersisa kini 5 orang saja. Empat diantaranya laki-laki. Ini keberuntungan atau tantangan? Aku tak tahu.
Tok..tok...tok "teteh? Bolehkah saya masuk?", "silahkan" ucapku membuka pintu kamar asrama. "Saya bantu berkemas teh? Biar teteh bisa ngisi berkas". Ku peluk Lilis, gadis yang mendampingiku selama beberapa minggu di kota ini. "Lis, kamu sudah ku anggap seperti adikku sendiri, terima kasih. Kelak bila ada kesempatan boleh kita berjumpa yaa?". "Terima kasih teh" ucapnya memandang aku yang berlinang air mata.
Walaupun ku rasakan bahwa pandangan matanya menyiratkan yang lain, ada yang dia sembunyikan ku anggap aku tak perlu tau. Asalkan dia sekarang, itupun sudah cukup.
"Teteh jadi kemana pilihan negaranya? Negeri gingseng atau negeri tulip?". Ku lihat lagi berkas yang belum selesai aku isi.
"Kalau saya teh, pengennya ke negeri gingseng aja. Banyak Oppa. Makanannya gak jauh beda sama kita" sambungnya lagi. "Gimana kalau kamu aja yang berangkat?" Tanyaku menawarkan. "Eleuh..eleuh mana bisa gitu teh. Kan nama teteh yang tercantum." He he he ... Kami pun tertawa bersama.
"Yaudah teh.. Saya permisi dulu. Selamat malam". Ku jaeab ucapannya dengan anggukan. Tut..tut..tut... "aish! Kemana semua orang" ucapku bermonolog. Ibu, ayah, pak Ron, Arida sensei, ana laoshi semuanya tak ada yang menjawab panggilanku. Sebal!
*************
__ADS_1