
Perpustakaan sore hari
Krittt...
Suara pintu digeser. Ku lihat dua sosok yang berjalan ke arahku
“ini sudah pukul 4 sore kau belum pulang..?”
“belum masih ada berkas yang harus aku isi, biasalah nyari wi-fi gratisan hehehehe”
“kau mau ngurus apa sih..? ini hampir tutup lo. Besok saja lagi”
“oke. Kau pandai beralasan im, ayo “ ucapku bangkit mendahului im yang masih duduk.
“berkas yang kau bawa banyak sekali. Kau mau pindah atau mau pergi.”
“im, aku sudah pusing dengan banyaknya berkas. Kau mau apa mencariku..?”
“ayo ke markas bentar, ada beberapa bahan yang harus kau bawa pulang” ucap im membawakan tasku, tentu
saja sebagai jaminan aku tidak akan kabur kali ini.
“permisi..” ucapku memasuki ruangan. Kini nampak longgar tanpa banyak peralatan, jujur saja ku akui walau im seorang cowok tapi dia sungguh telaten dan rajin.
“ul, tiga hari lagi ada pengumpulan laporan, karena kita bukan devisi wajib datang, supaya tidak mengganggumu aku berniat mewakili mengumpulkan laporan devisi. Kalau kau tak keberatan”
“oh. Baiklah aku juga ada berkas yang harus aku buat”
“tapi jika aku mau datang aku sangat berterima kasih. Toh kemungkinan jicob juga bisa hadir.”
“jicob..? dia sudah kembali..? kenapa kita gak kumpul seperti dulu lagi?”
“aku kurang tau, dan juga ini beberapa buku catatan yang bisa aku tinggalkan untukmu, siapa tau bisa jadi kenang-kenangan arsip pribadimu”
“oke akan aku simpan” ucapku sembari undur diri.
***************
2 hari kemudian....
Hos...hos...hoss....
“kau itu tak mau mendengar atau tidak mendengarkan..? aku berlari memanggilmu tapi aku tak mendengarkan.”
“aku Cuma tak kedengaran”
“kau sangat cuek ul. Ayo kembali dulu ke sekolah.”
“apa ada hal baik..?”
“jicob ingin berbicara padamu dan kita”
__ADS_1
“kau saja yang mewakili, toh besok aku tidak bisa hadir, sampai jumpa im” ucapku berlalu menuju angkot yang ada diseberang jalan.
“setidaknya kau baca catatan itu” teriak im sebelum angkot yang aku tumpangi melaju.
Malam hari...
Ku cari buku catatan yng masih tersimpan rapi diatas meja belajar.
‘sebuah perjumpaan...
Dia, yanuar, jicob dan aku
Kawan yang cocok untuk bersama
*******
Aku tak tau dia siapa
Hanya saja berbeda
*******
Ketidaksengajaan membuat kami terhubung
Entah kenapa tatap kesalnya selalu teringat
Apakah aku begitu
********
Bagian mana yang kurang dalam pertemanan kami
Adalah ketidakjujuran
********
Jicob, dia penuh ketegasan dan patut dikagumi
Tapi tatapannya
Seperti ada rahasia terpendam
*********
Jika memang pertemanan kami patut dipertahankan
Aku harap ul tidak jadi korban
**********
Usai acara dimana Ul dan jicob punya waktu
__ADS_1
Aku tak tau ini awal kerenggangan mereka
Jicob pulang, katanya ada paman jendral yang menyuruhnya kembali
*********
Kata jicob, alasan dia terhubung dengan ul hanya karena janji
Janji antara paman jendral dan Ul
Sebenarnya
Ul siapakah dirimu?
*********
Ku baca catatan yang begitu banyaknya dan ku tangkap inti darinya. Jicob mengenali paman jendral, siapa dia...?
Paman jendral, apa aku pernah kenal..? kenapa im menyebutkan seperti itu. Hal ini seperti bom waktu yang datang bersamaan.
Tok..tok..tok..
“nak bisa kau kesini bentar..?” ucap ibuku mengetuk pintu kamar
“baik bu”
Ku ikuti langkah kaki ibu yang terhenti di depan kamar utama
Klik.... kunci yang penuh sandi rumit dengan catatan yang dibawa ibu tanpa ku tau berisi apa.
Krittt.... suara pintu berdecit.
Ruangan luas, dengan piano disamping tempat tidur yang masih tertata rapi. Nampak lukisan tulip kuning menggantung di dinding. Beberapa buku ilmu medis terpajang di lemari kaca. Bersebrangan dengan buku dongeng yang tertata rapi di rak kayu gantung.
“kamar siapa ini bu. Rapi sekali”
“kamarmu” ucap ibu lirih.
“aku boleh tidur disini bu malam ini..?” tanyaku sembari duduk di ujung ranjang.
“tentu saja, ibu keluar dulu” ucap ibu tersenyum paksa.
Pandangan ibu seperti pandangan pada sosok yang dirindu. Tapi kata ibu ini kamarku. Catatan im, hiasan kamar ini seperti slide yang bertebaran di pikiranku.
(kau harus berusaha lagi Yue, demi membeli buku itu, kuning yang cantik Yue) sayup-sayup terdengar
suara wanita dimimpiku. Hal ini membuatku terbangun. Ku pandangi tut piano yang entah berapa lama mangkir disini.
Do...re...mi...
“aku tak pernah bermain musik tapi kenapa ada ini disini” komentarku ku langkahkan kaki keluar “lebih baik tak tau apa-apa” ucapku sembari menutup pintu rapat-rapat.
__ADS_1