Sisterzone

Sisterzone
Pembicaraan VIP


__ADS_3

Alia masih terkejut saat membalas pelukan Rinda. Seluruh kewaspadaannya tadi melorot seketika.


"Kau sudah jadi wanita yang manis," ujar Rinda begitu melepaskan pelukannya. Ia merapikan anak rambut Alia yang sedikit berantakan.


Alia membuka sedikit mulutnya, belum sepenuhnya pulih dari keterkejutan. "Tante Rinda ada disini."


Rinda mengangguk. "Iya. Hampir sepuluh tahun kita tak berjumpa. Tante hampir tidak mengenalimu."


"Pembohong," tukas Wilda yang merasa diabaikan.


Rinda tidak menanggapi ucapan Wilda, di satu sisi, Alia juga tidak memperhatikan. Berbeda dengan Alia, Rinda tak mempunyai perubahan signifikan dari penampilannya sejak sepuluh tahun lalu. Alia masih dengan jelas mengingat Rinda walau kerutan tipis mulai terbentuk di wajahnya yang masih terlihat cantik.


"Hei, apa kalian akan terus berdiri? Aku lelah dan ingin segera memesan sesuatu," interupsi Wilda.


"Tak ada yang melarangmu duduk sejak tadi," tukas Rinda sedikit tak peduli.


"Jahatnya... apa kau belum diberitahu kalau aku sampai harus berlari-lari, tadi?" Wilda masih lanjut mengeluh. Ia dengan gontai menarik kursi dan menghempaskan diri disana.


Rinda tidak mendengarkan keluhan itu. Ia menarik Alia lembut dan mengajaknya duduk di salah satu kursi juga.


"Curang! Alia kau perlakukan lembut, tapi denganku kau jadi sangat dingin," protes Wilda.


Lagi-lagi Rinda tidak menanggapi.


Alia menatap bergantian antara dua wanita itu. "Tante Rinda dan Kak Wilda ini... teman?"


Wilda mengangguk antusias sementara Rinda menggelengkan kepalanya.


"Kau sungguh tega!" seru Wilda lagi.


"Pasti kau yang menyuruh Alia memanggilmu 'kak'. Apa kau tidak sadar diri. Kau dan Alia berbeda selisih dua puluh tahun." Rinda menatap Wilda sengit.


Wilda mengangkat bahu. "Aku cuma belum ingin dipanggil tante saja sepertimu. Lagipula aku dan Alia tidak benar-benar berbeda dua puluh tahun. Kami selisih sembilan belas."


"Sama saja."


"Tidak!"


Rinda dan Wilda kembali melanjutkan perdebatan. Alia tersenyum kecil. Ia bisa melihat kedekatan keduanya lewat komunikasi yang sedikit brutal itu. Alia sudah sepenuhnya menghilangkan kecurigaan pada Wilda. Ia menjadi tenang begitu mendapati orang yang akan ditemuinya adalah seseorang yang memang sangat ia kenal dahulu.


Meskipun memiliki segudang pertanyaan yang sangat ingin ditumpahkannya, Alia masih menahan diri. Ia diam-diam melirik sekeliling. Awalnya ia mengira tak bisa melihat pemandangan dari tempat itu sebab jika dilihat dari luar, kaca ruangan ini bahkan tidak tembus pandang. Setelah masuk barulah Alia menyadarinya. Tempat itu bahkan menyajikan pemandangan taman buatan khusus di kawasan itu yang terbilang sangat bagus.


"Kau ingin memesan apa, Alia?" tanya Rinda tiba-tiba.

__ADS_1


Alia menoleh cepat dan menemukan Rinda serta Wilda sedang kompak menatapnya.


"Pemandangannya cantik, ya?" goda Wilda dengan kekehan pelan.


Pipi Alia memanas. Ia merasa malu sebab tidak memperhatikan orang yang membawanya ke tempat terbaik yang pernah ia kunjungi.


"Sekali lagi kau mengganggunya, aku akan menggunting habis rambut pendekmu itu," ancam Rinda.


Wilda langsung menutup mulut dan memegang rambutnya waspada.


"Jadi, kau mau pesan apa, Al?" ulang Rinda.


Alia melihat daftar menu di tangan Rinda dan mulai menggaruk kepala. "Sepertinya aku tak akan memesan, Tante."


"Eh... Kenapa?" Wilda yang bertanya.


Alia tersenyum canggung. "Uang yang kugunakan untuk membeli satu macam makanan disini bisa saja kubelikan barang lain yang bertahan hingga berbulan-bulan."


Mendengar itu, Rinda menepuk bahu Alia. "Kau jangan memikirkan itu, Al. Tante yang traktir hari ini."


"Aku yang akan memilihkan menu. Kau harus mencoba makanan terbaik disini. Walaupun tak sebaik makanan yang kujual di tempatku, setidaknya ini cukup baik juga. Huh... andai Rinda bodoh ini mengizinkanku membuka cabang WR Coffee di kota ini, kau akan kubawa langsung untuk mencoba yang terbaik disana." Wilda merebut menu dari tangan Rinda dan mulai memilih makanan.


Rinda tidak berkomentar. Ia pelan-pelan menghela napas.


Alia baru hendak menolak tawaran itu saat Rinda mengelus rambut hitam Alia.


"Terimakasih." Alia tersenyum manis. Jarang sekali ada yang memerhatikan pita biru gelap yang Alia kenakan. Jika dilihat sekilas, memang pita biru itu tak ada istimewanya. Jadi Alia sangat menghargai pujian Rinda yang menyelipkan senyuman tulus itu.


Kali ini Wilda hanya menatap mereka tanpa kembali berkoar. Ia menunduk untuk menyelesaikan pesanan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Rin-Rin, kau jangan lupa tujuan kita membawanya kemari," ujar Wilda dengan nada yang lebih santai.


Rinda mengangguk setuju. Biasanya ia akan memarahi Wilda yang suka menyebut namanya sembarangan. Tetapi kali ini ia tidak berkomentar. Rinda mengambil tangan Alia dan menggenggamnya. "Maaf jika ini terlalu tiba-tiba. Alia, apa kau ingin tinggal bersama Tante?"


Alia tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu. Jadi ia tidak bisa memberi jawaban cepat.


"Ibu dan Ayahmu adalah sahabat dan senior terbaik Tante. Disaat terakhir mereka, Tante tidak bisa hadir disana. Itu adalah penyesalan yang besar. Setidaknya dengan merawatmu saat ini, bisa membantu menghilangkan rasa itu," tambah Rinda.


Alia masih terlihat berpikir. Tak ada alasan baginya meragukan Rinda. Sejak ia bisa mulai mengingat, Rinda memang selalu datang berkunjung ke rumah mereka untuk menemui Ibunya. Alia juga termasuk orang yang dekat dengan Rinda sejak dulu hingga saat usianya menginjak sebelas tahun. Itu adalah tahun dimana momen yang menyedihkan sekaligus menyenangkan, paling banyak berdampak pada dirinya. Rinda yang mulai jarang mengunjungi mereka disebut oleh Ibunya sedang memiliki urusan penting di satu tempat. Sejak saat itu, Rinda tak pernah lagi muncul hingga bertahun-tahun lamanya.


"Maaf, Tante. Tapi meninggalkan barang Ibu dan Ayah di rumah, itu cukup berat. Aku menghargai tawaran baik Tante. Namun, kenangan yang ada di rumah itu masih ingin kurasakan." Alia menolak dengan nada lembut.


Wajah Rinda terlihat pias. "Kau bisa membawa barang-barang dari sana. Tante juga bisa menyuruh orang merawat rumah itu secara berkala. Atau-"

__ADS_1


"Rin-Rin," potong Wilda cepat. Ia menggelengkan kepala pelan melihat respon Rinda yang terlihat memaksa itu.


Alia sejujurnya tidak menyangka reaksi Rinda akan seperti itu. Ia menyangka Rinda akan bisa menerima pilihan Alia. Akan tetapi, daripada sedih karena permintaannya ditolak, Rinda lebih terlihat cemas.


"Maaf...," desah Rinda begitu sadar dengan apa yang ia perbuat. Ia memijit kepalanya pelan sambil menunduk. "Akhir-akhir ini aku sedikit tertekan."


Wilda menyilangkan tangan di dada. "Lihat, kau sudah membuat Alia jadi tidak nyaman."


"Ah, tidak. Aku tak apa-apa." Alia sedikit panik saat Wilda menyebut namanya. "Tante Rinda jangan khawatir. Aku senang dengan maksud baik itu. Untuk selanjutnya, kalau aku berubah pikiran, semoga Tante masih bersedia untuk memberikan tawaran ini lagi."


Rinda mematung mendengar penjelasan Alia. Tak lama ia mulai tertawa pelan.


"Astaga, Alia. Kau benar-benar fotokopi Astrid, ibumu. Kata-kata kalian persis sama. Kalau begini, tak mungkin Tante bisa merasakan hal lain selain menjadi lebih tenang." Rinda tersenyum lebar.


Wilda yang memperhatikan jadi tertegun. Ia bisa tahu dampak besar dari yang dilakukan Alia pada Rinda. Setahunya, sahabatnya itu sangat jarang menunjukkan ekspresi lain selain murung, sedih, atau saat sedang serius. Akan tetapi, baru beberapa saat, Rinda sudah lebih banyak tersenyum dan bahkan bisa tertawa. Hal yang sulit dilakukan oleh Wilda sekalipun meski sudah berada disisinya selama bertahun-tahun.


Senyum terbit di bibir Wilda. Ia ikut merasa senang dengan perubahan kecil yang Rinda tunjukkan. Itu menunjukkan bahwa pilihannya memilih jalan ini sudah benar. Wilda menarik napas dan menghilangkan senyumnya dalam sekejap. Ia menatap tajam pada Rinda dan Alia.


"Selanjutnya giliranku. Aku akan merekrutmu, Alia Redalia, untuk menjadi karyawanku di WR Coffee. Kau tak perlu menyiapkan apapun untuk masuk kesini, karena rekomendasi dariku dan Rinda sekaligus. Untuk itu, aku tak menerima penolakan apapun darimu." Wilda menyelesaikan kalimatnya dengan tatapan memaksa.


Rinda mengangguk dan meminta Alia menyetujui itu.


Melihat Rinda dan Wilda sama-sama memaksanya, Alia tak punya pilihan lain selain menerima. Lagipula, tak mungkin ia menyia-nyiakan kesempatan untuk bekerja di tempat terkenal seperti WR Coffee ini.


Mereka lanjut membicarakan tentang hal ini dengan lebih detail. Di tengah-tengah pembicaraan, pesanan mereka datang dan Wilda yang berdiri untuk mengambilnya. Setelah itu tak ada lagi yang mengganggu mereka. Sesuai dengan konsep ruangan itu, semua demi menjaga kerahasiaan atau pembicaraan serius yang sedang berlangsung. Sebab itu, interaksi dengan luar benar-benar dibatasi. Makanan merekapun dipesan melalui tablet khusus yang sudah ada di meja itu.


Konsep cerdas itu menginspirasi Wilda untuk membuat hal yang sama di WR Coffee nanti, sepulang dari Kota Pusat.


"Oh, benar. Aku juga ingin menanyakan ini. Bagaimana Tante bisa tahu kalau aku sedang ada di bandara Kota Pusat ini?" tanya Alia. Ia mendapat penjelasan kalau Wilda menjemputnya sebab arahan dari Rinda.


"Wah, Alia, kau jangan meremehkan Tantemu ini. Diam-diam, dia memiliki jaringan informasi yang cukup luas di satu provinsi ini. Yang bisa menandinginya hanya satu, dan lebih baik kita tak menyebut nama monster tua itu," jawab Wilda dengan cepat.


Rinda hanya diam dan menyendokkan makanannya.


Alia mengangguk paham. Ia merasa tak ada kebohongan di kata-kata itu meski dirinya belum memiliki gambaran pasti tentang luasnya jaringan yang dimaksud.


"Kalau begitu, apa Tante juga menemukan informasi kalau seseorang sedang memata-matai atau terlihat mengancam saat menjemputku tadi? Kak Wilda dan aku sampai harus berlari-lari disana. Selain itu, sepertinya Tante Rinda juga melakukan sesuatu yang membuat kafe ini jadi kosong dan tak menerima pembeli lagi. Lebih dari itu, Tante juga sampai menyewa ruangan VIP hanya untuk membicarakan soal tawaran tadi dan tentang pekerjaan ini," analisis Alia. Ia terlihat lebih santai setelah menyalurkan semua pertanyaannya tadi dalam satu penjabaran yang dipikirkannya.


Rinda terkesima dan tak mampu menjawab, sementara Wilda menelan ludah. Mereka tahu bahwa Alia adalah wanita yang cerdas. Tetapi mereka tak menyangka bahwa Alia akan jadi setajam ini.


Alia juga mengakui sedikit kelebihannya itu. Tinggal bersama Daniel sudah membuatnya menjadi orang yang lebih peka dan kritis terhadap sekitarnya. Apalagi dalam kegiatan sehari-hari, ia dipaksa menerjemahkan suatu keadaan karena Daniel yang terlalu irit bicara tak akan memberinya penjelasan yang memuaskan.


"I-itu... Kau tahu, Alia? Aaa-Oh! Iya! Rin-Rin orang yang sangat penting di dalam dunia bisnis. Selain itu, banyak yang punya dendam dengannya, sebab itu ia membutuhkan proteksi yang sangat ketat. Di bandara juga, itu agar kita aman saja. Dan kalau aku tidak mengatakan kalau kita sedang buru-buru, bisa jadi kau tak akan mau ikut denganku." Wilda menjawab terbata-bata.

__ADS_1


Rinda mengangguk-angguk setuju. Kedua wanita yang sama-sama lebih tua dari Alia itu mengucurkan keringat dingin saat Alia memberi tatapan tak percaya.


Tetapi Alia tak mendorong hal ini lebih jauh. Ia menyimpan lagi pertanyaannya dalam-dalam. Seandainya Daniel masih ada saat ia kembali ke rumah nanti, Alia bisa menceritakan tentang hal ini dan meminta Daniel menganalisisnya. Sementara ia merenung, Wilda dengan cepat mengalihkan pembicaraan lagi.


__ADS_2