Sisterzone

Sisterzone
pertemuan (II)


__ADS_3

Alamat yang Daniel dan Alia tuju adalah sebuah kafe sepi. Padahal untuk ukuran, tempat ini bisa menampung puluhan pengunjung.


"Harusnya di tempat ini, tapi kenapa sepi sekali?" tanya Alia heran. Ia menurunkan kaca mobilnya.


Daniel kurang lebih memahami alasan kurangnya pengunjung disini, jadi memilih untuk tetap diam. Tempat parkir yang kosong memudahkan Daniel untuk mengatur mobilnya. "Jangan buka pintu mobil."


Alia yang baru akan mendorong pintu saat mesin mobil dimatikan langsung tertahan. Ia menatap kebingungan. Daniel keluar tak lama, lalu memutari mobil dan membukakan pintu Alia. 


"Astaga, begini saja Kakak juga bisa sendiri." Alia menggeleng lelah, menganggap ini tindakan yang berlebihan. 


"Masih lima menit dari janji kalian. Kalau sudah tepat pukul tiga dan ternyata dia belum datang, langsung keluar. Kita pulang," tegas Daniel.


Alia menggaruk pipinya. "Memangnya kau tidak masuk?"


"Hah… ini, kan, kencan. Bagaimana aku bisa masuk dan mengganggu?"


Alia mengangguk paham. 


"Dan juga, beri pesan jika setelah masuk, pria itu sudah datang. Sebagai pria, dia harusnya datang lebih awal. Itu akan merusak penilaianku padanya nanti." Daniel menyilangkan tangan di depan dadanya sambil bersandar di mobil. "Aku akan menunggu disini."


Alia mengangguk sambil tersenyum tipis, berniat sejak awal untuk langsung mengirimkan pesannya, ada atau tidak ada Kevin. Alia melangkah pelan meninggalkan Daniel, menuju ke pintu masuk kafe itu.


Seorang pelayan menyambutnya dengan senyum lebar, membuat Alia jadi sedikit kikuk. Pelayan itu lanjut mengantarnya ke dalam, ke meja dengan pemandangan paling bagus dimana seorang pria sudah duduk disana.


"Hai, Kevin," sapa Alia.


Kevin menoleh cepat dan segera berdiri. Sesuai dengan persiapan dan latihannya, harusnya sekarang ia menuntun Alia ke tempat duduknya dengan lembut. Tetapi seakan tersihir, Kevin terpaku sampai lupa menutup mulutnya. 


Alia mengibaskan tangannya di depan wajah, berharap Kevin kembali sadar. "Apa kau baik-baik saja?"


Kevin terkesiap kaget. "Eh, ah, iya. Maaf."


Alia tersenyum kecil. Membuat wajah Kevin memerah.


"A-aku lupa. Silakan duduk." Kevin mengarahkan Alia, berusaha memberikan yang terbaik.


"Kau terlalu kaku. Bersikap seperti biasa saja." Alia tersenyum menenangkan.


Kevin ikut tersenyum, lalu menunduk. Rautnya berubah menjadi sedikit sedih. "Maaf, kalau membuatmu terganggu. Sepertinya hanya aku yang berpikir kalau ini semacam pra-kencan kita. Maksudku, karena kita belum resmi, jadi seperti itu."


Alia tertawa pelan. "Aku juga menganggapnya seperti itu. Sebab itu aku mengubah sedikit penampilanku. Bagaimana menurutmu?"


"Sangat cantik. Kau jadi berkali-kali lipat lebih manis," sahut Kevin cepat. Telinganya sudah memerah. "Apalagi kau melakukannya untuk bertemu denganku. Aku, sangat senang."


Alia kembali tertawa ringan. Pria di depannya sama sekali tidak berusaha menutupi rasa suka pada dirinya. Alia merasa itu adalah hal yang menarik dari Kevin.

__ADS_1


"A-aku menyukaimu, Alia."


Lagi.


Secara tiba-tiba dan seperti tidak ada keraguan sama sekali. Kevin menatap Alia dengan wajah merahnya dan mengucapkan kalimat itu sekali lagi. Harus diakui, Alia terkesan. Walau suaranya masih sedikit bergetar, tetapi Kevin menunjukkan keberanian dan tekad yang baik.


Alia tersenyum tipis, pipinya sedikit merona. "Terimakasih."


Sedetik kemudian wajah Alia kembali tegas. "Tapi maaf, Kevin. Aku belum bisa mengatakan hal yang sama kepadamu untuk saat ini."


Kevin mengangguk pasrah, sudah bisa menebak jawaban itu. Dari semua pengetahuan dasarnya tentang percintaan, harusnya seorang wanita yang jatuh cinta akan mengubah sikapnya menjadi lebih lembut pada orang yang disuka. Tapi Alia masihlah seorang wanita yang sama. Wanita tegas yang mengagumkan. Meski masih belum diterima, Kevin tetap senang karena kini, Alia lebih sering tersenyum dan tertawa dengannya.


"Dua atau tiga pertemuan lagi, bagaimana?" tanya Kevin sedikit ragu.


Alia berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Ya, dua atau tiga pertemuan lagi, mungkin."


Kevin tersenyum senang. Ia masih punya waktu dan kesempatan. 


Beberapa pelayan mendatangi mereka dan membawakan minuman dan makanan. "Ini menu terbaik di kafe kami."


Kevin mengangguk ramah dan berterimakasih. Pelayan-pelayan itu lalu pergi dengan senyum senang.


"Ah, jadi ini rasanya duduk di kursi pelanggan," celetuk Alia. Mengingat kembali saat dirinya masih bekerja di WR Coffee.


Alia memiringkan kepalanya. "Bagaimana bisa sama?"


"Yang kurasakan sama. Tertegun, terkesan, terpesona. Kau itu menakjubkan." Kevin kembali tersenyum.


"Ucapanmu manis sekali," balas Alia. Sekarang ia cukup terbiasa dengan pujian itu. Aslan, Riki, dan Edward sering mengucapkan pujian sejenis setiap kali Alia memasakkan makanan untuk mereka.


"Aku juga ingin minta maaf." Kevin menatap Alia dengan raut bersalah. "Soal kejadian malam itu. Sungguh, karenaku kau sampai mengalami kejadian buruk itu. Bu Wilda memberitahukan aku detail kejadiannya. Aku merasa sangat tidak berguna, maaf."


Alia mengira topik ini sudah selesai saat Kevin menghubunginya hari itu. Tapi pria ini terlihat masih merasa bertanggung jawab atas hal yang sudah Alia alami malam itu.


"Aku sudah tidak apa-apa. Itu bukan salahmu. Aku sendiri yang meminta turun disana, kan?" tukas Alia.


"Tapi seandainya aku tidak mengatakan kalau tempat itu aman, kau pasti tetap melewati gang jalanmu yang biasa dan akan baik-baik saja." Kevin masih bersikeras. "Kau sampai pindah ke Kota Pusat seperti ini dan berhenti bekerja di WR Coffee."


Alia menopang dagunya di atas meja sembari tersenyum. "Bahkan jika itu tidak terjadi, aku akan tetap pindah kesini malam itu. Adikku akan…"


Mata Alia langsung melebar. Ia lupa mengirim pesan untuk Daniel. Kevin melihat dengan raut cemas saat Alia sibuk mencari ponselnya. 


"Ada apa?"


"Tunggu, sebentar. Maaf Kevin." Alia mengutuk dirinya sendiri. Bukannya tadi dirinya yang bertekad untuk segera memberikan pesan pada Daniel begitu sampai di dalam. Bagaimana bisa ia lupa seperti ini? Belum sempat ia mengetikkan pesan, terdengar keributan di pintu masuk kafe.

__ADS_1


"Maaf, anda tidak bisa masuk untuk saat ini. Tempat ini sudah dipesan." 


"Apa jumlah ini cukup untuk membayar semua?"


Alia semakin panik saat mendengar suara Daniel. Ia beranjak dari tempat duduknya dan melangkah cepat ke arah keributan itu. Kevin yang kebingungan segera ikut menyusul, mengabaikan nyeri di hatinya saat tahu Alia langsung pergi begitu saja.


Seorang pelayan sedang berdiri kebingungan dengan kertas cek di tangannya. Jelas ia terkejut dengan jumlah yang tertera disana. Wajahnya menunjukkan kebimbangan. Dibanding harga yang diberikan Kevin untuk meminta hak penuh kafe selama beberapa jam kedepan, jumlah yang tertera di kertas cek itu melebihi dua kali lipatnya.


"Daniel," seru Alia. "Apa yang kau lakukan?"


Daniel menoleh ke arahnya, tapi fokusnya dialihkan pada Kevin yang mengikuti Alia dari belakang. 


Kevin tertegun saat melihat Daniel. Bahkan bagi seorang pria sepertinya, ia bisa melihat karisma Daniel yang luar biasa, apalagi dia terlihat lebih muda dari Kevin sendiri. Ia menatap lurus pada Daniel yang melangkah mendekatinya, mengabaikan Alia di sebelah.


"Oh, kukira anda tidak jadi datang. Sepertinya akan lebih baik jika kita berkenalan, bukan?" Daniel tersenyum dingin. "Nama saya Dani-"


"Kevin Reegan. Calon kekasih Alia." Kevin memotong dan mengangkat tangannya lebih dulu. Ia mencoba untuk tidak tertelan oleh aura menusuk dan tekanan yang diberikan Daniel padanya.


Raut wajah Daniel berubah. Tetapi dalam sekejap kembali lagi. Ia menyunggingkan senyum miring. Ia menyambut uluran tangan Kevin. "Daniel Anggara, Kekasih Alia."


Kevin terlihat terkejut sementara Alia mengerutkan keningnya dan bersiap akan menyangkal. Daniel hanya tertawa pelan. "Bercanda. Aku adiknya."


"Jadi anda yang bernama Kevin? Ngomong-ngomong, anda percaya diri sekali bisa mengambil hati kakak saya. Oh, saya lupa memberikan ucapan terimakasih. Terimakasih sudah mengantar Kakak saya waktu itu. Dia sudah tak apa-apa sekarang. Luka gores di dahinya juga sudah sembuh," tutur Daniel melanjutkan.


Kevin tidak jadi mempermasalahkan ucapan awal Daniel. Ia terlihat panik saat tahu Alia terluka. "Kau terluka? Kenapa tak bilang?"


Kevin bergerak tanpa sadar dan menyibak rambut Alia yang menutupi dahinya. Jemarinya menyentuh lembut, membuat Alia sedikit merona. "Astaga, sampai berbekas begini."


"Ya, seperti itulah." Daniel dengan cepat menyingkirkan tangan Kevin dari dahi Alia. "Jadi, apa kalian sudah selesai? Bisakah kita pulang sekarang, Kak?"


Alia merasa tidak bisa menjawab hal itu. Namun, Daniel bergerak semakin jauh.


"Aku akan membayar semuanya, anda bisa mengambil kembali uang anda. Saya dan Kak Alia akan pergi sekarang." Daniel tidak ingin berada disini lebih lama.


Kevin menghela napas, lalu menggeleng. "Itu tidak perlu. Saya yang akan menanggungnya. Saya tidak mungkin menahan Alia lebih lama disini. Dia berkenan datang saja, saya sudah senang dan bersyukur."


Kevin melangkah mendekati Alia. "Maaf, Al. Kau boleh membenciku setelah ini."


Kevin mendaratkan kecupan di kening Alia. Tidak secara langsung karena tertutup untaian rambut hitamnya. Tetapi itu lebih dari cukup untuk membuat Alia bersemu merah. Terutama setelah Kevin ikut berbisik di telinganya.


"Aku mencintaimu, Alia."


Alia terpana. Bukan menyukai lagi, tetapi mencintai. Terlebih, Kevin menyatakan ini dengan ketegasan yang terdengar manis di telinga Alia.


Para pelayan yang menyaksikan itu juga ikut bersemu dan menatap iri. Hanya satu orang yang tidak terlihat menyukainya. Daniel menatap Kevin tajam seakan hendak merobek pria itu menjadi beberapa bagian. Tetapi ia tidak berkata apapun dan langsung menarik Alia pergi.

__ADS_1


__ADS_2