
"Aku tidak tahu. Tadi dia meminjam ponselku untuk menghubungi orang. Setelah itu langsung pergi," cerita Risa saat Alia menanyakan tentang Carla.
Alia merapatkan bibirnya, merasa khawatir. Ia merasa bersalah karena sudah meninggalkan Carla cukup lama tadi. Ia harus berbicara dan meminta maaf padanya begitu sampai di rumah.
Alia dan Daniel sudah kembali ke meja. Beruntung bagi Alia, Risa mau bergabung dengan mereka. Gadis itu enggan duduk sendiri di mejanya dan memilih duduk di dekat Alia.
"Kak Al tiba-tiba mengurai rambutnya, kenapa?" tanya Risa. Matanya berbinar saat mendapat kesempatan menyentuh rambut legam Alia. "Aku ingin mengecat rambut cokelatku jadi hitam juga. Pasti bagus."
Alia tidak akan menjawab kalau itu atas suruhan Daniel. Ia hanya tersenyum kecil dan mengusap kepala Risa. "Kau harus lebih percaya diri dengan penampilanmu sendiri."
Risa tertawa kecil. Sesekali ia melirik Daniel yang terus diam sejak tadi. Mencari kesempatan untuk melihat Daniel mencuri pandang pada Alia.
"Ah, aku ingin cepat dewasa," keluh Risa setelah memperhatikan keduanya.
"Kenapa begitu? Kebanyakan remaja sekarang lebih ingin menjadi anak-anak lagi karena takut menuju dewasa." Alia nampak sedikit heran.
"Ih, tentu saja lebih seru menjadi dewasa. Aku bisa cepat-cepat mencari pasangan yang serius, jatuh cinta pada satu pria untuk selamanya, menikah, dan memiliki anak. Sedikit drama juga sepertinya bagus. Misalnya tiba-tiba ada dua orang yang menyukaiku, lalu mereka berusaha mendapatkan cintaku. Ah, menyenangkan sekali." Risa berbicara panjang dan cepat.
Alia tertawa kecil. Menurutnya, Risa sudah seperti replika Wilda jika sedang bersemangat. "Bukankah ada juga namanya cinta remaja? Mengapa tidak merasakan itu dulu?"
Risa menghela napas, melirik Bram yang kini mengawal Wilda menyapa tamu. "Ayahku tak memperbolehkan aku punya hubungan seperti itu. Katanya aku masih kecil. Tapi Kak, aku sudah kelas tiga SMA. Apa masih perlu mengekangku begini?"
"Pak Bram pasti sayang padamu kalau melakukan ini," tanggap Alia dengan tawa kecil.
Alia setengah percaya saat tahu kalau Risa adalah anak angkat Bram. Selain kepribadian mereka yang jauh berbeda, Bram tidak terlihat seperti pria yang punya ketertarikan untuk mengurus hal seperti ini. Namun, mendengar cerita Risa, Alia bisa setidaknya tahu kalau Bram benar-benar merawatnya dengan baik.
Risa juga tidak pernah terlihat berkomunikasi dengan Bram setiap pulang kerja dari WR Coffee. Biasanya ia akan pulang sendiri naik taksi, hal yang sedikit membingungkan Alia. Padahal Risa bisa saja ikut dengan Bram setiap mengantar Alia pulang.
"Kak Al, bagaimana? Apa di masa sekolah Kakak dulu menyukai seseorang juga?" tanya Risa antusias.
Alia berusaha mengingat. "Semasa SMA dulu tidak ada sih. SMP sepertinya ada satu. Tapi itu bodoh sekali. Dia orang yang populer, jadi banyak yang menyukainya selain aku."
"He… Kak Al tidak mencoba menyatakan perasaan pada laki-laki itu?"
"Tidak." Alia menggeleng dan tersenyum kecil. "Tidak berguna juga. Lebih baik memfokuskan diri pada sekolah, jadi aku mengabaikan hal seperti itu."
__ADS_1
"Aduh, sayang sekali. Kalau Kak Al mengungkapkan perasaan saat itu, bisa jadi diterima. Kak Al manis begini laki-laki mana yang akan menolak?" Risa terlihat kecewa.
Alia sebaliknya, sama sekali tidak menyesalkan pilihannya saat itu.
"Oh, aku tak tahu kalau kau-ehem, Kakak, pernah menyukai orang sebelumnya." Daniel bersuara setelah lamanya ia terdiam.
Senyum dan ekspresi Alia menjadi kaku.
"Ahaha, bahkan Kak Daniel juga tidak tahu. Kak Al pasti menyembunyikannya. Ngomong-ngomong, apa Kak Daniel juga punya pengalaman seperti ini?" Risa beralih pada Daniel, merasa senang sudah menggiring pembicaraan ini pada mereka berdua.
"Ada," jawab Daniel singkat.
"Apa itu cinta SMA? Atau yang sekarang ini?"
"Yang paling penting, saya masih punya perasaan itu padanya hingga sekarang." Daniel menjawab tenang dengan menatap Risa datar dan lurus.
"Hooo, apa Kak Al tahu tentang ini? Tahu siapa wanita itu?" Risa menoleh pada Alia. Lebih tepatnya berusaha menghindar dari sorot Daniel yang terasa mengintimidasinya.
Alia tergagap. Bagaimana caranya menjawab? Jika yang Daniel maksud adalah dirinya, tidak mungkin Alia bisa secara terang mengatakan itu.
Alia melirik Daniel. Di bawah meja, tangannya tergenggam kuat.
'Ugh, tatapan itu.'
Cara Daniel menatapnya membenarkan dugaan Alia. Wanita yang dimaksud itu adalah dirinya. Alia tidak tahu cara merespon ini.
Sementara Alia kebingungan, Risa yang dari tadi tajam memperhatikan menjadi sangat bersemangat sampai wajahnya memerah. Ia menatap Daniel dan Alia bergantian, merasa hubungan keduanya sangat menarik.
"Ada apa disini? Kalian malah saling diam. Hei, Risa, perbaiki ekspresimu. Kau seperti orang mesum." Wilda menghampiri meja mereka. Di belakangnya, Bram mengikuti.
"Mama jahat sekali," sungut Risa.
Wilda mengetuk kepala Risa. "Siapa yang kau panggil Mama?"
Risa menunjuk Wilda dengan cengiran khasnya. "Ah, kalau kupanggil mama, berarti aku bukan panggil ayah lagi. Papa!"
__ADS_1
"Kau selalu bicara sesuka hatimu, ya." Wilda menarik pipi Risa, merasa gemas. "Eh? Gadis kecil itu kemana?"
Alia bernapas lega dengan kedatangan mereka berdua. Cukup untuk menyelamatkannya dari situasi tadi. "Carla pulang lebih dulu tadi."
"Ah, begitu. Ya, acaranya juga hampir selesai sih." Wilda mengangguk-angguk. "Setelah ini, kau harus sering datang kesini, ya. Kalau tidak, harus mampir ke rumahku."
"Eh? Kak Wilda akan pindah kesini?" Mata Alia membelalak terkejut.
Wilda mengangguk bersemangat. "Ya, betul. Rencananya, cabang-cabang WR Coffee akan ada juga di Kota Pusat, jadi aku yang akan mengaturnya dari sini. Rinda mengatur yang di Kota Barat. Aku akan mengirimkan alamat rumahnya padamu."
Alia mengangguk senang. Sesaat kemudian ia terlihat berpikir. "Aku ingin berbicara dengan Tante Rinda. Sudah lama sekali rasanya tidak bertemu."
Tentu bukan itu saja. Alia ingin bertemu Rinda untuk mengkonfirmasi tentang boks kardus itu. Ia tidak ingin mencurigai Rinda. Lagipula setelah ia pikir-pikir, kemungkinan Rinda menjadi orang yang perlu diwaspadai sangat rendah. Alia ingat kalau boks kardus itu sudah ada sejak orang tuanya masih hidup. Harusnya mereka sudah mengetahui siapa pengirim itu tetapi merahasiakannya pada Alia.
Selain itu, mengingat kekuatan yang Rinda miliki, Alia ingin meminta tolong dan memberitahukan tentang pesan Ibunya pada Rinda. Berharap Rinda berkenan membantunya untuk mencegah hal besar yang akan dihadapi Daniel nantinya.
Daniel sendiri sedang membuat pandangannya terlihat tidak mencolok saat ia memperhatikan Bram. Sejak tadi Daniel memikirkannya. Ia merasa postur pria ini tidak asing baginya. Daniel memiliki ingatan yang sangat baik. Sangat mudah baginya membedakan orang satu dengan yang lainnya. Daniel merasa pernah berjumpa dengan Bram sebelumnya, tetapi tidak bisa mengingat dengan jelas.
Mata biru gelap yang dimiliki Bram juga sama dengan dirinya.
Daniel menggeleng pelan, tidak ingin terlalu memikirkannya. Ia kembali memperhatikan percakapan yang mengalir di meja itu. Risa dan Wilda mendominasi sementara Alia menanggapi beberapa. Ia dan Bram sama-sama diam sepanjang percakapan itu. Merasa kesulitan bergabung dengan pembicaraan perempuan-perempuan disini.
Sekitar satu jam kemudian acara baru benar-benar selesai. Alia dan Daniel menjadi yang terakhir kembali.
"Nanti aku boleh menelpon Kak Al, ya," teriak Risa dari dalam mobilnya dan Bram. Ia melambaikan tangannya kuat-kuat.
Alia yang baru akan masuk ke mobil tertawa pelan dan ikut melambaikan tangan. Setelah mobil Bram menghilang dari pandangannya, baru ia masuk.
Daniel menjalankan mobilnya setelah Alia memasang sabuk pengaman. Seperti yang Alia harapkan, perjalanan pulang ini pasti sunyi. Alia bersandar ke kaca mobil, menatap lalu lintas di sekitarnya. Beberapa saat ia mendadak menoleh pada Daniel, tetapi ia tidak berbicara apapun.
"Kita jalan sebentar," jelas Daniel. Ia mengerti maksud tatapan Alia. Daniel memang tidak mengambil rute pulang.
"Mengapa tidak langsung kembali?" Alia berusaha menolak dengan pertanyaan ini.
"Tempatnya bagus."
__ADS_1
Alia sekali lagi merasa percuma menawar pada Daniel. Ia tidak punya pilihan selain ikut bersamanya.