Sisterzone

Sisterzone
Pertemuan


__ADS_3

Sinar matahari menembus pintu kaca, memberikan sentuhan hangat di kamar itu. Meski membawa semangat hari yang baru, nyatanya sinar matahari adalah musuh terbesar siapapun yang masih ingin melanjutkan tidur.


Tidak terkecuali sosok wanita di atas ranjang yang sedang mengerang pelan saat cahaya matahari menyilaukan matanya yang masih tertutup. Wanita itu membalik tubuhnya, mencoba membelakangi cahaya. Namun, baru beberapa saat, ia langsung terlonjak bangun. Kaget setengah mati. Jantungnya berdebar seakan hendak copot saat itu juga.


"Gila, apa yang terjadi? Alia, apa yang kau lakukan?" gumam wanita itu pada dirinya sendiri.


Alia, yang mencoba berdiri dari ranjang itu, kembali terduduk lagi. Ia memegang kepalanya yang masih sedikit pusing dan meraba dahinya yang sudah terbalut perban. Tidak hanya itu, Alia juga merasakan sakit dan pegal di sekujur tubuhnya, sampai ia memutuskan untuk merebahkan setengah badannya di ranjang lagi.


"Ugh, kepalaku," erangnya. "Ini dimana?"


Alia kembali memejamkan matanya, tapi tetap berusaha menjaga agar dirinya tetap sadar. Ia mencoba mengingat kejadian semalam. Preman-preman menjijikan itu menyebabkan luka di dahinya. Alia tidak bisa ingat jelas bagaimana ia bisa berakhir tidak sadarkan diri.


"Apa aku diculik?"


Alia membuka matanya, bergidik sendiri, tapi kemudian menggeleng lemah. Ia sempat melirik pintu kaca tempat sinar matahari itu menembusnya. "Kalau sungguhan diculik, maka penculiknya terlalu baik. Apa ada penculik yang mau merawat luka korbannya? Lagipula untuk ukuran korban, ruangan ini terlalu bagus untuk jadi tempat sandera. Tidak mungkin penculik akan menempatkan korbannya di ruangan dengan pintu kaca seperti itu."


Alia perlahan mencoba duduk lagi. Kini ia bisa lebih mentolerir rasa pusingnya. Pandangannya tertuju pada pintu kaca yang tidak tanggung-tanggung menumpahkan seluruh cahaya matahari ke dalam.


Berpikir tekun dan lama bukanlah ciri khas Alia. Begitu ia membuat kesimpulan keadaannya, yang akan dilakukan selanjutnya hanyalah memastikan. Ia bahkan tidak memikirkan lebih lanjut bagaimana pakaiannya sudah berganti dari yang semalam ia kenakan.


Alia memaksa tubuhnya untuk berdiri. Setelah dirasa mampu, ia melangkah perlahan mendekati pintu kaca itu. Alia menemukan kunci yang tergantung dan mencoba membukanya. "Peluangku untuk kabur sangat besar kalau ini penculikan. Jadi itu sangat tidak mungkin."


Alia mendorong pintu kaca itu perlahan, lalu melangkah pelan pada balkon marmer di depannya. Yang bisa ia lihat adalah dedaunan pohon dataran tinggi yang berbentuk seperti jarum. Kamar itu seharusnya berada di lantai dua bangunan, atau lantai berapapun selain lantai dasar.


Jantung Alia hampir berhenti berdetak saat melihat seseorang dengan jaket penutup kepala sedang berjongkok di atas railing balkon dan membelakanginya.


"Ah~ syukurlah aku berhasil kabur. Siapa juga yang mau jadi instruktur pemb-WOAH!"


Alia melebarkan matanya dan bergerak mundur beberapa langkah saat orang itu menoleh ke belakang dan berteriak. Bulu kuduk Alia merinding seketika saat orang itu-yang merupakan pria-terkejut sampai terjengkang ke depan dan jatuh ke bawah.


Saat Alia mengira akan mendengar suara berdebam dan erangan dari bawah sana, pria itu malah menyembulkan kepalanya tiba-tiba. Alia sontak mundur saat pria itu menyeringai padanya.


"Wah-wah, nona. Bukankah sedikit keterlaluan, membuat orang terkejut seperti ini?" tanya pria itu. Ia mengangkat tubuhnya dan kembali duduk di atas railing. Melihat Alia yang masih waspada padanya membuat pria itu jadi ingin mengganggu lebih jauh.

__ADS_1


Alia semakin mundur saat pria itu melompat dan mendekat ke arahnya.


"Kukira nona yang satu ini sedikit berbeda. Itu bukan dugaan salah rupanya. Namaku Aslan, kita pernah bertemu sebelumnya." Aslan menghentikan langkah, menunggu respon Alia. Sebenarnya wanita di depannya ini membuat dirinya cukup penasaran. Aslan selalu waspada pada sekitarnya, tapi ia bahkan terlambat menyadari kehadiran Alia sebelumnya.


"Benar-benar mirip dengan saudaranya," gumam Aslan pelan, memastikan Alia tidak mendengar ucapannya.


Alia sebaliknya, sedang mencoba mengingat. Ia hanya sekali mendengar nama itu baru-baru ini. Ia melebarkan matanya saat menyadari orang di depannya ini. "Kau yang di Kafe waktu itu!"


Aslan hanya mengangkat bahunya ringan.


Alia ingat pria di depannya ini memiliki penampilan yang berbeda dengan pertama mereka bertemu. Rambut dan iris matanya berwarna cokelat sementara saat ini, Aslan terlihat mencolok dengan rambut merah dan mata kuning keemasannya.


Aslan baru akan mengucapkan sesuatu saat ia merubah ekspresinya secara tiba-tiba.


"Akh, sial. Mengapa mereka memaksa sekali?" Aslan berbalik dan hendak melompat lagi. Tapi sebelum itu ia menoleh pada Alia dan memberikan kedipan mata. "Jika ada yang bertanya, tolong jangan katakan kalau aku sempat ada disini atau bertemu denganmu, nona. Aku harus pergi."


Alia melebarkan matanya saat Aslan melakukan aksi berbahaya lagi dengan lompat langsung dari balkon. Sifat penasaran Alia menuntunnya untuk menatap ke bawah juga. Terdengar beberapa keributan dan langkah kaki banyak orang. Alia duduk bersimpuh dan melongokkan kepalanya dengan hati-hati, memperhatikan beberapa pria yang sedang kebingungan di bawah sana. Ada juga yang berteriak-teriak.


Kejadian itu sedikit memusingkan Alia. Ia menebak-nebak banyak hal sampai tidak menyadari seseorang sudah duduk di belakangnya.


Alia terlonjak kaget dan berbalik sambil merapatkan tubuh, menjauh dari asal suara. Kewaspadaannya meningkat dengan cepat saat ia bertatapan dengan pria di depannya. Sedetik sebelum ia menyadari iris biru gelap yang terlihat dalam dan wajah seseorang yang paling familiar dalam hidupnya. Kewaspadaannya melorot dengan cepat, berganti dengan keterkejutan yang tiada tara. Dua tangan Alia sampai harus menutup mulutnya yang terbuka.


Pria itu menipiskan bibir indahnya, membuat lekukan senyum yang menawan di bawah bayangan daun-daun jarum. "Hai, Kak."


"Daniel!!!" pekik Alia. Langsung menghambur pelukan pada Daniel yang menerimanya dengan erat.


Perasaan lega menyelimuti Alia. Sudut matanya sampai berair oleh kegembiraan. Daniel tidak berkata apapun lagi. Ia mengeratkan pelukannya, membungkus tubuh kecil Alia dengan seluruh tangannya.


Setelah cukup lama, Alia tiba-tiba mendorong dada bidang Daniel dan memberikan pukulan keras di kepala adiknya itu.


"Aduh, apa-apaan?" keluh Daniel menggosok bagian yang dipukul Alia.


"Bukan apa-apa." Alia menjawab ringan. "Kakak hanya menuntaskan janji pada diri sendiri yang akan memukul kepalamu saat bertemu. Bagus sekali sudah mengabaikan sekian banyak telepon masuk itu ya?"

__ADS_1


Daniel tidak berkomentar, melainkan langsung memberi jentikan kuat tepat di dahi Alia yang tidak tertutup perban.


"Sakit!" geram Alia memegang dahinya. "Kau sedang balas dendam?"


Daniel tidak langsung berkomentar. Ia menyentuh lembut bagian perban di dahi Alia, lalu memberi tatapan tajam kepada wanita itu. "Apa kesepakatan kita tentang keamanan dan keselamatan?"


Alia langsung bungkam, menyesal sudah mempermasalahkan jentikan itu.


"Saat bertemu, aku berharap dalam keadaan yang baik. Tapi bagaimana bisa malah terjadi hal-hal buruk seperti ini lagi? Sepertinya kita punya janji untuk tidak melewati gang itu lagi, apa bertambah tua di umur dua puluhan sudah bisa membuat orang jadi pikun?" omel Daniel dengan wajah dinginnya yang tak asing.


Jika orang lain yang mengatainya seperti ini, Alia pasti tidak akan membiarkan semuanya berlalu begitu saja. Tapi tatapan Daniel tidak berkurang mengerikannya dengan yang ia ingat dulu, bahkan seperti bertambah. Ini membuat Alia jadi tidak bisa membalas apapun.


"Maaf," lirih Alia sambil menggigit bibirnya sambil menunduk. Ia merasa sangat kesal dan malu, tapi tidak bisa menunjukkannya.


"Syukurlah teman-temanku tidak terlalu terlambat. Kalau tidak, mungkin bukan hanya dahi saja yang terluka." Daniel melunakkan bicaranya, ganti mengusap rambut Alia yang berantakan.


"Teman-temanmu? Orang bernama Aslan dan umm... satunya, Ca-Carla?"


Daniel tidak langsung menjawab.


"Kalau begitu, ini rumah temanmu?" tanya Alia lagi.


"Bukan."


"Lalu?"


"Rumah kita," jawab Daniel ringan.


Alia menunggu Daniel tertawa atau melakukan respon lain untuk candaannya barusan. Tapi Daniel terlalu sempurna untuk berpura-pura. Alia tidak bisa menemukan tanda kebohongan.


"Serius?"


"Apa aku terlihat berbohong?" Daniel yang bisa menebak pemikiran Alia mengangkat bahu ringan.

__ADS_1


Alia masih terlambat mencerna segalanya sehingga satu-satunya kata yang keluar dari bibirnya hanyalah...


"Hah?"


__ADS_2