Sisterzone

Sisterzone
Negosiasi


__ADS_3

Alia menekankan kata 'saudara' berharap Daniel akan paham maksudnya. Sayangnya Daniel hanya mengangguk paham dan beranjak dari kursi tanpa merubah ekspresi datarnya.


Daniel kembali tak lama kemudian. Alia menebak pria itu kembali berlari karena cepatnya Daniel kembali. Tebakannya tak salah. Jika ia berganti posisi dengan salah satu diantara kumpulan pria yang ada di dapur, pastinya ia akan ikut heran melihat Daniel yang datang terburu-buru, mengambil sendok lalu pergi lagi.


Alia duduk di lantai saat Daniel kembali.


"Di atas saja. Di bawah dingin, nanti kau sakit."


"Apa kau mengenal kakakmu ini orang yang akan jatuh sakit hanya karena dingin yang tak seberapa?" Alia menatap tajam, tidak lagi menghiraukan Daniel. Ia mulai mengambil suapan pertamanya. "Ini enak. Kemampuan memasakmu masih bagus."


Daniel ikut makan sambil terus memperhatikan Alia. Cukup mengejutkan melihat Alia bisa dengan cepat menurunkan kemarahannya. Daniel pikir mungkin saja Alia akan menghindarinya sekitar satu minggu paling sedikit. Tetapi melihat interaksi mereka sekarang, Daniel merasa pikirannya berlebihan.


Saat Alia marah dulu, ia juga yang duluan mengajaknya bicara. Seperti tadi, Alia yang terlambat pulang waktu itu langsung memasakkan makanan begitu tahu Daniel tidak makan seharian. Alia benar-benar melupakan seluruh amarahnya beberapa hari itu dan kembali bersikap seperti biasa.


"Harusnya caramu menatap Kakak saat ini, kau gunakan untuk menatap wanita lain di luar sana." Alia berbicara tanpa melihat Daniel.


Alia tidak ingin terus menjadi orang yang bodoh akan hal ini. Tatapan lembut Daniel memang bukan ditujukan oleh seorang adik kepada Kakaknya. Hal yang Alia lewatkan selama ini.


"Andai aku bisa." Daniel menjawab tenang.


Alia meletakkan sendoknya di nampan. Ia mendorong sedikit mangkuknya ke arah Daniel. "Sejak kapan?"


Daniel menatap Alia, sejenak paham maksudnya. Ia tidak menjawab segera, melainkan menghabiskan sup sayurnya.


"Aku tak tahu pastinya," jawab Daniel.


Alia meminum setengah gelas air putih, lalu kembali menyodorkannya ke Daniel. Pria itu mengambilnya dan memutar gelasnya. Ia minum tepat di bagian bibir gelas yang Alia pakai.


"Hei, itu bekas mulut Kak-"


"Apa itu sebuah masalah besar bagi saudara?" Daniel tersenyum tipis.


"Ukh…." Alia menahan umpatan dalam hatinya. Bagaimana bisa ia melupakan kelihaian Daniel dalam menggunakan kata-kata?


"Sejak kecil?" Daniel kembali bicara, menanyakan itu pada dirinya sendiri. "Satu-satunya wanita yang ada di benakku sejak dulu cuma yang ada di hadapanku sekarang."


"Selama itu?" Alia melebarkan matanya. Ia sangat terkejut sampai memeluk lututnya. Tidak sadar kalau ekspresinya adalah hiburan terbaik Daniel.


"Kagum, awalnya begitu. Malaikat, itu sebutanmu bagiku. Kukira ini hal yang biasa saja dan akan pudar suatu saat nanti. Tapi aku salah." Daniel menerawang, kembali mengingat perasaannya. "Semuanya menjadi jelas karena yang kupikirkan selama lima tahun di luar negeri itu hanya dirimu dan bagaimana caraku kembali membawa hal-hal yang lebih baik agar semuanya menjadi lebih mudah untukmu."


Alia menelan ludah. Ini lebih serius dari yang ia duga. "Tapi kau bilang pernah memikirkan wanita lain, kan? Waktu itu!"


"Perempuan sederhana dengan wajah manis dan hati lapang?" tanya Daniel, masih mengingat pertanyaan Alia di awal ia baru datang kesini. "Ya, aku pernah bilang. Sayangnya, itu orang yang sama dengan yang kubicarakan saat ini."


Alia memijit kepalanya sambil menghela napas. "Kalau kau bilang begitu, apa kau pernah sungguhan menganggap aku sebagai kakakmu?"


Daniel menggeleng tanpa ragu. "Maaf. Tapi mungkin tidak."

__ADS_1


"Bagaimana dengan Ibu dan Ayah?" tanya Alia lagi.


Kali ini Daniel tidak menjawab. Tapi itu jelas kenegatifan yang sama.


Keheningan tercipta diantara mereka. Alia tak pernah menyangka jarak antara dirinya dan Daniel bisa sejauh ini, padahal dia ada di depannya. Apa selama ini Daniel merasakan kesamaan dengan perasaan Alia saat ini? Berjarak dan jauh.


"Apa Ibu dan Ayah pernah memperlakukanmu dengan buruk?" lirih Alia. Ia merasa seakan punya segudang energi tadi, tapi ketika membicarakan tentang ini rasanya tubuhnya menjadi lemas.


Daniel menggeleng pelan. "Tidak. Tidak pernah sekalipun. Ibu dan Ayah sangat baik. Aku tahu mereka terlihat lebih peduli padaku daripada kau. Namun, rasa sayang yang mereka tunjukkan berbeda."


Daniel melirik Alia yang seperti menyimpan segudang emosi.


"Mereka menyayangiku bagai permata. Sementara mereka menyayangimu seperti anak mereka sendiri," lanjut Daniel.


Alia menggigit bibirnya. Berkali-kali menghela napas. Wajahnya menunjukkan kecewa. Tapi akan terlihat juga kemarahan dan kesedihan disana. Alia bingung sekali. "Apapun yang kau pikirkan, tak juga bisa menghapus fakta kalau kita bersaudara. Kau paham ini, kan?"


Daniel menatap Alia lebih intens. "Bagaimana jika seandainya kita bukan saudar-"


"Jangan bicara omong kosong!" sergah Alia cepat. "Kau hanya sedang kesepian! Itu membuatmu melakukan hal gila seperti menyukai Kakakmu sendiri."


"Aku tak pernah bilang menyukaimu." Daniel menggeleng sambil meraih nampan berisi mangkuk dan gelas kosong. Sorot biru gelapnya menatap Alia dengan tajam.


"Aku mencintaimu."


Alia menutup matanya lelah. Rasanya ia ingin menangis, tapi akan sangat buruk melakukannya di depan Daniel. "Bagaimana bisa kau mengatakan itu dengan sangat serius?"


"Kau tahu tidak ada jalan untuk hubungan gila ini." Alia memberikan satu kalimat pukulan yang benar-benar keras. "Berhenti bersikap seperti ini."


Percakapan ini berjalan brutal. Alia terlalu emosional. Sementara Daniel begitu keras kepala. Tak akan ada kesepakatan terbaik seperti yang Alia inginkan. Ini bisa jadi lebih buruk dari sebelumnya.


"Kau harus berusaha melupakan perasaanmu, Daniel." Alia bersandar di pinggir ranjangnya. Ia benar-benar lelah. "Akan lebih baik kalau kau tidak mengungkapkannya dan hubungan kita bisa tetap harmonis seperti sebelum-sebelumnya."


"Benar, aku bersikap tidak bijak dengan pernyataan itu. Tapi, apa menurutmu aku akan melakukan itu jika bukan karena adanya faktor pendorong?"


"Kau terdorong karena apa?" Alia masih bersandar dan menutup matanya dengan sebelah tangan.


"Aku tak suka melihatmu bersama pria lain. Andai kau tidak sedang dekat dengan anak pejabat itu, mungkin kita tak akan pernah bertengkar seperti ini," jawab Daniel perlahan.


Ia sudah mencari latar belakang Kevin sejak beberapa hari lalu. Lebih tepat untuk dikatakan kalau Daniel jauh lebih mengenal Kevin daripada Alia sendiri.


Alia melirik tajam. "Hah. Apa kau menyuruh Kakak menjadi perawan tua. Tidak dekat dan tak akan menikah dengan siapapun. Begitu?"


"Satu-satunya pilihan adalah menikah denganku, kan?"


Emosi Alia sudah di ubun-ubun. Ia meraih buku di atas ranjangnya dan melemparnya ke Daniel. Sangat geram dengan jawaban itu. Alia tak perlu khawatir Daniel akan terluka karena dengan sigap, dia mengamankan buku yang melayang ke arahnya.


"Kau harus berhenti membuat lelucon seperti itu," cela Alia.

__ADS_1


Daniel menghela napas. Sama dengan Alia, ia juga merasa pikirannya sedikit terganggu. Sempat-sempatnya ia menganggap Alia lebih manis saat dalam keadaan emosional seperti ini. Daniel bahkan dengan sengaja mengganggunya.


"Berusahalah untuk melupakan perasaan itu, Daniel," pinta Alia, hampir memelas.


Daniel mengangguk singkat. "Baiklah, aku akan berusaha."


Jawaban itu membuat mata Alia kembali terang. "Benarkah? Kakak akan membantumu kalau kau ingin berusaha."


Daniel tidak langsung merespon. Ia berdiri seraya mengangkat nampannya. "Itu akan sangat bagus. Benar, lakukan seperti itu."


Alia ikut berusaha berdiri, meski lututnya masih goyah. Ia berpegangan pada ranjang berusaha naik dengan cepat. Alia kembali mendapatkan separuh tenaganya atas respon Daniel. Tak pernah ia sangka kerusuhan negosiasi mereka bisa mencapai titik memuaskan seperti ini.


"Kakak janji akan membantumu," ujar Alia dengan senyum lega.


Daniel ikut tersenyum sembari memiringkan kepalanya. "Apa aku bisa percaya janji itu?"


Alia mengangguk penuh yakin. "Tentu saja bisa."


Daniel menahan tawanya sampai wajahnya memerah. Ia melangkahkan kakinya menuju pintu kamar Alia. Saat akan membuka pintu, Daniel menoleh ke Alia dengan senyum penuh makna.


"Kalau begitu, cobalah membalas perasaanku dengan cara yang sama. Usahaku adalah untuk mempertahankan perasaanku. Dan kau sudah berjanji untuk membantu," tawa kecil Daniel terdengar.


Alia mematung. Ia menatap Daniel seperti menatap seorang penipu. "K-kau!"


"Aku mencintaimu, Alia." Daniel kembali serius, tetapi sorotnya pada Alia melembut. "Aku tidak suka menyerah pada apa yang sudah kuputuskan."


Itu adalah pernyataan cinta Daniel yang kedua. Alia hanya diam, masih terlalu mengejutkan baginya untuk bisa merespon pernyataan itu.


"Aku akan menyimpan kunci kamarmu." Daniel menggoyangkan kunci ditangannya. "Oh, satu hal lagi. Ada orang-orang stres yang merindukan masakanmu. Mereka banyak mengeluh, kuharap kau mau turun dan bicara langsung pada mereka. Tapi tidak perlu menurut pada permintaan setan-setan itu."


Alia masih belum bisa mencerna situasi saat Daniel baru akan menutup pintu kamarnya.


"Ah, dan satu hal yang paling terakhir."


"Ada lagi?" Alia melirih sempurna, setengah sadar setengah lamunan.


Daniel mengukir senyum perlahan. Ia menyentuh bibirnya, lalu menunjuk Alia. Suaranya menjadi lebih serak.


"Aku ingin merasakannya lagi. Bibirmu."


Alia menatap datar. Bahkan hingga Daniel menutup pintunya sempurna.


"Dia berharap aku akan merespon bagaimana?" ujar Alia, berusaha terlihat normal. Tetapi sangat sulit karena wajahnya lanjut memerah tanpa dikomando.


Alia merebahkan tubuhnya dan menutupi wajahnya yang memanas.


"Ibu, bagaimana ini? Aku bisa gila," rengek Alia seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2