Sisterzone

Sisterzone
Pagi setelah kejadian


__ADS_3

"Teganya! Apa yang sudah kau lakukan pada Dewi Alia? Dia sampai tidak mau turun dan bergabung dengan kita," rengek Edward.


Daniel tidak menjawab. Ia hanya melirik peralatan masak yang masih bersih dan kering di pagi ini. "Kita sedang buru-buru, seharusnya sekarang sudah berangkat."


"Ah padahal aku mau sarapan sedikit saja sebelum berangkat," keluh Edward lagi.


"Pikiranmu selalu dipenuhi makanan. Cobalah berpikir lebih dewasa sesuai dengan usiamu yang hampir kepala tiga itu." Riki menyela sambil membersihkan kacamatanya.


"Kau ini benar-benar. Dewi Alia bukan tukang masakmu, Ed," tambah Aslan sambil menggelengkan kepalanya.


"Lihat siapa yang berbicara. Kau yang duluan mengajakku ke dapur tadi ya, sialan." Edward tidak terima dipojokkan sendirian.


Keributan kembali terjadi di dapur, rutinitas pagi hari yang akan terasa aneh jika terlewatkan sehari. Hanya Daniel yang terlihat tidak peduli pada percakapan tak penting itu. Sementara Carla yang kebetulan bisa bangun sendiri pagi ini, hanya memperhatikan dan sesekali nimbrung dengan kata-katanya yang beracun dan menusuk.


"Tahap tiga," gumam Daniel, memastikan hanya dirinya sendiri yang bisa mendengar ucapannya itu. Sejak tadi, ia terus memperhatikan pintu dapur, berharap seseorang akan muncul disana dengan senyuman hangatnya yang menenangkan.


Namun, pikirkan logis Daniel membantah hal itu. Dengan apa yang sudah ia lakukan tadi malam, Alia tentu benar-benar marah padanya. Kemarahannya jelas tidak hanya sekadar mengabaikan dan menjadi lebih pendiam. Untuk tahap ketiga, Alia akan mengisolasi diri dari orang-orang sekitarnya, terutama orang yang membuatnya marah. Daniel adalah orang itu kali ini.


Daniel sudah cukup kesulitan menutup mata semalam. Selain memikirkan cara untuk berdamai dengan Alia, ia juga masih terbayang perbuatannya itu.


Ia ingin merasakannya sekali lagi.


Daniel melepaskan embusan napas panjang. Cukup sulit membayangkan tidak bisa melihat Alia seharian, apalagi jika ini terjadi sampai berhari-hari. Kurang dari sepuluh jam dan sekarang Daniel sudah merindukan Alia. Meski sudah tahu Alia tidak akan turun ke dapur, Daniel tetap berharap bisa memandang sebentar wajah manis Alia sebelum ia berangkat kerja. Sebab ini, ia setuju-setuju saja saat diajak mampir ke dapur.


Tetapi seperti yang ia perkirakan di awal, Alia tidak berkenan untuk turun atau sebenarnya hanya tidak ingin bertemu dengannya.


Carla menyadari kegelisahan Daniel, meski itu hanya asumsinya. Daniel terlalu dingin. Cukup sulit memahaminya yang lebih sering memasang ekspresi datar. Carla tertawa pelan. Melihat Alia tidak ada disini dan kegelisahan Daniel jelas membuat Carla berpikir kalau ada masalah diantara keduanya.


Dilihat dari jangka waktu, mereka bertemu terakhir di ruang kerja Daniel. Itupun setelah Carla memaksa Alia pergi kesana. Kalau wanita seperti Alia marah seperti ini, pasti masalah yang dibahas begitu besar. Carla bisa menebak apa yang sudah terjadi.


"Ayo," ucap Daniel. "Kita pesan makanan dari kantor kalau kalian lapar."


Riki berjalan keluar duluan, disusul Aslan dan Edward yang sama-sama melangkah gontai. Begitu mereka keluar, Daniel meminta Carla mendekat.

__ADS_1


"Bisa kau bawakan sesuatu untuk Alia? Dia mungkin tak akan keluar seharian dari kamarnya," pinta Daniel.


Carla langsung membentuk wajah malas. "Haaa, aku tak tahu."


"Sembarang kau saja. Roti pun bisa. Kalau tak mau, lebih baik kau cepat bersiap dan ikut ke kantor."


"Lebih mudah membawakan makanan daripada repot menyiapkan diri." Carla menggeleng, lebih enggan lagi dengan pilihan kedua. "Kak Daniel dan pria itu sama saja. Terlalu terburu-buru."


Sorot mata Daniel menjadi tajam. Tak ada yang suka disamakan dengan rivalnya sendiri. Tentu Daniel paham siapa yang Carla maksud. Di satu sisi ia tak heran bagaimana Carla bisa dengan cepat menyadari hal yang terjadi.


Carla langsung pergi, sengaja menghindar atau tepatnya menyelamatkan diri setelah mengucapkan kalimat berisiko itu. Ia pura-pura menyiapkan makanan, menunggu Daniel keluar dari dapur.


...****************...


Alia memegang kepalanya. Pandangannya terasa berputar-putar. Ini baru pukul empat dini hari. Artinya ia baru tidur selama dua jam. Alia baru kali ini mengutuk alarm tubuhnya yang selalu membuatnya bangun di jam segini. Tak peduli jika dia cukup atau kurang tidur. Alia kembali membaringkan tubuhnya, memijit kepalanya pelan.


Ia tak bisa tidur semalam.


Siapa yang bisa langsung tidur setelah terjadi hal mengejutkan seperti yang dialaminya itu? Adiknya baru mengakui perasaan suka padanya, membuat Alia terjaga sepanjang malam. Pikirannya penuh dengan banyak hal.


Darimana semua asal kesalahan ini?


Apa yang membuat Daniel memiliki perasaan itu padanya?


Sejak kapan?


Dan, bagaimana bisa?"


Pertanyaan-pertanyaan itu membayangi Alia hingga mengganggu tidurnya, padahal Alia cukup lelah seharian kemarin. Satu hal yang paling mengganggunya tentu ciuman itu. Rasa malu dan marah menyatu, membuat Alia enggan keluar kamar. Takut berpapasan dengan Daniel. Suasananya pasti canggung sekali.


Alia menghela napas. Bahkan disaat baru bangun seperti ini, yang ia pikirkan adalah ciuman itu. Alia merasa wajahnya memanas, memerah malu. Tentu saja ia merasa bersalah sudah memikirkan ini. Alia terus berusaha menghapus ingatan itu dari kepalanya.


Namun, tentu saja itu tidak semudah yang dibayangkan. Ini pertama kali baginya. Siapa yang menyangka ciuman pertamanya akan direbut oleh adiknya sendiri? Alia sudah dewasa dan pengalamannya tentang ini hanya didapat dari buku-buku novel secara tak sengaja.

__ADS_1


"Harusnya ini juga pertama kali untuknya, kan? Tapi bagaimana dia bisa mahir begitu?" Alia merasa frustasi setiap mengingat ini.


Daniel melakukannya dengan sangat lembut. Perlahan tetapi dalam. Seakan paham kalau Alia masih sangat awam untuk ini.


"Tidak! Apa yang kupikirkan?! Sadarlah Alia, kau mulai gila!"


Alia merasa pusingnya semakin bertambah. Ia lalu kembali tertidur dan bangun lagi dua jam kemudian dengan tubuh lemas. Hanya saja, kepalanya sudah tidak sesakit tadi.


Jantung Alia langsung berdebar keras saat mendengar suara mobil dari bawah. Ia mencoba turun dari ranjang, memaksa tubuh lemasnya. Alia hanya menyibak gorden dan tirai tipisnya, tidak ingin berisiko dengan membuka pintu kacanya dan keluar. Ia bersandar di dinding, mendengarkan pertengkaran kecil di bawah. Suara Ed dan Aslan mendominasi. Riki terkadang ikut menambahkan. Alia menjadi tegang saat mendengar suara dingin menghentikan pertengkaran itu.


Alia tidak bisa menahan otaknya untuk memutar ulang reka kejadian semalam hanya dengan mendengar suara Daniel.


Tak lama, hanya ada suara pintu mobil tertutup dan kendaraan itu lalu berjalan menjauh, menuju gerbang. Alia tertatih membuka pintu kaca, ia menuju pinggir balkon dan memastikan mobil itu benar-benar menjauh.


Alia bernapas lega, lalu memutar badan. Napas Alia tertahan saat yang pertama dilihatnya adalah Carla yang sedang berkacak pinggang, berdiri di pintu. "Tukang intip."


Mata Alia tertutup. Merasa malu adalah konsekuensi, tapi rasa kesal Alia lebih kesal. Ia berusaha menahan umpatannya. Setelah merasa tenang, Alia kembali membuka matanya dan berjalan mendekat.


"Lain kali kalau masuk kamar orang, ketuk pintu dulu."


Carla mengangkat bahu tak peduli. Ia putar arah dan langsung masuk. Tubuh kecilnya langsung terhempas ke ranjang Alia. "Tuh, aku buatkan sarapan."


Alia menatap meja disebelahnya, mengernyit heran. "Ini?"


"Sedikit gosong, tapi itu masih bagus," bela Carla. Dirinya yang paling tahu bagaimana kondisi roti itu yang sebenarnya.


Alia menggaruk kepalanya. Roti yang dilihatnya jelas bukan sedikit gosong lagi, tapi benar-benar menghitam sempurna. Selai stroberi di tengah hanya menambah keanehan saja.


Carla memegang perutnya yang juga berbunyi. "Gara-gara membuat itu, aku jadi tidak sarapan. Sekarang aku tak minat lagi setelah melihatnya. Aku tak tahu cara pakai pemanggang roti. Itu manual di atas kompor. Beruntung aku tidak meledakkannya."


Alia memegang kepalanya, tersenyum lelah. "Sepertinya akan lebih baik jika kita membuatnya bersama."


Carla tidak menolak. Memang ini tujuan aslinya. Ia membiarkan Alia merapikan tempat tidurnya dan tidak melawan saat Alia menariknya keluar.

__ADS_1


__ADS_2