Sisterzone

Sisterzone
Pantai


__ADS_3

Sekitar tiga puluh menit Daniel menyetir, Alia masih tidak mengetahui tujuan perjalanan mereka.


"Al, lihat sebelah kanan," arah Daniel.


Alia yang sejak tadi terus menghadap jendela samping kini menatap Daniel penasaran. Namun, pemandangan melalui jendela sebelah Daniel lebih menarik perhatiannya. Alia menegakkan tubuhnya, menatap terkagum-kagum.


Daniel menurunkan kaca jendelanya, membiarkan angin masuk dan menghamburkan rambutnya. "Aroma asinnya sudah tercium dari sini."


"Laut," gumam Alia. Ia tidak bisa menyembunyikan binar antusiasnya.


Meskipun dinamakan Kota Pusat, tetapi letaknya bukanlah di tengah-tengah. Kota Pusat ada di bagian timur yang berbatasan langsung dengan laut.


Di kepala Alia saat ini hanya ada bayangan laut, meski sekarang pun ia sedang menatapnya. "Ramai."


"Hari libur." Daniel menatap sekitar. Mobil keluarga dan anak-anak muda ada di sepanjang mata memandang. "Lebih ramai lagi jika libur nasional."


Tidak sulit menemukan tempat parkir di sekitar. Daniel menggenggam erat tangan Alia begitu mereka memasuki kawasan pantai.


"Kita tidak bisa berenang saat ini. Bermain air saja apa cukup?"


"Eh? Boleh main air?" Mata Alia melebar.


Tanpa sadar diri Alia membalas genggaman Daniel sama eratnya. Daniel menatap tangan mereka, lalu mengangguk pelan. Ia tidak menyangka Alia akan seantusias ini.


Tidak berlebihan jika mengatakan kalau Alia belum pernah ke pantai sebelumnya. Bahkan, melihat laut secara langsung saja ia tak punya kesempatan. Alia tumbuh dan besar di Kota Barat yang sepi. Sepanjang hidupnya ia tak pernah membayangkan kesempatan seperti ini.


Daniel menarik Alia lembut, membawanya menjauh dari kerumunan.


"Sekarang sedang mendung. Tetapi biasanya akan panas lagi." Daniel menatap arak-arakan awan di langit.


Ia membawa Alia menuju pedagang yang berjualan topi. Membeli satu untuknya dan membiarkan Alia memilih topi yang diinginkannya.


"Mau langsung ke air?" tanya Daniel setelah Alia memasang topinya.


Alia mengangguk kuat, sejak tadi ia menahan diri agar tidak langsung berlari ke bibir pantai.


Daniel membawa Alia mendekati air. "Lepas alas kakimu."


Alia menurut, ia menenteng flat shoes-nya dan berjalan di atas pasir. Genggaman tangan Daniel terlepas sehingga Alia lebih mendekat ke air.


Sentuhan air di kakinya membuat senyum Alia terkembang. Tawa kecilnya terdengar begitu manis. Daniel yang hanya beberapa langkah di belakangnya ikut tersenyum kecil.


Hanya dari hal-hal sederhana ini Alia bisa tersenyum begitu lebar. Daniel memerhatikan pipi Alia yang merona samar karena kegembiraan. Alia tidak berjalan lebih jauh, hanya membiarkan air menyentuh pergelangan kakinya saja.


Alia menatap ke cakrawala, mengawasi biru yang saling beradu antara langit dan laut. Angin berhembus lebih kencang disini, membuat rambut panjangnya tertiup. Alia memegang topi lebarnya, mencegah agar tidak tertiup angin.


Meskipun ramai di luar, belum begitu banyak yang mendekati pantai seperti mereka. Alia melangkah sepanjang bibir pantai, membiarkan kakinya tergempur ombak kecil.

__ADS_1


"Kemarikan itu," pinta Daniel.


Alia menoleh, menatap tangan Daniel yang terulur padanya. "Apa?"


"Sepatu."


Alia menatap sepatunya, lalu menggeleng. "Tidak perlu. Aku bisa bawa sendiri."


"Lihat, cangkang kerang itu bergerak," tunjuk Daniel tiba-tiba. "Sana pergi lihat, sepatunya kemarikan."


Alia sontak melakukan perintah Daniel, menyerahkan sepatunya. Ia berjalan cepat ke arah yang ditunjuk Daniel.


"Seperti anak kecil." Daniel menggeleng dan membawa sepatu mereka dengan satu tangan. Ia tidak bisa mengelak kalau Alia sangat manis sekarang ini.


"Woah, apa ini kelomang?" Alia mengangkat hewan bercangkang di tangannya. "Dia bersembunyi."


Alia berniat menunjukkannya ke Daniel. Ia membalik badannya tepat saat pria itu berseru padanya.


"Awas!"


Tubuh Alia terdorong saat suara anak-anak ikut terdengar. Alia limbung ke depan setelah serombong anak kecil yang berlarian menabraknya. Ia bisa saja mendapatkan kembali keseimbangannya jika ini bukan pasir. Alia tersandung saat mencoba berdiri tegak, membuatnya kembali jatuh.


Sesaat sebelum Alia menyentuh pasir, dua tangan besar sudah menahan bahu dan menarik pinggangnya.


"Daniel."


"Hati-hati," tanggap Daniel. Ia membantu Alia kembali tegak.


"Apa?"


"Sepatunya hanyut!"


Daniel menoleh dan melihat sepatu mereka yang terombang-ambing ombak di bibir pantai. "Ah, sial."


Daniel terlalu panik saat melihat Alia hampir jatuh. Ia sampai tidak sadar saat tangannya melempar sepatu mereka. Alih-alih ke daratan, Daniel malah melemparnya ke air.


"Kenapa harus kuambil juga, sih?" gerutu Daniel. Celananya basah hingga ke lutut. "Padahal bisa beli saja lagi."


Alia tidak bisa menahan tawanya saat melihat Daniel naik dari air dengan wajah muram. Ia tertawa sampai terduduk di pasir.


"Puas ya?" Daniel setengah melempar sepatu mereka, sedikit kesal.


"Ahahaha, lagi pula kau ini aneh sekali. Padahal kalau membiarkanku jatuh juga tak apa-apa. Ini bukan batu atau aspal." Alia menepuk pasir di sebelahnya, masih dengan tawa.


Daniel tidak menanggapi. Ia juga bingung dengan responnya tadi sampai tidak bisa berpikir dengan baik. Begitu pula saat Alia meneriaki sepatu tadi. Ia baru sadar kalau melakukan hal sia-sia lainnya setelah mendapat semua sepatunya dan membasahi celananya.


Alia kembali berdiri setelah puas tertawa. Ia mendekati Daniel dan berjinjit. Topi Daniel yang sempat dijatuhkannya tadi Alia pasang kembali. "Jarang-jarang bisa melihat tingkah konyol seorang Daniel."

__ADS_1


Daniel menangkap tangan kanan Alia sebelum menjauh. Ia menunduk, menatap gelang yang terpasang di tangan Alia. Sejak awal ia terus memperhatikan ini. "Kau masih memakainya."


Gelang berlian imitasi yang Daniel belikan di hari perayaan itu menghiasi tangan Alia. Untuk ini, Alia lupa sama sekali. Ia memakainya karena menyangka Daniel tidak akan ikut hari ini. Kalau tahu jadinya seperti ini, Alia bahkan tidak akan terpikir untuk memakainya. Ia tahu situasi ini mungkin terjadi. Saat dimana mereka sama-sama mengingat hari itu.


"Aku senang kau tidak membuangnya. Kukira karena marah kemarin, kau tidak akan pernah memakainya lagi," lanjut Daniel dengan senyum lembut. Ia merogoh kantung celananya, mengeluarkan gelang lain dari sana.


Daniel memasangkan gelang itu di tangan kanan Alia. Gelang dengan kerang sebagai pengganti manik-manik. Kerang-kerang putih kecil yang disatukan oleh tali berwarna cokelat muda itu beradu dengan berlian imitasi Alia di tangan kanannya.


Gelang yang Daniel pilih dengan baik di penjual cinderamata saat Alia sibuk memilih topi tadi.


"Hal-hal kecil yang sederhana. Setiap kita melihat gelang-gelang ini, momen sekarang juga akan selalu terkenang." Daniel melepaskan topi lebar Alia, menatap dengan jelas ekspresi wanita itu.


Daniel melepas genggamannya dan beralih dengan menyelipkan rambut Alia yang berterbangan ke belakang telinganya. Daniel maju selangkah dan merendahkan tubuhnya.


"Aku mencintaimu, Al. Sangat-sangat cinta," bisik Daniel.


Topi lebar Alia diangkatnya, menutupi wajah mereka yang semakin dekat.


Alia sejak awal tidak siap. Saat pernyataan yang ketiga itu diucapkan Daniel, Alia seakan terbius oleh iris biru gelap yang menatapnya lembut. Ia tak akan menyangka Daniel melakukan itu sekali lagi. Meskipun tidak bisa dikatakan ciuman, tetapi tetap saja membuat jantung keduanya berlomba cepat.


Daniel memberi kecupan ringan di bibir Alia yang sedikit terbuka. Singkat saja, tetapi tetap membawa sensasi yang menyenangkan. Rasa saat bibir mereka saling menyentuh melegakan keinginan Daniel sejak terakhir ia melakukan hal ini.


Topi lebar yang Daniel pakai untuk menutupi aksinya diletakkan kembali di kepala Alia. Ia menepuk kepala Alia pelan. Tanpa izin, Daniel mengambil tangan Alia dan menggenggamnya erat. Daniel membawa Alia berjalan di sepanjang pantai, menikmati waktunya yang tidak diprotes Alia.


Alia sendiri tidak melawan tarikan Daniel. Ia menunduk, menatap pasir basah di bawahnya. Wajahnya memerah dan tidak ada tanda akan memudar. Alia terus mengulang kembali ingatan tadi di kepalanya. Seperti biasa, ia kembali terlambat menyadari. Alia tidak bisa mencegahnya.


Alia melirik tangan mereka yang saling bertautan. Juga gelang baru yang diberikan Daniel. Pria itu melakukan ini semua dengan lembut dan manis. Bahkan kecupan itu tak bisa Alia benci. Ia juga tak bisa menolak hal kecil yang Daniel berikan padanya.


Perlahan, Alia mendongak sedikit, mencuri pandang pada Daniel yang fokus ke depan.


Deg!


Jantung Alia kembali berdebar. Rasanya sangat asing. Ia selalu memuji paras mempesona Daniel. Meski begitu Alia tetap bersikap biasa. Namun, apa ini? Jantungnya kini berdebar kencang hanya dengan menatap bagian samping Daniel. Rahang tegas dan mata tajamnya yang tersiram matahari, rambut berantakan dan bibir tipisnya yang sudah dua kali merasakan miliknya. Semua terlihat sempurna.


Alia menelan ludah, kembali menunduk. Apa yang ia pikirkan?


Apa ia baru saja mengagumi Daniel?


'Gawat,' pikir Alia. Tangannya meremas kerah pakaian. Kecemasannya muncul tanpa kira.


Akan sangat gawat kalau Alia sampai menyukai Daniel. Alia takut maksud dari debaran ini adalah tumbuhnya benih-benih rasa terlarang itu.


Bagaimana juga, Alia adalah wanita yang tidak pernah merasakan semua ini. Jelas butuh waktu untuknya terbiasa. Tetapi jika ia sampai terbiasa dengan sentuhan Daniel, itu akan menjadi hal yang paling tidak diinginkannya.


Alia kembali mengingat tingkahnya yang tanpa sadar dilakukannya tadi. Sejenak karena terlalu senang, ia lupa menjaga jarak dari Daniel. Alia lupa dengan segala konflik yang terjadi diantara mereka. Bahkan dengan perasaan Daniel padanya. Ia lupa semua. Bisa dibilang memang Alia yang membuka kesempatan Daniel mencuri kecupan itu.


'Tidak, ini harus dihentikan. Daniel sangat lembut dan pandai melakukan ini. Kalau kubiarkan terus bisa-bisa aku benar-benar jatuh hati padanya. Tidak boleh.' Alia menggelengkan kepalanya kuat, mengenyahkan pikiran itu.

__ADS_1


Sepertinya menggunakan cara yang ia pikirkan sebelumnya adalah satu-satunya jalan. Alia bertekad untuk menuntaskan ini semua dan memblokade jalur Daniel padanya.


Ia tak akan pernah sadar hingga saat rencananya membawa masalah yang lebih tak terelakkan lagi di hari-hari selanjutnya.


__ADS_2