
Rafka menutup laporan yang diberikan Felix kepadanya. Ia mendongak saat Felix kembali memasuki ruangan kerja pribadinya itu untuk melaporkan sesuatu yang cukup mengejutkan.
"Tim baru yang saya bentuk menemukan beberapa petunjuk baru, Tuan Rafka," lapor Felix. Wajahnya menunjukkan kepuasan tersendiri.
Rafka tidak merespon. Ia menatap tajam pada Felix di hadapannya. Sudah bertahun-tahun ia menerima laporan yang sama. Petunjuk-petunjuk baru dan temuan lain selalu dilaporkan. Sayangnya, tidak ada petunjuk yang bisa dengan pasti menggiringnya pada orang yang dicarinya itu. Rafka sebenarnya sedikit terkejut mengingat kecepatan tim baru ini dalam menemukan petunjuk, yang oleh tim sebelumnya bisa membutuhkan waktu hingga setahun lebih hanya untuk jejak petunjuk yang tipis sekali.
"Lanjutkan." Rafka menanggapi datar. Mengingat ancamannya pada Felix beberapa bulan lalu, ia takkan heran jika pria di hadapannya itu menjadi panik dan menganggap hal yang sebenarnya tak berhubungan menjadi sebuah petunjuk baru.
"Tim yang saya maksud masih bekerja keras untuk melanjutkan investigasi mereka. Saya disini membawakan beberapa foto yang mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan Tuan Rafka untuk hal selanjutnya," ucap Felix.
Sesungguhnya, Felix sadar kalau Rafka enggan percaya pada informasi yang akan ia berikan. Walau sedikit panik, Felix juga tidak bodoh untuk melaporkan hal-hal yang tidak penting hanya karena perasaan takut itu. Ia masih berharap bisa hidup lebih lama.
Rafka menggeser satu buku di mejanya dengan sangat hati-hati. Sampul buku itu sangat terawat. Felix hanya menatap sekilas dan tidak berkomentar lebih jauh tentang bagaimana bisa jenis buku yang seharusnya masuk ke dalam cerita dongeng anak-anak itu berada di meja Rafka.
"Ini fotonya, Tuanku."
Rafka menerima beberapa lembar foto yang diberikan Felix padanya. Ia menatap lama pada foto-foto itu. Tidak ada banyak perubahan dari ekspresi wajahnya. Tapi siapapun tahu kalau mata hazel Rafka jadi semakin menggelap.
"Mereka menemukan seorang remaja yang mirip dengan pria itu saat sedang menyisir bandara," jelas Felix.
"Identitasnya?" tanya Rafka dingin.
__ADS_1
"Sedang kami usahakan, Tuan. Kami mengalami banyak hambatan dalam mencari identitas remaja ini. Sebab itu, kami juga berusaha mencari tahu tentang wanita di sampingnya, tetapi tiba-tiba saja, sekelompok orang dengan sengaja menghalangi kami," jawab Felix hati-hati.
"Sekelompok orang?" Rafka melirik tajam.
Felix menelan ludah. "Benar, Tuanku. Orang-orang itu mencari keributan dengan sengaja. Akan tetapi, mereka tidak terlihat memiliki kelompok lain di belakangnya. Kami sudah memastikan tentang hal itu."
Rafka mengangguk, membuat Felix bisa bernapas lega. Akan tetapi, yang dilakukan Rafka selanjutnya membuat keringat dingin membasahi punggungnya.
Mata hazel Rafka yang menggelap dipenuhi kebencian yang kental. Foto-foto di tangannya menjadi potongan kecil saat ia mulai merobek-robeknya. Melihat hal itu, Felix mulai menundukkan kepalanya lebih dalam.
"Itulah kesalahan terbesarmu, Felix. Seperti saat kau yakin bahwa tak ada kelompok lain di balik orang-orang yang menghalangi itu, apa kau bisa juga dengan yakin memastikan bahwa informasi yang kau dapatkan itu sepenuhnya benar?" ujar Rafka dengan nada rendah yang mencekam.
Hawa dingin di ruangan itu seperti mencekik Felix. Ia merasa lebih sulit bernapas daripada biasanya. Terlebih detak jantungnya masih belum kembali normal sejak ia memasuki ruangan ini. Untuk seseorang yang sudah terjun banyak ke dalam hal-hal kotor, ia sudah banyak menemui berbagai macam orang. Hanya saja, Rafka berada di tingkatan yang berbeda dari yang pernah Felix temui. Ia tidak bisa menahan rasa takut dan merindingnya setiap kali memiliki urusan serius dengan pria ini.
Felix tersentak oleh pertanyaan itu. Ia dengan cepat mengangguk sigap. "Kami akan berusaha dengan baik, Tuan."
Rafka tidak mempedulikan hal lain lagi. Ia kembali mengangkat dokumen laporannya dan membiarkan Felix pergi dari ruangan.
Hanya beberapa menit saja ia bertahan dengan dokumen itu. Rafka meletakkan pekerjaannya dan mulai memijit pangkal hidungnya. Ia menghela napas perlahan dan melirik buku dongeng anak-anak di atas meja, lalu menatap robekan foto yang tadi diberikan Felix.
Rafka sangat membenci situasi dimana ia tak bisa fokus dalam melakukan sesuatu. Akan tetapi, Konsentrasinya yang tak mudah terguncang itu sudah beberapa kali rusak setiap kali berhubungan dengan satu orang.
__ADS_1
"Dua puluh tahun. Sudah dua puluh tahun," gumam Rafka sebelum ia menggeleng pelan. "Tidak. Baru dua puluh tahun. Bahkan jika membutuhkan waktu seratus tahun sekalipun, aku akan selalu berusaha menemukanmu."
Rafka menyentuh buku dongeng anak di mejanya. Ingin rasanya ia merobek buku itu juga. Rasa sakit dan sesak yang diperolehnya tiap kali melihat buku ini membuatnya geram. Tetapi ia tak akan sanggup melakukan itu. Rafka tak akan menghancurkan hal terakhir yang ditinggalkan oleh wanita itu.
Wanita yang mampu memberinya perasaan asing menyenangkan, sekaligus meninggalkannya dengan cara yang paling menyakitkan.
"Semua orang mengatakan kalau aku adalah orang yang kejam. Lucu sekali. Mereka bahkan tak pernah mengetahui tentang dirimu yang jauh lebih kejam melalui semua perbuatan yang telah kau lakukan," gumam Rafka sambil menyandarkan punggungnya di kursi.
Terbayang olehnya senyum manis dari bibir wanita itu.
Tangisannya...
Ketenangannya...
Rafka dilanda perasaan asing. Meski sudah bertahun-tahun merasakan perasaan yang sama, Rafka masih belum juga terbiasa. Perasaan hampa, kesal, dan amarah bercampur. Membentuk satu rasa yang menyiksa.
"Aku hanya ingin melihatmu." Rafka kembali memijit kepalanya." Berharap saja remaja itu tak ada hubungannya denganmu atau dia. Dengan begitu, aku tak perlu repot-repot menghabisinya seperti yang sudah-sudah."
Foto tadi sudah memperburuk suasana hatinya. Foto itu terfokus pada seorang remaja laki-laki dan juga seorang wanita dengan pita pengikat rambut berwarna biru gelap. Wajah wanita itu tidak terlihat karena posisinya yang membelakangi. Akan tetapi, wajah remaja laki-laki itu terlihat cukup jelas.
Wajah yang mengingatkannya pada orang paling dibenci yang telah tewas di tangannya sepuluh tahun lalu. Kebencian Rafka begitu besar, sehingga walau orang yang dimaksud itu sudah meregang nyawa tepat di hadapannya, ia masih tak bisa melupakan perasaan yang sudah mengakar di hatinya itu.
__ADS_1
"Aku ingin membunuhmu lagi, dasar pria sialan. Walau remaja itu dikemudian hari ternyata tidak membawaku pada wanitaku nanti, aku akan tetap mengeksekusinya sebab ia memiliki banyak persamaan dengan dirimu. Salahkan saja takdirnya yang malang karena memiliki kesamaan itu."
Rafka mengepalkan tangannya kuat. Mata hazelnya seakan membara oleh sebuah tekad.